Bulan Juni, rasa Desember 


Musim sudah tak menentu memang, berdasarkan pantauan satellite Himawari, hujan masih menyelimuti Jabodetabek Dan sekitarnya, semestinya meleset, seperti kita belajar Geografi dulu tentang siklus Musim hujan ke Musim panas, peralihannya adalah musim pancaroba.

Suhu udara berada pada 31 derajat celcius, namun seperti berasa 38 derajat Celcius pada beberapa hari. Jika dikaitkan antara hujan dan musim panas terik, kemudian diregres, hasilnya adalah musim tak jelas, sama seperti sebagian zona nyaman kita, yang membuat hidup kita tak jelas mau kemana, karena terlalu stagnan tanpa pertumbuhan yang nyata, stuck tanpa gerak.

Alhamdulillah, Juni ini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah. Sahur bersama, tak lagi dibangunkan oleh petugas masjid, seperti sahur-sahur sebelumnya, ” maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? “

Matahari, kadang malu datang pada saat yang tepat. Ia berselimut awan hitam, hanya cahaya kuning kemerahan yang tampak dari kejauhan, dengan sedikit kabut, yang semoga saja bukan bercampur dengan karbon monoksida atau nitrogen sulfat, agar tak berbuah hujan asam.
Deru laju jalanan, masih tetep kencang. Menembus kemacetan, melewati kumparan pasir dan sekelumit masalah yang tak pernah usai. Memang masalah ini selalu timbul, agar kita belajar hal baru untuk bisa jadi pribadi unggul, wahai masalah engkau tak lebih besar dari Rabbku!!

Di keheningan, aku tersudut dalam ruang penuh harap. Tersungkur dalam pesakitan, terpenjara oleh dosa, yang semakin hari tak bisa dikuantifikasi, hanya bisa memohon ampun, agar busa terus menjalani dan menjalankan hak-NYa, walau tak kita jalanipun, Dia memang tak perlu ibadah kita, kita yang butuh Dia, sang maha solusi atas semua hal dan maha kaya atas setiap permintaan.

Hujan bulan Juni, mirip dengan hujan bulan Desember. Bulan para pemimpin negeri lahir, Soekarno, Soeharto, Habibie dan Jokowi, bulan Dimana Supardi DD, menelurkan kaya terbaik tentang hujan.

Adakah, hujan selembut dulu?Menyapa kita, mengucapkan selamat datang pada harapan-harapan dan semua permintaan kita?

Wahai, kita adalah insan dengan volatilitas dosa yang beragam, iman yang tidak stabil, dan demamd akan harapan kita dengan opportunity cost yang tak rela dikorbankan, bukan?
Ramadhan, istimewa, adalah perenungan sempurna, menghardik semua hal, menuju manusia paripurna. Kita bukanlah kaum barbar yang tak tahu etika, kita juga bukan manusia purba tanpa tulisan. Kita yang mengaku lulusan terdidik, makhluk sempurna, namun kadang tak beretika, sesuai dengan Aklamasi hal, yang sebagian atau semua orang, tak mau mendengarkan kita. Terlalu naif untuk mengaku jujur, hingga kadang cenderung kufur.

Biarkan lembayung, tetap semampai meraung, btw shubuh ini juga masih hujan. Semoga, Juni ya tetep Juni, bukan April atau Desember. Semua punya ciri khas masing-masing.Entah hanya berkenan, atau malah berkesan di hati.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s