From Bandung for the World ( Karena Bandung itu sesuatu sekali buat saya juga :) )


Bandung tidak memiliki sumber daya alam dan energi. Yang dimiliki hanya sumber daya manusia. Karena itu, Pemerintah Kota Bandung mendorong tumbuhnya industri kreatif, seperti fashion, kuliner, dan desain. Untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang nyaman untuk berbisnis, Walikota Ridwan Kamil membuat terobosan dengan mendesentralisasikan perizinan ke kecamatan dan kelurahan. Apa saja terobosan yang dilakukan Walikota Ridwan Kamil? Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menuturkannya kepada Dadi A. Salim dari SWA Online:

Ridwan Kamil, Walikota Bandung

Apa yang menjadi keunggulan Bandung?

Wisatawan yang datang ke Bandung ada 6 juta orang per tahun. Jadi, kalau orang membelanjakan uang sejuta saja untuk menginap semalam, makan, beli oleh-oleh itu sudah Rp 6 triliun perputaran uangnya per tahun. Oleh karena itu, servis terhadap usaha sedang kami upgrade, salah satunya adalah pelayanan perizinan kami termasuk yang terbaik dari sisi pelayanan. Yang mengukur itu dari Ombudsman, jadi sudah 2 tahun berturut-turut badan perizinan kami rapornya hijau.

Apa saja potensi yang dimiliki Bandung? Sebesar apa potensinya?

Bandung ini persis kaya Singapura, tidak punya sumber daya alam, tidak punya sumber daya energi juga. Bandung cuma punya sumber daya manusia, Jadi, bisnis di Bandung adalah bisnis ekonomi kreatif seperti fashion, kuliner, desain, tapi bukan industri-industri yang berskala besar seperti Bekasi dan Tangerang. Bandung juga bukan kota jasa keuangan, karena sudah diambil Jakarta, jadi Bandung lebih ke ekonomi kreatif.

Apa saja peluang bisnis yang tersedia di Bandung?

Karena visinya ekonomi kreatif jadi contohnya dengan Telkom kami ada digital valley. Start up-start up dikumpulkan kemudian dilatih oleh Telkom untuk siap jadi enterpreuner. Kami juga nyiapin Bandung Teknopolis, jadi orang butuh buka kantor di mana tempat barunya sudah kami siapkan.

Kami juga lagi nyiapin kreatif hub, ini lagi digambar, di mana orang bisa pameran produknya di situ. Bisa ada kelas antara enterpruener yang sukses kepada yang masih baru, kemudian ada juga ruang kantor yang selama 6 bulan gratis untuk start up. Kalau dia berhasil dia sewa atau pindah, kalau tidak berhasil ya diganti dengan yang baru. Ini bagian mengupayakan supaya memotivasi agar yang namanya anak-anak muda ini terjun ke entrepreneurship di usia yang muda dengan dibantu infrastrukturnya oleh pemerintah.

Bagaimana melakukan manajemen kota sehingga menjadi kota yang business friendly?

Untuk manajemen kota ini sekarang saya memberikan strategi namanya desentralisasi. Kalau dulu semua urusan lebih banyak oleh dinas, sekarang urusan-urusan saya sebarkan ke camat dan lurah. Jadi lurah dan camat kaya wali kota, duitnya banyak, anggarannya ada untuk bisa melakukan tindakan-tindakan, kewenangan diperbesar. Enggak bakal beres kalau urusan rutin kayak sampah, ketertiban, dan keindahan harus nunggu Dinas Taman, PD Kebersihan, atau Satpol PP, kerena jumlah mereka terbatas. Jadi, dengan anggaran 3 sampai 4 kali lipat mereka (camat dan lurah) bisa mengelola wilayah sendiri. Jadi saya lagi eksperimen itu, kalau berhasil insya Allah bisa jadi percontohan. Jadi bagaimana desentralisasi itu harus bisa sampai ke level lurah.

Ridwan Kamil2

Apa saja kebijakan kebijakan yang dilakukan yang pro bisnis dan terkait dengan potensi daerahnya?

Jadi bagaimana kebijakan-kebijakan yang pro bisnis, perizinan dipersingkat waktunya. Sistem proyek di Bandung sekarang pake online, jadi tidak ada lagi peluang buat kongkalikong, menghindari pertemuan manusia dengan manusia. Pengurusan perizinan di level kecamatan juga online, sehingga bisa dimonitor. Kami juga ada forum evaluasi camat online. Jadi, di Bandung ini sekarang kalau mau macem-macem ada form online untuk meelaporkan. Ini bisa diakses oleh semua warga. Jadi kalau macem-macem bisa saya marahin, karena datanya ada. Warga bisa menghubungi ke 1708.

Ini membantu Bandung jadi pro bisnis agar selain fasilitas-fasilitas, regulasi-regulasi, juga monitoring performa pelayanan publik dan bisnis bisa langsung dilaporkan ke saya sebagai wali kota.

Apa saja terobosan yang dilakukan untuk menciptakan iklim bisnis yang kondusif terkait dengan perizinan, insentif, dan dorongan yang memudahkan orang membangun dan menjalankan bisnis?

Akhir bulan, fashion Bandung akan saya bawa ke Malaysia. Jadi bikin kaya kick fest di Malaysia. Sehingga kita jualan di negeri orang membawa konsep Bandung. Kami juga lagi nyiapin yang namanya Bandung Store. Bandung Store ini kami buka toko di negara-negara sahabat tapi produk-produknya the best of Bandung. Jadi, enggak hanya orang menunggu orang datang dan beli ke Bandung, tapi produk Bandung kita buka di luar sambil saya mempromosikan pariwisata sambil jualan. Yang sudah saya jajaki itu ada di Singapura, Kualalumpur, dan di Afrika karena ada orang Afrika yang tertarik dengan produk-produk Bandung dan dia mau nyiapin tempatnya kami tinggal bawa barangnya.

Kemudian kuliner, di Bandung itu ada culinary night. Kegiatan itu dimulai di Braga dulu, tapi tidak hanya di Braga saja. Di Bandung itu ada 30 kecamatan, jadi saya wajibkan setiap kecamatan ada culinary night. Setiap 2 minggu saya adakan kegiatan culinary night untuk setiap kecamatan. Culinary night ini secara ekonomi membangkitkan ekonomi lokal, karena orang yang jualannya dari warga-warga seputaran daerah itu. Kedua kegiatan ini mengurangi kemacetan karena orang di malam Minggu tidak perlu jauh-jauh ke tengah kota karena ada keramaian di daerahnya. ketiga meningkatkan indeks kebahagiaan, karena jadi bisa bertemu tetangga, bertemu teman, dan sebagainya.

Apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan infrastruktur seperti jalan, terminal, stasiun KA, airport, dan listrik?

Saya punya program tiga tahun. Jadi untuk tahun pertama ini sedang dalam tahap perencanaan. Untuk tahap pengerjaan akan dimulai tahun 2015 dan tahun 2016 baru tahap hasil perubahannya. kami dapat hibah Rp 150 miliar dari negara Belanda yang dikelola oleh PDAM untuk perbaikan dan peningkatan fasilitas dan jaringan air PDAM. Untuk proyek monorel dan cable car sedang dalam tahap pelelangan. Untuk monorel akan ada dua tipe, ada monorel provinsi dan monorel Kota Bandung. Kalau provinsi dia lintas kota, Bandung, Cimahi dan Sumedang. Kalau dalam kota untuk turis. Cable car rencananya untuk transportasi dari Ledeng sampai Lembang. Jadi orang tidak usah bawa kendaraan sampai Lembang, tingal parkir di Ledeng atau menggunakan bis lalu dilanjutkan dengan cable car. Trans Metro Bandung tetap akan dilanjutkan tapi jumlahnya masih belum sebanyak yang kami harapkan. Karena APBD Kota Bandung sangat terbatas jadi kalau urusan beli membeli harus dicicil saja.

Kami juga lagi mau bikin yang namanya Bandung sky walk. Jadi, kayak di Hong Kong, menghubungkan jembatan dari satu titik ke titik lain sehingga orang bisa jalan kaki tanpa ketemu dengan perempatan jalan.

Kami juga sedang persiapan pasar-pasar di Bandung kami renovasi habis-habisan. Ada 30 lokasi, yang sekarang sedang mau konstruksi ada pasar Cijerah, Sarijadi, Suci, Palasari, Sederhana, dan yang lainnya juga. Dalam 5 tahun kedepan, ingin kembali lagi sebagai pusat retail, jadi bukan hanya mal saja. Orang kan males ke pasar karena jorok dan kumuh. Sekarang saya akan buktikan bahwa pasar juga bisa seperti mal, itu hanya masalah mindset saja.

Bagaimana menjalin kolaborasi dengan kalangan bisnis/pengusaha? Apa contohnya?

Kalau kolaborasi dengan pengusaha ada banyak. Salah satunya adalah 100 penyapu jalan baru dengan sistem outsourcing, yang bayar itu pengusaha. Kami hanya terima manfaatnya aja. Jadi targetnya ada 1.000 penyapu jalan baru, saya minta suatu grup pengusaha dia sanggup 200, kemarin baru lounching 100. Jadi, kayak karyawannya pengusaha yang nyapuin kota Bandung.

Kedua, tahun ini ada dua SMP baru sumbangan pengusaha juga, tanahnya, bangunanya. Terus ada 10 Puskesmas. Terus kami ada sumbangan software buat kegiatan pemerintahan dari ITB. Jadi, taman-taman, alun-alun, semuanya oleh pihak ketiga. Jadi alhamdulilah, koloborasi dengan pengusaha ini win-win solution. Karena kuncinya ada di kepercayaan.

Kan saya bilang, saya enggak mau terima uang. Kalau mau ada sumbangan bentuknya sudah jadi saja. Jadi taman, jadi tenaga, jadi truk sampah, jadi bangunan. (***)

( sumber: http://swa.co.id/business-strategy/bandung-menuju-kota-ekonomi-kreatif )


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s