Resolusi apa resepsi?


” Kemampuan fokus tetap dibutuhkan oleh kita pada saat kita perlu memutuskan tindakan tertentu, apalagi bila tindakan tersebut berisiko “-Eileen Rahman, Founder Experd Consultans

   Pergantian tahun yang oleh sebagian orang dirayakan dengan suka cita berbentuk petasan, kembang api, flare, bermabukan-mabukan, Pengajian dan lain sebagainya, adalah bentuk manifestasi sederhana versi masing-masing orang, karena berbeda Kepala, berbeda tingkat penghasilan, tingkat kemakmuran, pendidikan Hingga tingkatan hati. Karena bisa jadi oleh sebagian orang dianggap lumrah, namun mestinya sepakat bahwa setiap pemborosan atau hal-hal yang sia-sia adalah hal yang hanya memberikan efek sebentar, temporer. Tidak abadi, apalagi dikenang.

Malam Jumat, sama seperti malam Jumat sebelumnya adalah hari istimewa yang sampai istimewanya ada dalam kitab suci. Tepat 31 Desember 2015 ini, ada di malam Jumat. Lengang sekali jalanan, tak seperti tahun-tahun baru lainnya. Sehingga jarak Tanjung Barat ke Cileungsi hanya 1 jam lebih sedikit, tak seperti perjalanan biasanya yang mesti berjibaku dengan aluminium bergerak beroda, sungguh lengang. Pada malam itu, tepat sekali hujan, bisa jadi doa-doa para jomblo terkabul, diselingi suara katak, bersahut-sahut riang kehujanan, Alhamdulillah. Semoga hujan ini selalu menambah berkah, di momen pergantian waktu yang oleh sebagian dianggap biasa saja. Mengapa?

Entahlah, bisa jadi jawaban dan harapannya tetap sama seperti tahun sebelumnya, biasa kita sebut resolusi. Namun, trend masa kini, mengubah paradigma yang ada pada sebagian anak muda, generasi penerus kejayaan dan motor penbangunan bangsa dengan menyandingkan kata resolusi dan atau resepsi. Sungguh, sebuah kondisi keterikatan, bukan opsi. Karena melibatkan kata dan atau, sehingga sifatnya mengikat.

Tepat pada pukul 24:00, almanak otomatis berubah menjadi 1 Januari 2016. Tahun bershio Tikus dalam kalender Tionghoa. Tahun Dimana para jomblo, Single, dan Mahkluk sejenisnya gegap gempita, merasakan keraguan bahkan ketakukan. Mengapa?

Karena ada dalam sebuah meme tulisan, 2016 masih jomblo, akan ditenggelamkan oleh Ibu Susi Pudjiastuti, karena dianggap sebagai makhluk dependen yang menambahkan deviasi sensus atau pencacahan tertentu sehingga menambah error term sebuah kondisi. Sadis memang, seperti kata adik sepupu Afgan dalam lagunya yang fenomenal, fanfastik, futuristik dan bombastik itu. Maaf ya Mas afgan, saya akui sebagai adik sepupu. Semoga tidak sampai dituntut, karena Kamu berdua Ada hubungan darah keturunan Nabi Adam.

Seperti pada kutipan Eileen Rahman diatas, adalah salah satu tamparan berharga dalam menyongsong perjuangan dan cita-cita di tahun 2016 ini. Karena opsinya hanya dua, resolusi saja atau resolusi dengan resepsi hehe. Pilihan sulit, namun fokus untuk hal yang memang berisiko perlu, agar kita tahu bagaimana dan sebesar apa dampak yang timbul. Agar mitigasi risiko bisa minimalisir, sehingga hal-hal yang kita lalui dan laksanakan, bisa secara otomatis terukur dan terpetakan risiko dan action plan agar matching dengan Goals apa yang mau dicapai.

Risiko tidak bisa dihindari, tapi hanya bisa dikendalikan dan diminimalisir. Termasuk risiko akan ditanya tentang resolusi dan resepsi.

Mau pilih yang mana?

Mana aja boleh,

Resepsi atau resolusi

Resolusi saja

Atau resolusi dan resepsi
Selamat berisiko untuk keduanya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s