Anomali, Pamali dan Li lainnya 


 
Udara di sekitaran Cileungsi sudah mulai terasa sesak, karena panas berkepanjangan hampir tujuh bulan tidak disambangi hujan. Sehingga panas menguras air tanah dan sama dengan daerah lain di Indonesia, kekeringan serta tanaman dan pepohonan mati tak berdaya karena tak kena air.

Berita di televisi masih dengan fenomena asap, demo buruh karena Peraturan Pengupahan, Perceraian artis hingga Kekalahan Chelsea dari Liverpool masih menyebar luar. Intrik-intrik Pemerintah dalam upaya pencitraan yang tiada akhir, pembagian kekuasaan yang semakin jelas terlihat, dominasi China dalam setiap proyek pemerintahan, dimulai dari Powerplant, kereta cepat, pinjaman BUMN dan lain sebagainya, hingga langsung terpikirkan tentang kata anomali, Pamali dan Li-lainnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI Anomali adalah ano·ma·li n 1 ketidaknormalan; penyimpangan dr normal; kelainan; 2 Ling penyimpangan atau kelainan, dipandang dr sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; 3 Tek penyimpangan dr keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (msl anomali waktu-lintas, anomali magnetik) sehingga berikut ini Anomai-anomali yang dimaksud dan dirasakan:

1. Saat Lampu Merah laju kendaraan terus kencang, lampu hijau malah berhenti. Terkadang malah saat lampu merah, banyak yang klakson untuk minta maju. Maaf, solusinya pembuatan SIM mesti diperketat untuk hal ini, janganlah ada sogok2an dalam membuatnya, agar merasakan bagaimana susahnya membuat SIM secara tes. Di dalam rangkaian tes membuat SIM ini, kita bisa belajar berlalu lintas dengan baik karena Ada soal-soal tentang rambu lalu lintas ;

2. Berhenti di rambu bertuliskan S coret dengan seenak hati ;

3. Yang salah yang galak, yang besar yang salah. Untuk kasus ini adalah saat kita menagih utang, karena lebih galak yang meminjam dan saat mobil disalahkan saat menyerempet motor padahal sudah jelas motor yang salah. Justru yang lebih parah, untuk kesalahan ini malah lebih didukung oleh pengendara lain, Dimana ironinya?

4. Retorika belaka, parkir gratis aslinya malah bayar ;

5. Orang miskin dilarang sakit, karena perlu rentetan birokrasi yang lama, sehingga perlu waktu lama untuk berobat ( yang ada jika pasien kritis, bisa meninggal) ;

6. Jika tak ada uang perkara tidak lancar, kalo ada uang perkara ces pleng lancar banget ;

7. Status sosial seseorang lebih dipandang dari hal nyata yang terlihat, tanpa melihat hal lain;

8. Profesi tertentu menjadi idaman, karena dianggap sebagai profesi keren misalkan Peenes. Padahal pedagang saja banyak yang lebih kaya dibanding profesi tersebut ( maaf) ;

9. Jika bersuku tertentu, karier dan masa depan terjamin tanpa melihat performa dan Skill ;

10. Dunia di atas segalanya dibanding akhirat, karena dianggap akan hidup selamanya ;

11. Moral dan etika  bukan dianggap utama lagi, karena mendewakan kecerdasan ;

12. Hal tertentu bisa melebihi fanatisme terhadap agama, semisal konvoy rusuh penggemar sepakbola, konvoy mengerikan saat kampanye, merasa raja jalanan dengan kendaraan tertentu ;

13. Pemimpin yang baik selalu dicari cela, pemimpin yang tidak layak malah dijadikan idola beneran, hingga fanatisme muncul hingga pemimpinnya bertindak bodoh pun tetap dipuja-puja ;

14. Demonstrasi mahasiswa dianggap rusuh, tanp melihat yang tidak rusuhnya ;

15. Serta banyak anomali lainnya di sekitar kita.  Memang tak ada orang yang menolak dengan perubahan, meskipun itu sulit. Perubahan bukan untuk tujuan menyengsarakan hingga menggadaikan negara, melainkan percaya pada masyarakat bahwa kita bisa jadi negeri superior.

Kita mungkin merindukan sosok Bung Karno yang tegas, sehingga bisa jadi negeri kelas atas. Kita rindu dengan sosok pemimpin Nabi Muhammad SAW yang mendunia. Kita juga rindu, untuk maju. Dimana produk-produk negeri sendiri lebih dihargai dan tenaga kerja kita menjadi tenaga kerja terbaik di dunia.
Semuanya, masih ada waktu Rubik berubah dengan keyakinan diri dan harapan dan asa yang masih terpatri. Ibu pertiwi menangis, jika melihat keadaan seperti sekarang.

Negeriku,

Kekasihku,

Tanah airku,

Jangan biarkan tawa ini menjadi tangisan sedih, melainkan menjadi tangisan haru karena kita jadi negara maju.
Menuju Bonus Demografi!!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s