Ini Tentang Rasa


Jakarta, 20 Oktober 2014

4c3efd66-8656-4d2f-bb87-21420f676592

” Aku harap kita tidak akan bertemu lagi, bertemu lagi dalam hal seperti ini. Maksudku, semoga Tuhan meridhai kita untuk bisa lebih daripada sekarang, melangkah menuju restu sesungguhnya “

Lucu, jika membicarakan tentang rasa. Karena tidak ada tolak ukur yang pasti dalam menetapkannya ataupun satuan yang jelas yang berlaku secara umum.

Aku, hanyalah entitas biasa yang berasal dari planet antah berantah yang beruntung, bisa merasakan atmosfer yang ada. Ya, walaupun lapisan stratosfer & ionosfernya tebal. Aku berusaha untuk bisa menembus, entah hanya sebesar partikel atau skala mikroskopis lainnya yang bisa menembus bumi. Bukan ku tak tahu diri dengan keadaan, bukan ku juga harus menyerah pada keadaan.

Aku hanya mempertahankan tagline yang ada, “terus bermimpi mengejar bintang di angkasa”. Kata yang akhir-akhir ini pula yang ku anggap tabu. Karena bintang banyak jumlahnya, sehingga aku tak bisa memastikan. Mana bintang yang sesungguhnya.

Yupz, mengenalmu adalah sebuah anugerah terindah. Karunia yang luar biasa, Masya Allah. Seorang entitas tak jelas dari planet antah berantah berkenalan dengan penduduk bumi yang punya hegemoni tersendiri akan setiap hak preogratifnya.

Terkadang aku sadar diri, dengan keadaan sesungguhnya. Ini realita men, pahit manis mesti ditekankan dari awal. Karena konsekuensi itu adalah inherent risk yang tidak bisa dihindari. Iya, ini realita yang ada dan memang jarak kita terpisahkan oleh gravitasi dan ribuan mil kecepatan cahaya. Aku mencoba berdamai dengan realita, karena ini memang menyinggung rasa.

Perasaan yang memang indera yang sensitif dan perlu sebuah pembuktian nyata. Karena memang kasat mata, bukan berarti juga metafisika. Terima kasih telah mengisi hari-hari, terima kasih jua terus memotivasi. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi, bertemu lagi dalam hal seperti ini. Maksudku, semoga Tuhan meridhai kita untuk bisa lebih daripada sekarang, melangkah menuju restu sesungguhnya.

Mari kita raih, mimpi-mimpi kita. Mimpi membahagiakan orang tua, berjuang bersama dengan tujuan yg sama meski memang jalan kita berbeda. Beda cara, bukan berarti tidak bisa kita sinkronkan bersama. Karena, semua ada peran masing-masing yang berbeda. Aku, hanya mencintaimu karena Allah. Semoga niat baik kita nanti selalu dipermudah. Aamiin

Ombi Saputra,


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s