Harmoni dalam Warna Perbedaan 


Tiba-Tiba ada angkot di pinggir jalan melaju dengan kencangnya, tanpa gubris sekalipun. Layaknya film Fast & Furious, saling memacu pedal gas semaksimal mungkin. Hingga efeknya adalah berbaris panjang, berjejeran dan kemudian keluar surat izin emisi. Wah ternyata ini hanya pemandangan di kantor perhubungan untuk uji emisi yang bisa jadi membuat jadi emosi.

Perlahan tapi pasti, suara kereta lantang  membelah sunyi. Melawan kawanan semut sedang push up di rel, sadis sekali masinis kali ini. Melewati kawanan semut tanpa ampun, breeeeeet dilibas satu kompi, tak tahu nasibnya kini.

Di tempat berbeda, ada ibu-ibu yang asyik memeriksa dan mengurai rambutnya sambil bergosip ria. Sambil memilih uban, karena sudah hampir setengah tua, menandakan akan meninggalkan dunia hitam, menuju rambut putih. Menceritakan sinetron yang semalam ditonton dengan antusias, serasa juara Olimpiade kimia tingkat dunia, detail, sistematis dan tentunya penuh penghayatan. Hingga pesan yang disampaikan, serasa benar-benar diamati dan dengan empati dalam, seakan-akan memang benar-benar terjadi. Ibu-ibu lain asyik menceritakan kontes pencarian bakat, di salah satu televisi swasta dan ada sedikit bapak-bapak yang masih belum move on dengan pertandingan AC Milan yang berakhir Seri, bagaimana nasib milanisti, jika tim kebanggaan kota Milan ini, tidak lagi tembus ke zona Eropa di tahun ke empatnya.

Selanjutnya ada beberapa mahasiswa wara-wiri menuju tukang fotocopy untuk copy semua bahan ujian, ada gerombolan berbaju putih sedang sibuk membicarakan kolokium sambil melewati ruang jenazah sebuah rumah sakit pioneer di tengah kota, sebagian lagi akhwat-akhwat dengan cepatnya berjalan menyusuri lorong sambil membawa bor, entah akan rig minyak atau scaling, yang pasti mereka sibuk sekali dengan requirement agar lulus dan mengabdi menjadi profesi yang dibenci produsen kopi dan permen, sisanya ada yang diskusi di taman tentang kondisi harga minyak, bursa saham LQ45 yang semakin turun, kondisi gatotgade, kriminalisasi KPK hingga tak melihat seksama ada burung-burung yang ikut menari, karena diiringi oleh paduan suara yang siap untuk konser di Wina, Austria. Tukang parkir elektronik menghitung jumlah jam, karena memang tarif baru, membuat sebagian mahasiswa merasa Seperti mall. Sudut yang sibuk pada sebuah tempat studi di tengah kota.

Bajaj biru bertuliskan bahan bakar gas melaju dengan suara khasnya, mengantar penumpang untuk wara-wiri menjemput rezeki, mengejar rupiah yang makin tak berdaya oleh Dollar, hingga abang bajaj dengan semangatnya menarik pedal gas kanan dan mengatur pedal kiri untuk menembus lampu merah yang jelas terlihat. Biarkan antimainstream, karena memang sebagian pengguna transportasi publik dianggap barang, sehingga untuk keselamatan kadang diacuhkan. Hingga efek setelah turun dari bajaj ini adalah bergetar, seperti disco darurat, untung saja rambut masih klimis, sisa memakai pomade buatan kota kembang. Keras layaknya gabungan las plat besi dengan menggunakan argon, namun efeknya adalah Seperti Cecep dalam film zaman dulu, rambut seminggu tidak turun karena memakai ukuran hardcore.

Pemandangan lain, disudut sebuah perusahaan multinasional besar, dijejali banyaknya pelamar, lulusan perguruan tinggi mentereng dalam dan luar negeri, berjejer pelamar untuk menunggu Job vacant yang tersedia. Mereka berbaris rapi, ada yang masih segar, setengah lusuh dan berkeringat bak didera lari dari kenyataan. Membawa amplop Coklat dengan tentengan ijazah, berharap Job vacant yang ada bisa ditukar dengan ijazah dengan foto editan photoshop berlatar biru. Senyum lima jari seperti iklan pasta gigi, bahkan top model hehe. Semoga nasib mujur datang, karena sedang reses, sehingga Job vacant yang ada diisi oleh 10.000 orang saingan. Keren memang, seperti persaingan terbaik kita dulu menjadi embrio pada ovarium. Yah mau tak mau, sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), namun kita masih tetap saja santai menjawab tantangan yang ada. Malah dianggap tak seperti ada, ada bau tanpa rupa, kentut sepertinya hehe.

Di dunia mafia, sedang terjadi perencanaan  tentang proyek strategis serta penguasaan ekonomi dunia dengan Shadow Economics nya, sehingga doktrin awal terbentuk untuk membuat boneka melalui kebijakan tidak populis, merugikan rakyat, stabilitas terganggu, kapitalisme berbalut neoliberalisme, penempatan Figur tidak tepat dari kongsi berbau pemerintahan atau perusahaan negara, pelemahan fungsi kejaksaan, penyidik dan lain-lain serta ekspansi bisnis gelap dengan mendirikan vehicle company pada beberapa tax haven country.

Sebagian dari populasi, kasta terendah untuk kasat dunia namun bisa jadi kasta  tertinggi bagi penduduk langit, Single mulia, jomblo bahagia, fakir cinta, atau fakir asmara mulai gusar karena kebijakan Pemerintah terkait penambahan kolom status pada Kartu Tanda Penduduk. Kebijakan ini sengaja dibuat Pemerintah karena dianggap sebagai kontrol atas kebijakan efisiensi bahan bakar. Nah lo apa sebabnya? Konsumsi bahan bakar meningkat karena pada Weekend jomblo/Single/fakir asmara/fakir cinta berkeliaran secara massal, sehingga dengan kebijakan ini bisa terlihat sebaran rata tentang konsumsi berdasarkan status tadi. Kejam sekali kebijakannya, sehingga atas kebijakan ini oleh sebagian aliansi-aliansi besar Seperti Combro ( Community Jomblo Bro), Misro ( Masyarakat Ingin Sentuhan Romansa), Tape ( tajuk perubahan), Kicimpring ( Konfederasi Cinta makan satu piring) mengajukan Judicial Review ke MK. Saat tulisan ini ditulis, putusan sedang dibacakan untuk menentukan arah dan nasib populasi ini.

Semuanya berjalan beriringan, tanpa mengganggu tiap aktivitasnya, berwarna sekali dan hakikat sebenenya dari perbedaan itu sendiri adalah “membiarkan” semua yang semestinya terjadi, tanpa menganggu satu sama lain, rukun, tentram, damai dan loh jinawi. Harmoni sendiri berarti keselarasan.

Warna sebagai tolak ukur sebuah ekspresi, tak pelak menjadi salah satu penghubung komunikasi sehingga dapat menunjukkan mood pada hari itu. Warna pula yang membuat pelangi jadi terlihat indah, jika tidak dan hanya satu warna saja, monoton tanpa kesan elegan dari bawaan warna itu sendiri.

Warna dan harmoni, menjadi dasar dari Colour run, sebuah aktivitas penuh kreasi warna untuk keselarasan baik dengan sesama peserta bahkan untuk menimbulkan kesan tersendiri kepada empunya.

Perbedaan, bukanlah halangan utama untuk hidup rukun. Infrastruktur  dan kendaraan adalah dua hal berbeda, tapi bisa disatukan. Membentuk harmoni dan menjembatani perbedaan.

Keanekaragaman suku dan budaya, yang menjadi mutu Manikam dari kekayaan bangsa ini adalah sebuah perbedaan yang jelas-jelas nyata.

Termasuk perbedaan cara pandang aku-kamu, saya-kamu, saya-kalian, saya-kalian semua, dan sebagainya.

Harmoni dalam warna perbedaan, semoga adalah doa, bahwa perbedaan bukan jadi alasan perpecahan, perpisahan atau alasan lain, tapi jadi satu titik warna baru dalam menjalani hidup baik saat interaksi dengan yang lain sesama anak bangsa.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s