Dalam Diam, kita berpikir 


Alhamdulillah, hujan sudah mengguyur Jakarta, sama seperti prediksi BMKG. Semoga menjadi pertanda baik untuk saudara-saudara kita yang masih terkena kabut asap ataupun saudara kita di Indonesia Timur sana yang dilanda kekeringan panjang sehingga akses akan air terbatas, seperti pada perjalanan ke Bima, September 2015 lalu, dengan sinar matahari yang menyinari full, pepohonan terkoyak tak berdaya, hingga ada yang berguguran sampai mengakhiri untuk tumbuh, alias tak tahan hidup hingga bertumbangan.

Keadaan yang tak jauh berbeda,seperti citra udara ataupun pemandangan dari kabin pesawat yang hanya menawarkan warna “Coklat gersang” pertanda kemarau panjang masih ada pada tanah    mbojo.
Terlepas dari problematika perubahan musim yang selalu membawa bencana, karena selalu menawarkan kepedihan di setiap rondenya:

1. Jika diterpa musim hujan, bersiaplah untuk menerima ganjaran menghadapi banjir berkepanjangan sehingga akses menuju pusat ekonomi di sekitaran Jakarta akan lumpuh, terlebih Jakarta menjadi daerah langganan yang tidak asing menjadi primadona banjir beserta daerah-daerah lain yang mengalami deforestasi, sehingga banjir bandang dan sejenisnya menerjang ;

2. Jika musim panas tiba, jutaan hektar tanah kekeringan, gagal panen, kekeringan hingga asap yang menyebar dan merusak tatanan yang ada karena kejahatan korporasi untuk meraih laba maksimal dengan upaya yang minimal.
Diam, tak berarti tak bersuara. Melainkan sebuah keadaan Dimana otak bisa terus simultan berpikir dan mengamati keadaan sekitar untuk bisa berbuat demi Tahapan selanjutnya.

Diam, bisa jadi sebuah tarikan nafas awal menuju tahapan pemikiran selanjutnya. Sebuah konsep tentang diri, baik berupa refleksi, kontemplasi, narasi hidup hingga blueprint hidup kita.
Diam, bukan berarti menanggalkan tangan atau langkah untuk tidak Bergerak. Diam itu, hening. Hening dari hiruk pikuk kenyataan hidup.
Diam itu, berpikir

Berpikir untuk tetap memikirkan cara terbaik dalam menentukan strategi hidup

Memikirkan fenomena yang ada hingga menjadi fraksi nyata salah satu bagian dari humaniora.

Diam itu, syahdu

Untuk terus bersyukur, ada untuk semua

Menuju rasionalisasi pikiran dan perbuatan menjadi aksi nyata.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s