Bima Rock City #Lembo Ade ( sebuah catatan singkat orang nyasar) #part1


” Percayalah, setiap kita bergerak. selalu ada saja orang lain yang siap menyambut setiap pergerakan kita ”

 

Albert Einstein pernah berkata bahwa Imajinasi lebih penting dari Ilmu pengetahuan, dan secara tak sengaja ungkapan tersebut terbukti validitasnya. Saat pertama kali mendapatkan SMS dari Bang Olan per tanggal 21 Agustus 2015, sekitar pukul jam 16:43 WIB , berasa mendapatkan SMS dari 3355 di Payday period hehe, maklum masih kuli sehingga masih disponsori oleh Perusahaan untuk melanjutkan dinamika hidup. Tahapan selanjutnya langsung berimajinasi dengan Google Maps untuk tahu lebih detail, paparammmmm dan menakjubkan sekali, karena hampir semua wilayahnya memiliki kontur gunung dengan plus cuaca terik dan sudah lama tidak disapa oleh hujan, sehingga panas meradang hehe (terbukti suara saya masih parau hingga sekarang) dengan cuaca berkisar di 33 – 35 derajat dengan kecepatan angin 19 kilometer/jam, cocok untuk jualan es serut atau es cendol.maps

( sumber : googlemaps)

 Tak pikir panjang, setelahnya langsung mencari tiket menuju Bima dan ternyata tidak ada penerbangan langsung dan itu bukan dari kekecewaan melainkan jalan-jalan yang tertunda karena sudah lama tidak single traveler seperti sebelumnya.

Singkat cerita, setelah mendapatkan tiket menuju Bima dari Jakarta dengan transit di Bali, kemudian perjalanan berlanjut ke Bandara Muhammad Salahuddin dengan cuaca yang bagus sekali, sehingga bisa menikmati gumpalan awan menari-nari hingga terlihat sebagian daratan atau lautan dari ketinggian 17.000 kaki. Penumpang sebelah saya adalah orang Bima asli dan beliau mengucapkan kata magic yang hamper diucapkan oleh orang-orang Bima, Masalembo adalah yang selalu teringat hehe. Ternyata salah, karena Masalembo nama film, yang benar adalah Lembo ade, satu kata berjuta makna dan ekspresi.

test1test( Pendaratan Pertama Trio Bogor di Bandara Muhammad Salahuddin)

Karena Kekepoan berlebih, ternyata didapatkanlah apa arti Lembo ade, ternyata dipakai  dalam beberapa peristiwa dan keadaan tertentu:

  • Bermakna sabar, ketika menghadapi musibah atau mendapatkan cobaan-cabaan baik berat mau ringan-ringan saja. (contoh ungkapan: lembo ade arie, cinae, ndede waupa morini..)
  • Bermakna Semangat, ketika ingin meraih cita-cita, seperti melanjutkan pendidikan lebih tinggi, mengejar/mengadu nasib supaya lebih baik. Contoh ungkapan: (kalemboku ade lau tana’o, lao ngupa karawi mane’si berhasil”)
  • Bermakna Doa, ada harapan keinginan sehingga akan kembali kepada sang Khalik (pencipta).

Tiba di Bima, benar saja. kita bertiga ( saya, Widi dan Nurlita disambut oleh Segerombolan orang tak dikenal hehe, dibilang segerombolan karena memang benar-benar dikelilingi orang-orang yang menawarkan jasa porter, ojek atau taksi.

Taksi, wow ! emejing sekali, kami tidak melihat taksi bertuliskan bluebi#d, ex#press atau taksi lainnya,  melainkan hanya kendaraan-kendaraan pribadi yang biasa kita sebut omprengan.

Tujuan kami adalah ke gedung Dispora kabupaten Bima, namun kami tak tahu arah pasti karena disarankan naik ojek, karena bisa menikmati pemandangan indah Bima versi mereka. Setelah perdebatan panjang, akhirnya apa yang kami pilih?

Ojek, taksi, kambing atau sapi? hehe, pilihannya kambing dan sapi karena banyak berkeliaran di pinggir jalan. Kami dijemput oleh pak Ramyaji untuk menuju Dispora, namun karena hari itu hari jumat, kita semua berangkat pada hari jumat.

Lembo Ade panitia, kita datang telat karena makan yang tertunda. Semenjak dari Bandara Ngurah Rai, kami hanya memakan roti saja. Roti itu bukan makanan pokok orang Indonesia, jadi tidak dianggap makan jika belum makan roti hehe, premis yang aneh.

Tiba di Dispora, kami disambut Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar yang kece-kece badai (tidak ada unsur paksaan disini untuk mengucapkan begitu, atau kemungkinan lainnya adalah lidahnya agak kelu sehingga salah berucap) hehe. setelah sambutan dari Kepala Dinas dan Sekretaris, Kami dipisahkan menjadi dua, untuk kecamatan Ambarawi dan Wera. Nurlita di Ambarawi, sedangkan saya dan Widi ke Wera.

Konvoy dilakukan dengan suka ria dengan jumlah mobil dua puluhan, dikawal oleh alphanesia dan kebetulan saya dan Widi ikut dengan orang ganteng se Bima, ketua apharian, Om Bre. Banyak ngobrol semua tentang Bima sambil menikmati udara pegunungan yang panas sehingga membuat suara saya parau dengan ending di Utara Bima yang memiliki pantai yang dikawal rapi oleh Gunung Sangiang Api selama 2 jam perjalanan tanpa macet, kecuali disebabkan oleh sapi dan kambing.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s