Cileungsi, sebuah perjuangan waktu


Karena rindu sebenarnya, adalah rindu akan tempat kelahiran

Turn back crime, istilah yang sedang kekinian sekarang. Merujuk referensi dari interpol, slogan ini diperkenalkan di konferensi Paris sebagai antiklimaks dari maraknya kejahatan. Namun saya tidak akan membahasnya panjang, karena yang saya alami sekarang adalah turn back home hehe, kembali ke Cileungsi.

Persis, saya mengenal tempat ini dari kecil. Melewati Prancis ( Perempatan Cileungsi), lurus melewati Taman Buah Mekarsari hingga sampai ke Rumah, setelah melewati persawahan hingga perkebunan karet rimbun pada masanya dulu.

Terbentang pula perkebunan kelapa penghasil gula aren terbaik, membawa aroma harum sampai di bibir hidung. Lezatos, airnya sebagai pelepas dahaga  , menghilangkan haus sehabis berkeliling mencari ikan di kali. Hitam pekat kulit, rambut pirang bukan karena diwarnai seperti kebanyakan pemuda masa kini. Terbakar matahari tepatnya hehe

Ilustrasi di atas bagai fatamorgana kini, aslinya sekarang lebih dari kisah manis di atas. Bertambah padat, panas, hingga penat, karena macet, padatnya penduduk hingga permasalahan lama yang tak mau disinggung hehe. Pagi ini, menjalani hari seperti hari dulu. Di pagi buta, memulai kayuh, kayuh pedal gigi, memecah kepadatan, padi aurora pagi.

Melewati jalan berbatu yang mencerminkan tidak ada progres nyata kemajuan kota kecil ini, yang pernah digadang-gadang membuat kabupaten sendiri. Perempatan pagi ini cukup ramai, lalu lalang kendaraan, dari transformer hingga mobil pengangkut marmer. Anak sekolah dari sekolah dasar hingga siswa Sekolah Menengah Atas, membuat diri ini kembali ke masa lalu. Termenung meratapi kemacetan, untungnya sopir kali ini agak gila hehe. Memacu kendaraan sekehendaknya, hampir saja mencium mobil lainnya dengan ala-ala Need For Speed, namun  versi angkotnya. Alhamdulillah, setelah terlelap sebentar di sudut sempit, bangku pertama di belakang sopir.

Menikmati irama mobil 1000 cc dengan segala kesempitan yang ada. Tiba pada saatnya sesuai estimasi. Setelahnya, melanjutkan dengan naik angkot selanjutnya menuju tempat dingin selanjutnya. Rindu rasanya menikmati transportasi umum ini, terutama untuk jarak jauh. Setelah mencari-cari cela hingga menolak calo dengan suara khasnya, akhirnya bisa naik tapi dengan sedikit jalan kaki. Olahraga kesukaan dari dulu. Ada yang istimewa pada hari ini, ongkos angkot yang dipersiapkan malah dikembalikan karena ternyata ongkosnya lebih. Coba bila keadaan serupa terjadi di Jakarta, mungkin sama saja, tidak dikembalikan, dan tanpa sopan langsung meninggalkan, hanya kepulan asap yang jadi salam perpisahan angkotnya. Yah rindu, memang tak perlu mahal.

Cileungsi oh Cileungsi, kota kecil pesisir ibukota kesayangan

Lambat laun berubah, semakin padat, semrawut hingga pasar tradisional berceceran menghampiri flyover, dari lampu merah hingga tanah merah, dari sampah hingga sumpah serapah, dari motor hingga kontraktor, dulu, kini dan lusa, diri ini berharap semoga menjadi lebih baik, ditengah kesemrawutan, berjejer bus arah bandara, hingga moda transport terintegrasi busway, dari tempat yang dulu mati hingga bersiap menyambut MRT, selalu saja menjadi cerita.
Cileungsi,

Culang cileung sisi cai akan Terus bertambah padat, Dengan luas wilayah Nyaris 7400km2 ini akan selalu di Hati

Karena pulang ke Rumah adalah sebuah penantian Dan pulang ke cileungsi pertanda, bersiap menyambut keringat lebih karena sekarang bertambah panas, esok bertambah maju dan kemarin akan selalu menjadi bagian Dari sejarah panjang.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s