Bermimpi setinggi langit, berdoa setinggi angkasa 


” MIMPI adalah kunci, untuk kita menaklukkan DUNIA “

( Giring Nidji)

Mungkin lagu Nidji di atas, tidak salah namun sangat tepat untuk orang kampung macam saya. Bukan tidak tahu diri, bukan tak sopan, bukan juga pasrah dengan keadaan. Karena semua memang berawal dari mimpi.  Sekolah di sekolah dasar di pedalaman Bogor, merupakan awal dari pembuktian mimpi itu. Tak ada Taman Kanak-kanak, pendidikan usia dini atau semacamnya merupakan awal dari suramnya pendidikan dasar di daerah pedalaman ini. Namun, apakah kami menyerah dengan keadaan? Tentu tidak, karena kami dididik untuk tidak menyerah dengan keadaan. Hari-hari dilalui dengan banyak bermain, belajar, sambil berdagang es mambo, gorengan hingga mencuci piring tukang bubur tetangga, adalah awal perjuangan dari mimpi itu. Menyerah? Tentu tidak, karena keterbatasan yang ada banyak melahirkan ide kreatif untuk tidak berpangku tangan melambaikan mimpi atau hanya sekedar berpangku tangan hingga mukjizat itu datang dengan sendirinya, tentu hal yang tidak mungkin.

Sempat gagal masuk SMP favorit, karena nilai ujian kurang beberapa angka koma, tak jadi masalah. Hari-hari mesti dilalui dengan jalan kaki, ikut tebengan mobil pasir atau nebeng mobil kainnya adalah gambaran akan susahnya transportasi ke sekolah. Dengan uang jajan ala kadarnya, semangat justru tidak seadanya karena masih berharap masa depan cerah. Tatkala menjadi kesedihan tersendiri, ketika hujan turun deras, saat yang lain dijemput orang tuanya, saya mesti berjalan kaki melintasi Pematang sawah yang luas dengan iringan gemuruh petir. Keadaan ini berlangsung hingga SMA. Sekolah Menengah Atas adalah momen terbaik untuk semua anak muda, katanya. Terbaik jika memang semua fasilitas tercukupi dengan baik, dari kendaraan, les, uang jajan hingga liburan yang sifatnya previlege. Bukan alasan lagi sebenarnya, karena tekad mesti tetap bulat. Kali ini sudah ada angkutan kota yang bisa dinaiki untuk sekolah. Karena sudah ada rute khusus sekolah ke rumah, meski dua kali naik angkot, kemudian mesti melewati Pematang sawah yang selalu menjadi saksi bisu dalam perwujudan mimpi.

Masih menyerah dengan keadaan? Tentu tidak, ganjarannya adalah dipertemukan dengan orang-orang dengan jiwa kompetitif sehingga bisa terus mewujudkan mimpi hingga bisa kuliah. Ini pencapaian mimpi sangat tinggi sekali sepertinya, hingga lulus sekolah menengah atas favorit di kabupaten Bogor.

Kenapa begitu tinggi? Kenapa ini pencapaian tertinggi?  Ayah hanya lulusan S3, bukan doktor, melainkan Sekolaj Dasar kelas tiga dan Ummi, hanya lulusan S1, bukan sarjana melainkan hanya tamat SD.

Bersyukur iya, menjalani hidup yang lebih baik, wajib hukumnya, karena orang kecil jika mimpinya masih kecil, justru tidak berubah. Belajar bermimpi besar, bermimpi setinggi langit, berdoa setinggi angkasa.  Beruntung dan bersyukur serta bersabar, adalah kombinasi yang tepat. Karena ternyata Tuhan begitu adil akan setiap keinginan makhluk-Nya kemudian dengan kesungguhan hati ditambah doa orang tua merupakan rumus ampuh untuk mewujudkan mimpi yang mustahil, karena banyak cercaan, hinaan, karena bermimpi terlalu tinggi, tapi tidak realistis secara keadaan. Jangan pernah hiraukan semua yang mencacimu, jadikan motivasi, energi berlebih serta doa untuk terus menjadi baik. Mimpi setinggi tanah, adalah mimpi sebagian orang desa yang hanya tinggal di remote area, sebuah harapan untuk hidup yang lebih baik.

Beruntung, karena doa disaat hujan dan melintasi sawah yang luas kemudian lampu mati, sehingga sepatu dan celana mesti diangkat terwujud. Kuliah, ahh itu hanya mimpi sebenarnya, tak ada dalam kamus orang kampung seperti saya, sebut saja si tak tahu diri, si keras kepala atau si kurus bodoh. Beruntung, punya orang tua yang terus mendoakan anaknya, beruntung punya teman-teman yang kompetitif, beruntung dengan lingkungan yang selalu menyesuaikan, beruntung dengan semua rencana indahnya. Meskipun cita-cita menjadi pilot, insinyur informatika atau insinyur kimia kandas seiring dengan menjadi lulusan ekonomi dari universitas negeri, sekarang malah jadi mahasiswa lagi di universitas ekonomi terbaik di Indonesia, mimpikah ini?
Berawal dari Cileungsi- Bogor, kemudian ke ibukota provinsi di Bandung, setelahnya ke ibukota negara di Jakarta kemudian bermimpi untuk bisa jadi ekonom handal di belahan kota dunia lainnya adalah doa yang sekarang diucapkan. Mengapa? Karena Jakarta adalah gerbang potensial menuju ke sana, banyak orang keren memulai mimpi dari Jakarta.

Ingin bisa mengangkat harkat dan derajat orang tua, menaikkan haji ke tanah suci. Itu cita-cita sederhananya.
Karena mimpi itu dinamis, semoga pencapaian mimpi ini terus berlanjut seiring dengan dinamika dunia saat ini.

Janganlah pernah berhenti untuk belajar dimanapun kita berasa, meski kita menang bisa saja berhenti Sekolah. Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mimpi yang tinggi itu adalah patokan hidup kita. Jangan pernah berhenti berdoa. Karena Tuhan hanya ingin kita untuk bersungguh-sungguh berdoa. Jangan pernah berhenti berbuat baik, karena berbuat baik kepada orang lain adalah berbuat baik untuk diri kita sendiri. Jangan pernah berhenti untuk terus bergerak, hingga nafas kita dicabut dan kita terbaring tak berdaya karena inilah akhir perjalanan hidup kita.

Europe, how are you? Bagaimana kabar Erasmus University, Cambridge, London School of Economics?

America, wait Me. Harvard masih rindang, Berkeley masih tetap keren?
Pejuang?

Hadapi !
” Jer Basuki mawa beya”


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s