Kisah SD, Susah Diatur ( sekelumit cerita sekolah roboh)



SELAMAT HARI GURU,

UNTUK BAPAK DAN IBU GURU TERCINTA

Ada hal yang menarik tentang hari ini sebenarnya. Terutama tentang kisah-kisah lama yang memang layak untuk dijadikan memori Indah di otak kita. Otak kita dengan memori 2.5 Petabyte. Petabyte adalah ukuran yang telah ditetapkan sebagai salah satu unit/satuan memori pada perangkat keras.  1 Petabyte: 1024 terabyte : 1.048.576 gigabyte dst, merupakan karunia tersendiri untuk kita bisa memilah. Mana kisah yang perlu disave, mana pula yang perlu kita deleteuntuk masuk Trash kemudian menjadi kisah motivasi dan dorongan simultan untuk memulai hidup baru.

Jika boleh kembali ke 20 tahun lalu, mungkin saja kita mengenang semua kisah-kisah Indah kita, kisah manis hidup kita, kisah lara, kisah duka dan semua kisah apapun yang layak dijadikan pondasi dasar untuk menjadi pertimbangan kita dalam memulai atau mempertahankan semua pilihan-pilihan kita sekarang. Karena memang hanya bisa untuk dikenang saja, tidak bisa kembali meskipun sekaya apapun kita. Seyogyanya, memang waktu adalah makhluk Tuhan yang paling bijaksana dalam semua pembuktian.

Berbicara tentang hari Guru, yang biasa diperingati setiap tanggal 25 November setiap tahunnya adalah kisah balik itu, kisah bak lorong waktu mengingat semua kebodohan-kebodohan masa lalu yang memang menggelitik jika kita merecall sekarang. Ah, itulah mungkin yang dibilang hidup bahagia. Tak perlu banyak harta, cukup menikmati semua momen terindah untuk dikenang.

Juni 1995, adalah catatan awal sejarah itu dimulai. Hari itu hari pertama untuk memulai kisah Indah di sekolah, bukan kisah klasik, melainkan kisah asik di sekolah. Seperti anak-anak lainnya, hari itu adalah hari Perdana memulai babak baru untuk melanjutkan semua impian-impian yang hanya bisa dilihat di televisi. Karena harga televisinya waktu itu memang mahal juga sih, jadi memimpikan sesuatu yang besar pun akan menjadi kisah mahal.

Menikmati masa-masa penuh kegelapan seperti zaman jahiliyah di pedalaman kota Hujan, adalah masa-masa seru. Karena memang tidak ada pilihan, akses ke kota kecamatan adalah liburan mewah karena perlu melintasi sungai, lembah dan akhirnya bisa menepi dan perlu waktu beberapa jam. Tidak ada alternative transportasi terbaik seperti zaman sekarang. Zaman itu tidak seperti zaman sekarang yang melimpah dengan roda dua atau mewahnya kendaraan roda empat. Opsi terbaik adalah jalan kaki. Jika memang punya kendaraan bermotor, perlu tiga atau empat ekor sapi yang dibarter Indah dengan kendaraan bermotor buatan negeri Sakura.

Hari pertama bertemu teman-teman baru adalah pengalaman tak terlupakan, ya mesti tidak seperti gambaran sekolah-sekolah mewah zaman sekarang dengen semua kisah menterengnya. Keadaan sekolah sudah seperti gudang, tanah merah dan kali di belakangnya. Bayangkan saat hujan, kita semua para siswa seperti kodok yang kegirangan, karena semua dipersilahkan pulang. Kenapa? Karena takut roboh sekolahnya hehe, miris sekali ya. Tapi ini kenyataan sih hehe, bebas saja jika mau tertawa atau hanya prihatin. Kodok-kodok kecil ini, termasuk saya juga adalah bagian kecil dari populasi kodok kota hujan yang bersorak riang. Pulang dengan keadaan basah dan tentunya berlumuran tanah merah. Perpecto hehe

Fase-fase mulai terlewati, karena menjadi bagian aktif di kelas satu. Sehingga saya terkadang merasa menjadi pemeran utama dalam kisah itu, wajar juga sih ya. Karena memang ini kisah tentang saya, bukan tentang orang lain hehe. Hyperaktif, galak dan sok tau, kurang lebih begitu adalah deskripsi tentang diri di 20 tahun lalu.  Tidak ada Taman Kanak-Kanak bukan berarti tertinggal atau belum bisa membaca dan menulis, justru saya bersyukur karena memang sebelumnya mengaji dari kecil. Sehingga bukan masalah untuk membaca dan menulis, sehingga tidak sekolah TK, bukan sebuah musibah besar tapi menjadi olok-olokan zaman sekarang hehe.

Ada pengalaman menarik saat Sekolah Dasar yang  masih diingat, namun bisa disimpulkan ke beberapa scene berikut Ini:

  1. Saat kelas satu, pada umur belum baligh tentunya dan kebetulan saat itu adalah bulan Ramadhan. Saat pelajaran agama dan kebanyakan anak lain berpuasa, begitupun saya yang belajar berpuasa. Nah karena saat belajar berpuasa itu dan aktivitasnya ditambah sekolah, kemudian pulangnya agak siang karena guru agama saat itu, Pak Aman sangat kejam membiarkan saya kelaparan hingga akhirnya pulang sekolah mesti berbuka puasa terpaksa karena muka bias dan badan lemas. Terpaksa loh hehe, tapi critical point nya adalah belajar step by step kemudian niat mesti lurus agar tuntas sampai akhir, case di sini adalah puasanya sampai adzan maghrib.
  2. Saat kelas lima, dalam perebutan posisi juara kelas. Wali kelas saat itu Pak Dede Lukmansyah, guru keren, dengan motor knalpot bising dan tegas. Saat ujian bahasa Sunda, yang kadang dianggap asing oleh daerah Cileungsi dan sekenanya. Nilai di raport hanya dapat Fa ( alias 4). Sehingga juara kelas mesti diserahkan dengan syarat belajar lebih giat lagi bahasa daerah sendiri. Peristiwa Ini, masih diingat sampai sekarang karena itulah pencapaian terburuk seorang saya dalam sekolah.
  3. Menjelang EBTANAS, sama seperti kejadian-kejadian konyol lainnya. Malah hampir-hampir saja tidak lulus mungkin, karena hal konyol sekecil itu. Karena ogah saat berbaris karena asyik mengobrol. Dipeluit beberapa kali tak digubris, hingga guru olahraga saat itu Pak Endis Sasmita geram. Setelah kegeraman itu, diri ini beserta Emin Budiman, Dadang Hidayat, Andi ( almarhum), Alikman dan Siman menjadi pesakitan di depan teman-teman. Tanpa ragu, Pak Endis melakukan peringatan dengan memukul dengan peluit ke arah telinga di depan teman kelas semua. Sungguh kejadian bodoh yang tak pantas ditiru, bersyukur lah masih lulus pelajaran Penjaskes dan masih merasa bersalah dengan kejadian super duper bodoh itu. Critical poinnya adalah jangan ditiru karena memang tak pantas ditiru.
  4. Kegiatan saat sekolah dasar diawali dengan membawa termos es, pernah dalam satu waktu es dalam termos yang berisi 30 buah es mambo ( nama populer zaman itu hingga ada juga nama celana mambo, namun tidak berhubungan apalagi berpacaran ). Nangis?Sedih? Iya pastinya, tapi perjuangan gk berhenti di situ. Ke depannya es dititipkan, lalu sore diambil, sambil nyambi-nyambi cuci piring tukang bubur Pak Usman dan Ibu Ucu serta berjualan Pisang goreng pok Jenab. Ah, mungkin sekarang rindu tapi kala itu sendu. Apalagi hanya ingin kaos sepakbola saja mesti juara kelas dan Alhamdulillah tercapai. Kaos inter Milan dan bertuliskan Pirelli dan Ronaldo dengan kaos kebesarannya 9.

Mengapa bercerita tentang sekolah dasar?

Mungkin salah satu bentuk nostalgia lama akan histori indah di masa kecil dulu. Dikala sebagian orang bermain bebas, diri ini juga bebas terutama berinteraksi dengan alam. Hampir sepanjang hari di sawah untuk mencari ikan, ke perkebunan karet untuk mencari karet unggulan ( jilong dan latex untuk dijadikan karet atau bola kasti), mencari burung, bermain dengan kerbau, mengaji dan menikmati kegelapan dengan lampu camar dengan gelapnya.
Karena sekolah dasar, akan tetap menjadi dasar dan pondasi dalam penentuan cita-cita sekarang.
Teman-teman kelas waktu itu:

  1. Ahmad Sundawa
  2. Hasanuddin
  3. Amih Siti Rokayah
  4. Sri Wahyuni
  5. Emin Budiman
  6. Nurdin Rohendi
  7. Alikman
  8. Siman
  9. Andi ( almarhum )
  10. Rina
  11. Sahroni
  12. Ucah
  13. Saam
  14. Agus Ipang
  15. Nasih  Ipang
  16. Iin
  17. Ucih
  18. Wijaya Abimanyu
  19. Iwan
  20. Asep sutarman
  21. Asep Suherman
  22. Oon Darwati
  23. Nasih Purwacita
  24. Murni
  25. Acih
  26. Itoh
  27. Maulin Siti Maulina
  28. Mamit Priyadi
  29. Ajum
  30. Emas
  31. Endang
  32. Kana
  33. Solihin
  34. Yunita Wati
  35. Dini
  36. Darnih
  37. Unuy
  38. Kimah
  39. Acih
  40. Hendi Hidayat ( Almarhum)
  41. Cecep
  42. Enjun
  43. Nyai damsyah
  44. Siti marpuah
  45. Encuk Rokayah
  46. Dadang

Guru-guru saat itu:

  1. Bapak Slamet Riyanto ( guru kelas satu dan kepala sekolah)
  2. Endis Sasmita ( guru kelas dua dan tiga)
  3. Syaiful Rizal AS ( guru kelas empat)
  4. Dede Lukmansyah ( guru kelas lima dan guru inspiratif )
  5. Ucup Karyana ( guru teladan, dengan otak brilian, padahal awalnya hanya lulusan SMP) penemu bakat diri hingga sekarang.
  6. Pak Imar, penjaga sekolah.

Terima kasih semua, telah menjadi bagian indah dari pondasi awal itu. Selamat hari Guru untuk Bapak dan Ibu guru. Semoga tetap sehat dan ilmu yang diberikan bermanfaat.

SDN Palasari 1, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi Kabupaten Bogor. Gambaran awal sekolah ini adalah sekolah kebanggaan warga sekitar, konon dulu sekolah ini adalah sekolah yang mewakili beberapa desa. Pada akhir 1995-1998 sekolah dalam keadaan kurang bagus, hampir ambruk. Hingga semua siswa sempat dipindahkan untuk sekolah dibelandongan almarhumah ibu Cempreng. Sekarang sekolah semakin lebih baik karena sudah menjadi dua lantai.

” Do what you feel in your heart to be right – for you’ll be criticized anyway. You’ll be damned if you do, and damned if you don’t”
Go Forward !!

( Roosevelt)

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s