Tentang Diri


6023792_20150107105229

Hari ini, masih sama Seperti hari sebelumnya

Dimana detak waktu berjalan normal

dan malam masih tetap memberikan kehangatan tersendiri menyelimuti jiwa penuh harapan.

Wahai diri,

Aku merupakan makhluk Tuhan paling congkak di dunia. Lihat saja, dengan majunya teknologi aku autis akan orang di sekitar ku, aku mendengarkan musik seakan dunia milik sendiri karena asyik sendiri atau bahkan aku asyik saja main game, seakan semua ini adalah duniaku, bukan duniamu. Iya, duniamu

Masih di keadaan yang sama,

masih merasakan nafas dan nikmat sehat,

sebuah keadaan ideal yang memaksa diri untuk terus bersyukur atas apa saja nikmat yang sudah diamanahkan.

Hiruk pikuk tetap saja sama,

melihat orang lalu lalang di kereta lintas kota antas provinsi yang selalu setia menghantarkan ku ke titip awal tujuan hidup, eksistensi untuk hidup dan kehidupanku kelak.

Wahai diri,

Kegamangan akhir-akhir ini kurasakan

Apakah ini sebuah pertanda akan beberapa pertanyaan besar tentang hidup yang belum terjawabkan atas semua yang tersiratkan?

Tentu saja, ini tentang pilihan

Pilihan, tetap saja mesti kita hadapi setiap harinya. Memilih bangun lebih awal agar tidak terlambat, memilih jenis transportasi agar sampai ke tempat tujuan untuk mengadu nasib atau memilih untuk tetap dinamis agar menyesuaikan dengan keadaan zaman sehingga bisa survive dari derasnya arus hidup yang mesti dilalui.

Lagi-lagi, pilihan akan dengan siapa bersanding merupakan titik awal sebuah problematika yang menghasilkan kehidupan yang lebih baik kah kelak atau malah sebaliknya.

Memilih dan dipilih, merupakan rutinitas yang intens ada di pikiran. Entah saat fajar datang dengan senyumannya atau saat senja datang seakan menyuruh beristirahat dengan tenang.

Wahai diri,

Aku merupakan makhluk Tuhan paling congkak di dunia. Lihat saja, dengan majunya teknologi aku autis akan orang di sekitar ku, aku mendengarkan musik seakan dunia milik sendiri karena asyik sendiri atau bahkan aku asyik saja main game, seakan semua ini adalah duniaku, bukan duniamu. Iya, duniamu.

Semua ini kembali lagi tentang pilihan hidup, pilihan dan pilihan. Gundah gulana tentang Law of Attraction atau quantum ikhlas tentang siapa Partner kehidupanku kelak, pilihan apakah akan segera atau disegerakan.

Wahai diri,

Diri ini masih belum layak dipersandingkan. Jika saja sudah pantas, mungkin saja engkau sudah mempertemukan dengan pelabuhan yang tepat. Ini bukan akhir dari pencarian itu, ini baru awal.

Awal kisah untuk terus berbenah, menuju merenah. Awal kisah memperbaiki diri, untuk lebih menjadi baik, awal dari sebuah keikhlasan agar Engkau ikhlaskan siapapun untuk jadi pendamping kelak, awal dari masa depan yang penuh pilihan karena telah memilih.

Wahai diri,

Aku hanya berceloteh, seraya mencurahkan semua untuk esok.

Esok penuh warna, esok penuh ceria.

Maka, dekatkan, pantaskan dan eratkan semua dalam ukhuwah penuh berkah.

#sebuahrenungan #pilihan #tawadlu #tawakal


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s