Sakit Gila Nomor Tiga: Fanatisme Berlebih


Tiba-tiba jantung berdetak kencang seperti benderang mau perang, tengah malam dan saat semuanya hening karena memang sudah tertidur lelap, menikmati kasur rumah yang memang menjadi tempat terbaik untuk istirahat dari jeda beberapa minggu tidak dikunjungi hingga tersadarkan, ini dalam keadaan terbangun dari tidur. Sehingga pantas saja selalu ada kerinduan tersendiri, berasa di luxury hotel berbintang Kejora ataupun tempat termewah di dunia, itulah mengapa kadang rumah dibilang, albaiti Jannati, rumahku surgaku, karena memang banyak “surga” tersedia di sini, terutama senyum-senyum hangat orang-orang terbaik dalam hidup kita, ayah dan ibu serta adik tercinta beserta kenangan-kenangan indah dan buruk yang menjadi satu, melebur hingga menampilkan nostalgia.

Berbicara tentang rumah, yang kebetulan berlokasi di Buitenzorg, sebuah kawasan terpadu, kota satelit yang mulai terkena efek megapolitan lainnya, kemacetan, polusi udara, kesempitan dalam mencari lapangan kerja dan problematika sosial lainnya, terkadang menimbulkan kegetiran tersendiri. Karena gap penghasilan antara penduduk bervariasi sebarannya, sehingga ada yang terlihat jomplang, bahkan kadang curam dalam pandangan ekonomi. Ya sudahlah, terlalu berat jika melihat sudut pandang agregatif hehe
Karena itu semua hanya sebagai bagian dari kontemplasi hidup, mengarungi dinamika menuju #samawa2016. Insha Allah, aamiin.

Beruntung sekali sebenarnya, sebagai buruh migran, di Kostan tidak ada televisi. Sehingga saat pulanglah, waktu yang tepat untuk menonton TV. Bukan apa dan kenapa, melainkan tidak tertarik saja jika hanya melihat tayangan-tayangan kurang bermutu jadi  rating terbaik, untungnya momen libur selalu ada tayangkan favorit, macam Masalembo (sekarang sudah tamat), tayangan sepakbola, Dragon Ball, detektif Conan, acara-acara berbasis budaya dan jalan-jalan ala Net TV dan berita di TVRI, yang merupakan CNN versi Indonesia, karena netralitas, independensi dan jangkauan seluruh nusantara di tengah TV swasta lain yang kadang menggiring opini tertentu, sehingga condong mengunggulkan atau menjelekkan pihak tertentu, baik pemerintahan ataupun partai tertentu.

Ah tibalah pada Premis kita, sakit gila ketiga dari seri sebelumnya. Kenapa mesti sakit gila lagi? Kita gila? Kamu gila? Atau kamu dan aku, jadi tergila-gila oleh cinta #eaa, bisa jadi, bisa jadi hehe
Biarkan ia bersemi dengan Yoga, loh kok Yoga? Bukannya dengan Mas Bas atau bersemi bersama bunga matahari? Ah sudahlah, sudah mengarah ke arah ngaco sepertinya hehe.

Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, fanatisme berarti:

KBBI

fa·na·tis·me n keyakinan (kepercayaan) yg terlalu kuat thd ajaran (politik, agama, dsb)


Tesaurus
fanatisme n asabiyah, kefanatikan, keyakinan, keteguhan, ortodoksi, tradisionalisme 

Sehingga dari kepercayaan yang kuat, timbullah ego yang tinggi dan menimbulkan gesekan-gesekan, jika gesekan perasaan mungkin bisa dibenarkan, apalagi dengan mantan atau calon gebetan, tapi jika bergesekan antara suku, pendukung partai, pendukung Presiden atau bahkan pendukung bola, bisa celaka 13. Mengapa?
Akar dari semuanya bisa menyebabkan perpecahan dan disintegrasi bangsa secara luas. Naidzubillah, Semoga tidak terjadi demikian karena Bhinneka tinggal Ika, cita-cita pendiri bangsa kita, merupakan semboyan yang bukan hanya simbolik saja, tapi lebih dari itu semacam ruh penyatuan, agar tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sakit gila nomor tiga, fanatisme berlebih bukanlah sebuah model untuk mengukur efektivitas Pemerintah dalam menjalankan pemerintahan, melainkan hanya sebuah pendapat dalam pikiran sempit seorang Ndeso dan Katrok macam saya yang terbagi menjadi beberapa hal. Berikut ini adalah bentuknya:

1. Fanatisme Pendukung klub sepakbola ;
2. Fanatisme Pendukung Calon Presiden ;
3. Fanatisme Orang Jatuh Cinta
4. Fanatisme orang beragama

Here we are:

1. Fanatisme pendukung klub sepakbola

Bukan rahasia umum lagi, jika mendukung klub sepakbola tertentu bisa menjadi dan melebihi fanatisme terhadap Agama, sehingga malah fanatisme ini seperti dijadikan agama, sehingga sendi-sendi kehidupan telah mendarah-daging dengan sepakbola ataupun klub lain, semisal basket, rugby, baseball bahkan klub penggemar rahasia (mungkin) hehe
Fanatisme ini semacam sifat kedaerahan akan setiap dukungan yang ada, semisal saya tinggal di Bogor mendukung Persikabo dan Persib, teman-teman di Papua sana pendukung Persipura, pindah ke Malang bertemu pendukung Arema, pindah ke Medan ada Pendukung PSMS, mampir ke Palembang bertemu Sriwijaya FC dan melipir ke Kutai bertemu Mitra Kukar dan lain sebagainya. Lumrah dan wajar, karena sebagai sebuah dukungan moral, merupakan kewajiban warga daerah tersebut untuk mendukung klub favorit bahkan sebagai pendukung AC Milan, saya tak segan menjadi bulan-bulanan, karena memang sedang jelek saja milannya, namun dengan kekuatan bulan aku akan membalasmu hehe.
Fanatisme ini berujung pada merasa daerah sendiri menjadi superior dan efeknya adalah anarkis, perang suporter, blokade plat kendaraan daerah, sweeping KTP tertentu hingga spanduk-spanduk penolakan tertentu yang bisa saja mengakar dalam kebencian dan akhirnya, seperti memperebutkan pepesan kosong, menang masuk penjara dan kalah masuk rumah sakit.

Please lah ya, kita itu tak dapet untung atau rugi, jika memang bandar judi sih bisa jadi, dalam mendukung klub favorit kita. Tapi ingat, ada nyawa yang terbayarkan ketika fanatisme kampungan itu tumbuh, ada air mata ketika laga rusuh, ada cerita kelam dalam tragedi tertentu, sehingga industrialisasi sepakbola adalah sebuah ketidakmungkinan jika hal ini masih terjadi. Bukankah kita merindukan nonton pertunjukan sepakbola yang indah di lapangan seperti di Eropa sana, Dimana derbi London, Manchester ataupun derby Della Madonina terjadi, namun semuanya fun-fun saja, tanpa rusuh.
Bukankah kita merindukan tim sepakbola kita tampil di piala dunia?
Wahai diri, perlu kita luruskan niat untuk merubah bagaimana pola pikir kita. Fanatis boleh, Rusuh jangan. Oke?
Dewasalah, cukuplah mafia yang merusak sepakbola kita, bukan pendukung setia. Karena kita rindu, kompetisi sepakbola di negeri ini bergulir kembali. Rindu kan?
Serindu kekasih hati di luar kota sana, si luar pulau bahkan di luar negeri, rindu untuk melamarnya bisa jadi hehe.

2. Fanatisme Pendukung Calon Presiden

Cyber war, perang tetangga, perang kata-kata, menjelekkan karakter Presiden tertentu dan lain sebagainya adalah bentuk sakit gila ini. Bagaimana tidak dulu saat pemilu, pasti banyak terjadi perdebatan. Perdebatan boleh saja, asal jangan Baper dan rusuh, sehingga antar tetangga, Sodara dan Baraya, bisa saling rukun, tentram, aman dan damai. Karena fanatisme berlebih juga penyebab overexpectation terhadap calon tertentu sehingga saat ia terpilih, siap-siap Baper karena Policy yang dibuat tidak sesuai dengan janji manis kampanye. Da kita mah apa atuh, cuman bisa di PhP-in pemimpin hehe
Karena janji tinggal janji, obral janji, obral suci dan obral panci. Tapi jangan pernah obral perasaan apalagi obral cinta, bahaya tau hehe.

3. Fanatisme Orang Jatuh Cinta

Seperti lagunya Sting, jatuh cinta berjuta rasanya #kayalagudangdut hehe
Adalah perasaan yang timbul akibat fanatisme berlebih akan jatuh cinta. Kenapa jatuh? Mestinya bangun cinta
Jatuh mah sakit atuh hehe
Apapun yang terjadi, hal ini adalah fitrah dari sang Maha Kuasa, dalam fitrah yang diberikan dalam bentuk cinta itu sendiri. Cinta yang halal dalam konteks ini, cinta yang sebenar-benarnya, bukan cinta yang berbahasa pemograman PHp, berkoding nafsu. Sehingga menimbulkan banyak masalah seperti sekarang ini, semisal aborsi, seks bebas, zina, hingga penggerebekan karena berbuat mesum di tempat umum       #naudzubillah
Cinta dalam konteks ini adalah bentuk taat, sehingga jika belum waktunya bersabarlah sambil memperbaiki diri hingga jodoh bertamu (untuk perempuan) atau dipertemukan (untuk laki-laki) hingga pertanyaan kapan nikah itu bisa terjawab dengan indah, sehingga para pemburu berita jengah dengan jawaban kita sendiri hehe
Para fakir asmara, fakir cinta, tuna asmara, jomblo, Single hingga sebutan unik lainnya.
Biarkan fanatisme itu tumbuh seiring dengan ilmu yang kita miliki, untuk bisa membedakan mana cinta mana nafsu, karena banyak orang dimabuk cinta sehingga kotoran kucing rasa Coklat atau rasa gula padahal siklamat hehe

4. Fanatisme dalam beragama

Tidaklah salah jika fanatisme itu kita gunakan untuk meningkatkan ketakwaan kita terhadap sang Rabb, nah namun konteks disini bukan membahas tentang itu. Melainkan segolongan orang tertentu, yang mengaku seagama, segolongan tapi mengkafirkan. Naudzubillah
Karena mengaku sudah mafhum sehingga dengan seenaknya saja membuat doktrin halal haram atau mengkafirkan saudaranya. Bukankah dakwah itu wajib, tapi bukan begitu caranya. Sehingga, jangankan merasa superior dalam hal ini, karena semuanya sudah ada tatacara masing-masing, perbedaan ulama itu rahmat, jadi jika berbeda jangan mengkafirkan, tapi semua jelas sudah berdasar pada fiqih masing-masing.

Jadi dari kesemuanya boleh fanatik, tapi tidak boleh berlebih. Karena efeknya tidak bagus, termasuk mendukung berlebih, mencintai berlebih, atau bahkan memasukkan garam berlebih. Karena nanti bakal keasinan. Cukuplah pada porsi dan proporsi masing-masing-masing.

Jangan sampai pihak-pihak tertentu yang tidak suka dengan bangsa ini damai bahagia karena negeri ini bisa diadu domba dengan fanatisme tersebut. Biarkan perbedaan itu berjalan sesuai dengan kaidahnya masing-masing, tidaklah perlu anarkis, sporadis, apatis hingga mencelis.

Tak ada yang mesti disalahkan, mari memulai hal kecil ini untuk perbaikan ke depannya. Sehingga kita bisa menjadi manusia kaffah dalam arti sebenarnya tanpa mencela, menghina atau menjatuhkan vonis terhadap yang lainnya.

Salam sakit gila,
Jangan sakit hati,

Simpan dia dalam doa,
Bukan dalam hati

Biarkan semua dikebiri,
Asalkan tetap bisa mandiri

Jangan pernah menyerah,
Karena yang menyerah saja gundah,
Apalagi hanya gelisah,
Tak berbuat tak terasah

Pejuang?
Hadapi !

NB:
Semoga tidak ada yang terluka dan tersakiti dengan tulisan ini, sehingga bisa menurunkan angka baper. Karena dibuat untuk introspeksi pribadi sekaligus introspeksi bersama. Nama, tempat, kejadian, tokoh, bisa jadi adalah Anda yang disamarkan atau pengalaman penulis sendiri.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s