Bahkan Mie Instan, tak secepat yang kita kira



Pagi selalu menawarkan keindahan, karena baiknya Tuhan akan setiap nikmat terbaiknya, nikmat sehat, nikmat panjang umur, nikmat keteguhan hati dan masih berfungsi semua organ dan semesta pada rotasi, revolusi dan perannya masing-masing tanpa kontra prestasi.
Sendi-sendi berjalan sendiri dengan Jobdesc masing-masing, tanpa perlu menunjukkan keistimewaan masing-masing. Alis-alis masih setia untuk menuruti-NYA sehingga tidak pernah panjang sampai kapanpun, begitu juga gigi-gigi kita dengan presisi terbaik, diciptakan dengan desain terbaik hingga pada universitas tertentu dibuatkan fakultas khusus, karena saking luar biasanya ciptaan-NYA. Sehingga dengan semua kontemplasi yang ada, kita hanya perlu memikir ulang, ” dan Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan ? “, seraya seruan lirih adzan sebagai reminder waktu pengingat kita.
Kita ada di posisi sekarang, dimanapun kita berada adalah pencapaian kita yang maksimal dengan segala profesi yang digeluti. Tak perlu iri dengan kesuksesan orang lain, cukup bersyukur dengan segala nikmat terbaik-NYA. Karena hasil terbaik itu berawal dari proses yang maksimal, tidak akan pernah mengkhianati melainkan selalu mendukung.
Seperti kita merindukan masa-masa emas kita di masa kecil, yakinilah semuanya akan berlalu seiring bijaknya waktu dan sekuat apa kita ingin mewujudkannya, atau bahkan hanya ingin bisa melewatinya karena terlalu melebihi ekspektasi dari keadaan sebenarnya.
Wahai diri,

Ingatlah dan ingat terus pada proses, bukan hasil akhir. Karena instan itu hanya sebuah fatamorgana dari hal semu. Ingatkah kita ketika mendengar kata mie instan? Apakah ia langsung bisa dikonsumsi? Bagi yang pernah Sekolah di kampung mungkin bisa saja bisa memakannya langsung, untuk pencinta mie mungkin tidak. Tetap perlu proses untuk menyajikannya hingga matang dan siap santap.
Contoh lainnya adalah, tahukah engkau bahwa penyanyi hasil audisi instan akan cepat populer namun cepat pula menghilang dari permukaan secara kilat? Karena pencapaian terbaik tetap saja perlu proses maksimal, hingga hasilnya optimal.
Jadi tetap mau instan?

Tanpa berucap dengan lisan,

Tetap berusaha konstan,

Dengan hal yang simultan,

Hingga memaksimalkan dengan berjuang secara militan.
Jadi tetap mau instan?

Dengan konsekuensi ingin dipuji,

Kadang menghardik jika dicaci,

Padahal itu adalah proses pemantapan diri

Saat kita diuji,

Saat semua hal datang menghampiri,

Bukankah itu awal dari proses dengan kebiri,

Menuju kita yang mandiri?
Jadi tetap mau instan,

Tak perlu proses,

Hanya karena banyak akses,

Bahkan malah punya ekses,

Ingin cepat sukses,

Yang ada malah stress.
Teguhkan hati kami Illahi,

Dalam menggapai Ridha dan Hidayah-Mu

Tak banyak yang kami pinta,

Hanya ingin tetap berbuat untuk negeri


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s