Dimulai dari Nol Kilometer 


I’m Milanisti, how about you?

 

Ada hal menarik bila pulang ke rumah, sensasi yang tidak dirasakan dari tempat lain untuk mengejar mimpi. Karena disini adalah nol kilometer, tempat perancangan strategi terjitu untuk memulai langkah-langkah strategis ke depan. Baik tentang hal yan g berkaitan dengan Karir, studi hingga persiapan menikah (mohon doanya semoga lancar, aamiin)

Jika pulang ke rumah, bagaikan kalibrasi otak untuk langkah-langkah yang perlu ditata ke depan, karena selalu ada cerita menarik dari lintas generasi. Cerita-cerita tentang spirit perjuangan hidup, dimulai dari eyang buyut hingga bapak, dari zaman penjajahan hingga zaman pasca kemerdekaan. Selalu menarik, meskipun kadang bisa saja cerita itu berulang. Semacam reminder untuk bisa jadi diri lebih baik, terlebih menjadi lebih baik dari para leluhur yang luar biasa. Malu kali lah aku, jika dibawah mereka. Karena mereka tanpa sekolah, bisa menaklukkan samudera yang luas hingga menyebrang merantau hingga menjadi saudagar, entahlah itu yang masih dipertanyakan sekarang. Mengapa jiwa entrepreneur itu tidak melekat hehe, titik awal pertama yang dirasakan hingga mengecap diri ini gagal.

Karena sebenernya keturunan itu kuat, tapi tanda-tanda menjadi pedagang agak jauh. Ya sudahlah, tak usah dirisaukan. Seperti sebaran profesi pada kelas inspirasi, sebaran mencari rupiah juga tidak tak terbatas.

Ada cerita lain dibalik nol kilometer, yakni cerita tentang perjalanan. Sebuah hal menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, karena tidak akan statis. Pada setiap perjalanan tersebut, kita dipertemukan dengan orang yang berbeda hingga menjadikan pelajaran diri menjadi makhluk yang bermanfaat ataupun menuju paripurna.

Seperti cerita Indomie goreng pada malam ini, sungguh nikmat sekali disantap karena hujan membasahi pasar minggu dan sekenanya. Ditambah air hangat dan gorengan, bagai merefresh kebiasaan lama saat di bandung dulu, mengunjungi Warung bubur kacang Ijo sebagai penunjang lapar. Selalu nikmat memang, apapun setiap momen dengan syarat kita menerima dan meyakini bahwa yang kita punya dan rasakan sekaeang adalah episode terbaik kita.

Pada akhirnya,

Nol kilometer adalah berbicara tentang jarak memulai ke depan perjalanan panjang kita menapaki bumi, baik menyebrang lautan, menyelusuri daratan hingga menggoreskan awan sebagai bagian dari semua transformasi hidup yang ada. Kita tahu akan semua risiko yang nanti akan muncul, kita paham akan segala konsekuensi dari setiap langkah awal kita. Kalibrasi bukan berarti kita telah gagal dengan perjalanan sebelumnya, kalibrasi hanya momen evaluasi untuk bisa lebih jauh melangkah.
Pada akhirnya,

Lelah kita hanya akan menjadi sia-sia

Keringat kita akan menjadi sarang bakteri

Peluh kita hanya menjadi keluh

Lelap kita hanya sebagai pemanis tidur kita

Tatkala semua niat belum lurus, belum bisa berbuat untuk sesama hingga kesombongan menghampiri. Runtuh tak tersisa, hanya pepesan kosong belaka.
Dimulai dari nol kilometer,

Kita mulai melangkah

Dimulai dari langkah awal,

Strategi mesti diterapkan

Langkah selanjutnya

Adalah tahapan untuk menerima dan menelan semua konsekuensi dari nol kilometer
” kita mulai dari nol ya? “


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s