Sakit Hati vs Sakit gigi, lebih sakit mana?


 

teratai


Hmmm, yummi. Semerbak mie rebus, cabe hijau segar, sayur sawi hijau, serta telur rebus beserta kuah khas ayam bawang, membuat lidah semakin terlena dalam menggoyang rasa. Sudah lama sekali tidak makan mie, bukan karena apa-apa, melainkan karena ulah salmonella tifi, sang penjegal nafsu makan dan penghambat sambal atau makanan pedas lainnya, sehingga hanya demam yang dirasa saat dilanda, demam sianida, siap nikah setelah wisuda, siap nikah muda atau siap nikahin dia. Sudah, sudah, sianida bukan mainan, apalagi perempuan dan perasaan, cukup sepakbola saja yang saat ini dijadikan permainan. Cukup Armando!! * biar terkesan drama sedikit.

Sedang musim sakit sepertinya, karena hujan seakan seperti air mata yang meluncur bebas di sepertiga malam, tanpa bisa dibendung. Mungkin, pintu air Manggarai saja tidak bisa membendung air hingga istana banjir, begitupun itu, pelak membuat mata sembap, bukan karena lagu metal yang bergenre lalala yeyeye, tapi kemasukan serangga ternyata. Nasib-nasib, sebagai anak Kostan yang kurang beruntung, efek lampu mati, serangga malah berdiam diri di lampu bermerk Belanda itu, sehingga saat tertidur, dengan binalnya hinggap seenak hati.

Sudah beberapa hari, sebagian tambalan gigi sepertinya expired, bukan lagi teknologi laser Seperti sekarang ini, tapi hanya tambalan hasil kreasi dokter gigi Puskesmas terkenal di negeri gajah.   Paten sekali, hingga beberapa tahun tidak tembus, seperti iklan A*u*proof, tidak bocor. Hasil scan Panoramic agak mengerikan jika dilihat, ada beberapa yang impaksi, sehingga operasi bedah minor mesti dilakukan. Gigi agak disko, cenat cenut, fase ini bisa dibilang sakit gigi sepertinya. Alamak, dampak pertanyaan saat ospek di kampus dulu.

Hmm, pertanyaan waktu itu begini, mengapa fakultas kedokteran gigi tidak digabung saja dengan fakultas kedokteran? Toh sama-sama ada kata dokternya, layaknya fakultas kedoktrran hewan. Nyatanya, mata, bedah, ortopedi, anak, organ dalam, sepetinya enggan untuk bergabung dengan gigi. Apa sih istimewanya Gigi ini sehingga mesti membuat fakultas sendiri?

Lambat laun pertanyaan epilogue beberapa tahun lalu itu terjawab, ternyata karena peran Meggy Z dengan Lagunya sakit Hati vs sakit Gigi. Hmm, hebat sekali beliau ya. Bisa memisahkan Gigi ke fakultas sendiri, mestinya Meggy Z, mendapatkan Life Time Achievement untuk jasanya tersebut. Keprok-keprok barudak. Selanjutnya Timbul keingintahuan, sakit Gigi vs sakit Hati, lebih sakit mana?
Penasaran, berikut analogi ngaconya:

  1. Sakit Hati, tidak disebabkan oleh hati ini sendiri, bisa infeksi oleh virus sehingga menyebabkan hepatitis, tapi infeksi perasaan, infeksi pemikiran menyebabkan baper, php, salting, mager,mamon (malas move on) dan lain sebagainya. Sakit gigi terjadi karena peradangan pulpa, yang terdiri dari jaringan saraf sensitif, pembuluh dan jaringan. Sakit gigi bisa menimbulkan efek terhadap saraf lainnya, sehingga jika overheat atau overacting, akan menimbulkan sakit syaraf/gila hehe.
  2. Sakit hati bisa menciptakan kekuatan hati, sehingga tumbuh hati yang baru. Hati yang melupakan semua kenangan pahit, kelam, Lara, nelangsa, sehingga memulai kembali langkah baru menjadi jiwa yang baru. Sakit gigi adalah indikator kesehatan, karena jika gigi bolong, akan menyebabkan kepala pusing dan hati jadi galau. Efeknya secara psikologis adalah mood dan intensitas senyum yang berkurang. Senyum itu kan ibadah, mau dong jadi bagian dari senyum kamu #eaaa, biar ibadahnya lengkap.
  3.  Sakit hati bukan perkara mudah, apalagi jika terjadi pada perempuan. Bedak seharga ratusan ribu, sulam alis jutaan, eye Shadow bermerek, Gincu dari Amerika, hingga aksesoris lainnya akan hilang sekejap, karena air mata yang ditumpahkan secara bebas. Cepcepcep, strong girl, nangisnya Anda  bukan bagian dari biaya yang bisa dikapitalisir. Begitupun sakit gigi, makanan terenak di dunia akan tak berguna, berasa sayur kurang garam, kurang sedap dan hampa #eaaa.
  4.  Sakit hati konteks di sini sakit hati bukan makna sebenarnya, melainkan problematika remaja yang kekinian, karena memaksakan cinta yang belum semestinya. Hilang keceriaan hingga hilang semua kenangan. Bagai kertas yang diremas-remas hingga menjadi tak berbentuk, kemudian jika dikembalikan tidak utuh, masih berbekas. Sakit gigi, adalah konteks sebenarnya, jika mulai kambuh, hubungi ko-ass terdekat, karena bisa gratisan hehe *prinsip anak Kostan.

Lalu, jika tetap dipaksakan Head to Head, lebih sakit mana?
Jika namanya sakit, ya tetap saja dua-duanya sakit. Tidak ada yang lebih sakit atau sepadan, bisa jadi lebih sakit hati jika pada drama FTV, jika keadaan sebenernya bisa juga sakit gigi.

Sakit gigi maupun sakit hati, adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh dan pasti ada hikmahnya. Agar lebih memperhatikan kesehatan dan mengurangi kadar sensitivitas hati, baper pertanda hati kita peka. Namun biarkan baper pada tempatnya, agar Happy ending. Sakit gigi, agar berhati-hati dalam memakan sesuatu dan berpandai-pandai dalam merawatnya, seperti sikat gigi pada pagi dan malam hari. Ingat guys, konsentrasilah saat menggosok gigi, karena jika mata yang kegosok bahaya. Hehe
Ngomong-ngomong, mie di meja kok tiba-tiba tidak ada ya. Wualah, kelamaan ngetik, mie diberesin si akang Warkop. Kaaaaaaang, mie nya mana? *agak drama,  Akaaaaaaaaaaang, saya gk bisa diginiin.

Jadi apa dong ya kesimpulannya?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s