Cerita Senja 


” senja, menutup langit dan menutup harapan hari ini”

Sekilas nampak indah, lembayung senja  di kala hujan. Bukan pemandangan biasa memang, karena pemandangan biasanya hanya awan gelap, dilengkapi genangan yang menyimpan dan mengingatkan kenangan, hmmm iya kenangan.

Berlari bebas, bermain sepakbola, di tengah lapangan rumput dengan belalang yang sigap, meloncati setiap jengkal sudut lapangan, berlari bak kompetisi rodeo. Bebas karena tanpa kepentingan apa-apa, bermain tanpa seka, meluncur menendang bola ke arah gawang. Waktu itu lapangan di kelilingi oleh pohon karet dengan bau lateks yang khas, semerbak bunga bangkai dikala mekar, enek di perut hehe.

” Ayo tendang bolanya Mbie, kita cetak gol sebanyak-banyaknya dengan tendangan khas Shevchenko atau gaya tendangan maut Roberto Carlos pada PlayStation dengan akurasi 98%”, ujar salah seorang sahabat kecil. Tanpa gubris, sekuat tenaga ke arah gawang, namun, wow, celaka. Bola mengarah ke kepala kiper, sehingga menyebabkan pingsan. Bahaya dak, bahaya euy. Ayahnya Yusuf galak, celaka nih kalo ketahuan, panik dan mencekam.

Beberapa saat hening, ide brilian muncul. Digunakanlah lateks untuk merangsang stimulus Indera penciuman Yusuf, Alhamdulillah setelah aroma khas lateks, siuman adalah jawaban pertamanya. Setelahnya berhamburan lari, karena lateks tersebut dijadikan senjata untuk melumpuhkan ganjaran keisengan.

Tahukah kawan, permainan mahal kala itu adalah gamewatch dan sekolah alam adalah sekolah kami setelah sekolah formal, sekolah madrasah dan sekolah mengaji. Mengapa bisa terjadi? Daerah kami, dikelilingi oleh kebun kelapa dan kebun karet, membentang luas sungai dan sawah, burung-burung menari, tupai berloncatan, sepertinya sedang musim kawin, sehingga terlihat ekspresi gembira, burung puyuh berhamburan dari tempat pertapaan dan ikan-ikan kecil macam gabus, mujair, dan anak kodok yang biasa kami panggil buruy, ada dalam kelompok yang digenapi oleh kepiting sawah yang punya cakipan bak mister crab, ganas jika mengena kulit ari. Sakitnya sih tidak sesakit diputuskan pacar atau seperti cinta ditolak, namun seperti kesetrum listrik statis, spontan dan bikin kejutan sedikit.

Mainan mahal kami waktu itu hanya mobil-mobilan dengan ban Radial bermerek swallow yang dibuatkan moldingnya, kemudian rangka desain dibuat dengan bambu berlapis karet lateks, gaya moncong truk dyna atau colt diesel, dan ada bak. Tidak ada karoseri, karena ini hanya mainan. Dibawa-dibawa dengan kemudi tongkat  panjang dari bambu, sehingga bebas belok kanan dan kiri. Kemudian meluncur, tanpa alas kaki alias nyeker, berkeliling pohon karet untuk mengambil buah karet yang akan diadu dengan buah karet lain. Buah karet terkuat biasanya ada urat dan berkontur layaknya pegunungan, karet tanpa isi buahnya dan cenderung berwarna Coklat, kami namakan jilong. Jilong ini bukan Sodara triplet atau jackie Chan, melainkan untuk sebutan master biji karet yang tidak terkalahkan. Super sekali memang, permainan legenda yang sulit ditemukan sekarang.
Hmmm,

Menyela nafas panjang dan dalam,

Sekarang sudah mulai gelap. Lampu-lampu tempel dengan kerosin mulai berubah dengan lampu pijar dan bohlam karya Edison, sudah menyala terang. Tidak ada lagi obor yang dulu membuat upil menjadi berwarna hitam, tidak pula ada lagi lampu tempel berkerosin pertanda babi ngepet itu. Perlahan, teman kecil pun sudah punya anak kecil yang lucu dan manja. Sebagai tanda tafakur,

Sebagai tanda bersyukur,

Bahwa memang waktu selalu menjadi episode terbaik dalam menyajikan presentasi hidup yang luar biasa keren ini.

Sudah dulu ya, senja ini perlahan mencekam menjadi malam. Malam yang menakutkan bagi sebagian orang, malam yang penuh cerita bagi sebagiannya.
Cerita tentang waktu,

Selalu melibatkan Mu, Tuhanku

Terima kasih atas cerita indah ini


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s