Rindu, Bukan Sekadar Ingin Mengenang tapi Ingin Terus Memulainya Kembali


hallo Gunung Sangiang Api

Rindu, bukan sekedar ingin mengenang tapi Ingin terus Memulainya kembali

….

Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
Di atas sini, melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu

Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

( Resah- Payung Teduh)

….

Tahukah kawan, efek kejiwaan dari setiap kegiatan yang melibatkan anak-anak adalah rasa ketagihan untuk merasakan profesi terkeren di dunia ini, menjadi guru, meskipun tidak lama bahkan mendarah daging, iya hanya sebentar saja tapi sudah kecanduan semuanya.

Rindu,  Bukanlah sekedar kata yang mudah untuk diucapkan melainkan sebuah perasaan untuk kembali ke keadaan yang pernah dialami bahkan berekspektasi lebih daripada sebelumnya. Hingga saat menatap saja bisa langsung kembali ke dimensi sebelumnya. Apalagi klo memang benar-benar terjadi, sepertinya hanya ingin meminta waktu untuk dihentikan sementara, menikmati saat-saat terindah, melihat senyum-senyum terbaik tampil ke permukaan hingga waktu yang tak bisa ditentukan akhirnya. Hellow, itu hanya generalisasi keadaan yang memang tak mungkin bisa kita lakukan hehe, tapi setidaknya bisa menggambarkan bahwa momen keren itu sudah pernah terlewati.

Setiap orang yang pernah merasakan masa-masa indah itu, seakan kembali ke nostalgia dengan segudang cerita yang ada. Bahkan hingga meneteskan air mata, pertanda haru karena momen itu sudah terlewati karena jalan ceritanya memang benar-benar berkelok atau kita hanya tersenyum membayangkan kita pernah ada pada masa-masa gila dalam hidup, gila disini dalam konteks positif, atau mungkin saja juga dalam hal negatif, ya karena setiap orang punya gambaran yang berbeda, seperti perspektif yang tak akan pernah sama, karena bisa jadi sudut pandangnya berbeda. Gak ada masalah kok, jadi tak usah dijadikan perdebatan bahkan bisa sampe pengadilan karena selisih paham hehe

Bayangkan saja, kita tak pernah merasakan sedikitpun rasa menyerah ketika kita kecil, semua hal kita hadapi biasa saja, ketemu pejabat, ketemu sahabat, ketemu teknokrat, ketemu suku Asmat hingga diplomat, kita tetap tanpa cela untuk menghadapi mereka. Beneran !!

Coba kita lihat kita sekarang, ketemu teman berbeda dengan ketemu mantan, ketemu rekan beda dengan ketemu cem-ceman, ketemu orang tua beda dengan ketemu calon mertua, atau ketemu guru berbeda dengan ketemu kamu, iya kamu hehe. Karena kita sering melibatkan perasaan, sehingga istilah baper semakin terkenal seiring semua perasaan yang kita libatkan dalam semua momen yang memang kita lalui dan benar-benar rasakan.

Seiring berjalannya waktu yang selaras dengan pesatnya teknologi, hal-hal zaman sekarang lebih terdokumentasikan dengan baik dibandingkan masa lalu yang hanya bisa kita klisekan sehingga pengaruh cuaca dan air bisa mempengaruhi daya tahan dari dokumentasi yang kita ingin kembali masuk ke lorong waktu. Video, bisa merewind untuk melihat momen-momen gila, sakit gila, kita gila, temen gila, orang lain gila sehingga virus gila bisa ada dalam satu frame dengan syarat jika digabungkan dengan satu kesatuan, jika tidak pun masih bisa di split kemudian kita jadikan transisi sebagai pelengkap dari screen tuning yang sedang kita putar. Kerennya dunia zaman sekarang, tapi masa lalu tetap saja tidak hanya sekedar foto dan video, melainkan sebuah perjalanan yang mengantarkan kita ke posisi kita sebenarnya sekarang.

Rindu, bisa terjadi karena keresahan kita. Analisisnya begini, jika kita membandingkan suatu hal zaman sekarang dengan zaman dahulu ( bukan zaman prasejarah ataupun zaman batu, zaman perunggu atau zaman ubuntu, zaman kerajaan atau zaman playstationan), kita tetap saja membayangkan semuanya dengan kondisi ideal Dimana semuanya berada. Titik benchmark atau bisa kita sebut titik keseimbangan, bila ada simpangan baik ke kiri atau ke kanan, kita anggap itu semuanya tidak sesuai karena deviasi tidak diinginkan, bisa jadi menular karena orang Jepang tidak tolerir dengan simpangan ini.

Rindu itu,

Masa ketika kita Menyanyi-nyanyi,

” duduk senang, berdiri senang, berputar-putar mencari teman, berputar-putar berkeliling, sambil mencari teman”

Berasa sekolah TK aja# kayaknya emang Gk pernah TK deh hehe. Jadi anggap saja pernah TK, bukan sebagai pencitraan tapi biar meyakinkan bahwa pernah TK padahal sih emang gk pernah hehe

Rindu itu,

Ketika bermain bola hingga adzan maghrib jadi waktu terakhirnya atau waktu ketika orang tua kita datang ke lapangan, karena mesti mengaji,Rindu itu ketika adzan maghrib televisi dimatikan dan disuruh ke mushola, rindu itu ketika disuruh adzan maghrib menjadi alasan lain untuk dihindari dan menjadi sesuatu yang angker untuk didekati, rindu itu ketika bermain layang-layang diadu, kemudian yang kalah layangan nya dijadikan perebutan hingga berlari sekencang-kencangnya hingga hilang ingatan #eh, rindu itu ketika mencari ikan di sawah dari pulang sekolah hingga tak ditentukan, rindu itu ketika kotoran kerbau dan sapi diadu dengan tangan kosong, kemudian berlari hingga pulang, rindu itu ketika mencari burung dan mencari belut kemudian yang didapat adalah sarang ular hingga ular sawah, rindu itu ketika berenang di kali sambil mengambil molusca hingga dijual dan siput menjadi protein berharga, rindu itu ketika memainkan ketapel hingga menjadikannya sebagai senjata dalam menembak pohon kecapi yang sudah masak, dan rindu itu adalah akumulasi hal-hal yang sekarang kita tidak lakukan bersama sobat-sobat kecil kita, mungkin bisa karena berbeda wilayah sekarang mereka berada hingga mereka teman setia kita yang sudah tiada (alfatihah).

Rindu itu mahal kawan,

Tidak bisa diukur dengan satuan International, tidak bisa diukur dengan waktu, tidak bisa diukur dengan satuan moneter, hanya bisa diukur dengan perenungan sejenak tentang masa lalu.

Dan rindu itu,Tak kan pernah terulang hingga kesempatan kesekian kali. Rindu itu bukan kampung halaman yang kita diami sehingga kita tidak bisa move on dari semua keindahannya, rindu itu kamu. Sesuatu yang aku Harus kejar dan sempurnakan, sesuatu yang bukan lagi menjadi bilangan prima yang berbeda dengan himpunan bilangan lainnya, rindu itu bukan tumbukan sempurna ataupun tumbukan lenting tidak sempurna, tapi rindu itu ingin kita buat cerita berbeda dan kita mulai kembali.

Karena aku, rindu kalian semua

Orang-orang istimewa di setiap perjalanan indah hidup ku.

Rindu itu Seperti jodoh, kita tidak tau kapan saatnya tiba

Rindu itu seperti lensa, yang kita bisa mainkan fokus dan sedikit diafragma,

Rindu itu seperti layang-layang, biarkan ia bebas untuk menyapa

Rindu itu seperti roller coaster, terus melaju tak pandang bulu

Rindu itu,

Satuan jiwa untuk berkontemplasi menjalani setiap jengkal hidup selanjutnya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s