Sebuah Pilihan, iya atau tidak? 


 
Makanan memang bisa membangkitkan semangat, kenangan bisa membangkitkan cerita dan hujan bisa membangkitkan kenangan, iya kenangan tentang kamu, iya kamu, mie rebus hehe

Malam ini, romantis sekali, makan di pinggir rel kereta rel listrik, dengan lampu yang agak remang, sayangnya bersama gerombolan agamers, panggilan untuk gengs setelah titiran 23 dulu, versi Jakarta. Teman gila, hingga lupa waktu dibuatnya jika kumpul bersama, padahal hanya sekedar melepas cerita saja, membunuh waktu, walau memang, membuat waktu kerja pagi agar mengusap mata, pertanda kurang tidur.

Ada pemandangan berbeda sekarang, Dimana cita-cita di tahun sebelumnya untuk merubah kolom belum nikah di KTP Alhamdulillah terwujud, 21 Februari 2016 kemarin, sosok istimewa sebagai teman hidup telah resmi secara agama dan catatan sipil negara, pertanda peradaban baru akan dimulai. Sialnya, status pajak baru mengakomodir status per awal Januari, sehingga bisa dipastikan status untuk spt tahun ini masih TK0, sebuah status penuh harap-harap cemas, karena seringnya cacian, maraknya candaan, hingga Suporter setia seperti Kunto Aji saja sudah tidak sendiri lagi. Hmm, dari dulu memang istimewanya cinta, deritanya selalu bisa dijadikan bahan FTV hehe.

Cerita kali ini, berawal dari korekan cerita seorang Metalurgis galau karena belum bisa membuka hati karena kesalahan sendiri. Semoga menjadi bahan masukan, agar kita bisa move on dari keadaan. Cerita berawal dari pertanyaan, kapan nikah? Sambil senyum-senyum gembira sedikit, cerita dimulai.

” Bro, ombi. Ane bukan gk mau nikah, tapi masih belum bisa keluar dari cerita kelam masa lalu. Seusia ini mestinya Ane sudah nikah, materi Alhamdulillah cukup, calon juga sebelumnya sudah ada namun tetap terganjal restu orang tua. Sehingga sampai sekarang belum bisa menemukan sosok yang cocok jadi   Pendamping dan Partner hidup “. Dulu, Ane sempet menyia-nyiakan seorang akhwat yang sudah kenal kedua orang tuanya, hubungan kita baik-baik saja, namun karena idealisme masa muda yang menggebu-gebu, umur masih muda, mengejar pendidikan S2, dan kita memang terlalu muda pikir Ane waktu itu. Seiring waktu berjalan, si akhwat akhirnya menanyakan keseriusan, hingga akhirnya pun tidak memberikan kepastian. Ah, bodoh sekali Ane waktu itu, ujar cowok lulusan Fakultas Teknik Salemba University ini.

Telepon berdering, bumi seakan rontok, udara terasa sesak, tak tahu mengapa sebab awal. Hingga ada kata-kata begini:

A: halo Mas metalurgist, apa kabar?

B: Alhamdulillah baik, kamu gimana kabarnya?

A: alhamdulilah baik, maaf sebelumnya aku minta izin untuk menikah duluan. Karena ada Ikhwan yang berniat serius. Mohon maaf untuk kisah kita selama ini, karena jujur saya butuh kepastian, bukan uluran waktu, bukan hanya janji manis. Terima kasih menjadi cerita indah, namun kita belum berjodoh. Assalamu’alaikum, telpon pun berhenti tanpa ada suara.

B: Waalaikum salam *sambil menghela nafas

Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Karena kebodohan, kisah kelam ini masih saja membayangi hingga 8 tahun setelah kejadian itu. Sudah berkunjung ke psikiater, psikolog, hingga mencoba mencari alternatif Cara untuk melupakan semua yang telah dialami. Sehingga memang, kejadian lalu bisa itu membuat si metalurgist trauma untu mengenal siapakah yang jadi pendampingnya nanti. Bukan selektif, tapi si golongan darah A ini memang begitu. Susah move on seperti golongan darah lainnya, ujar sambil meringis.

Sebuah kisah nyata tentang analogi hidup, yang kadang kita alami dan sering kita jalani semua versi kita. Critical pointnya adalah semua rencana-NYA memang yang terbaik karena sebenarnya kesalahan kita adalah kita terlalu pede dengan rencana kita dan sering mengabaikan versi NYA plus tanpa melibatkan Dia dalam rencana kita dan kita terlalu takut untuk menghadapi esok yang belum kita hadapi.

Hingga cerita ini dibuat, si Metalurgis masih tetap galau siapa Partner hidupnya, sibuk dengan tenisnya serta masih tetap belajar agama agar tetap bisa terlepas dari bayang-bayang masa lalu, karena cinta bisa jadi gila hehe. Siapa tau berminat, tinggal japri saja hehe.

Kita yang bisa mengusahakan faktor-faktor internal  yang memang menjadi variable lain dalam sebuah equation, karena variable eksternal tidak bisa kehendaki.
Makanannya sudah tiba, mari makan dulu. Tadi hanya mengisi waktu luang untuk menunggu energi untuk aktivitas esok. Laper memang bisa menimbulkan imajinasi berlebih, termasuk cerita di atas. Hmm, mari makan dulu ya, keburu dingin kan gk enak. Sama seperti didinginkan oleh pasangan kita misalkan hehe.

  • alhamdulillah sekarang orangnya sudah menikah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s