Lebaran di era Teknologi



Alhamdulillah, sebulan lamanya, Ramadhan perlahan pergi, baik senang atau sedih, hingga harap-harap cemas, adalah sebagian ekspresi dalam pisah sambut Ramadhan ke bulan Syawal, Dimana hari besar untuk umat Islam di seluruh dunia merayakannya, Idul Fitri.

Sukacita terasa, ketika lap terakhir, finish dengan mulus, walau di awal, bermasalah dengan kokpit Tadarus, di pertengahan bermasalah dengan gear box amal dan di akhir sempat bermasalah dengan ban baju baru yang menghambat jalannya tarawih, hingga list untuk jawaban-jawaban seputar pertanyaan kapan, siapa dan bagaimana di momen Lebaran. Waktu sakral untuk sebagian orang, hingga banyak bermunculan meme, blog, tulisan, boneka pendamping hingga THR ( teman hari raya) bayaran, untuk menjawab semua kerisauan yang ada. Dengan semua macam nano-nano kehidupannya, momennya hingga masa  kebahagiaannya, Lebaran, selalu menjadi ajang maaf-memaafkan, terutama jika bertemu mantan. By The Way, mantan hanya minta maaf saja ya, bukan minta balikan hehe, ya meskipun maaf-memaafkan bukan hanya sekadar seremonial saja, tapi kapanpun bisa, sekaligus sebagai silaturahim antar tetangga hingga teman lama yang tak lama bersua, momen Lebaran selalu dimanfaatkan untuk bertemu, walau sekedar ngobrol tak karuan.

Ada yang berbeda di setiap tahunnya, terutama jika dibandingkan dengan momen Lebaran kita di paruh waktu lalu, Dimana nuansa silaturahim yang kental masih dirasakan, hingga mengalahkan sirup khas Ramadhan yang berwarna merah dan merona itu hehe *jangan sebut merk. Penurunan rasa “Lebaran ” kali ini, lumrah saja karena beberapa faktor:

  1. Kita sudah dewasa ( bahasa halus dari kita semakin tua), sehingga tidak dapat angpao Lebaran, asas resiprokal muncul disini, Dimana bukan saatnya Anda terus diberi tapi siap-siap berbagi angpao ;
  2. Berbeda cara menyambut suka ria Lebaran, misalkan dengan permainan tradisional, takbir keliling, bebeledugan, petasan hingga korban perasaan *lho
  3.  Semakin lama waktu sendiri, semakin bertubi-tubi pertanyaan astral menghampiri ;
  4. Mantan sudah punya anak,tapi kita masih sendiri ;
  5. Bumi semakin tua, sehingga kecintaan kita terhadap dunia membawa semua momen yang ada dalam hidup terasa cepat;
  6.  Perkembangan teknologi yang menggerus tatap muka, sehingga mengurangi esensi silaturahmi itu sendiri.

Dengan jumlah user handset melebihi jumlah penduduk negeri ini, momen-momen tatap muka antar tetangga berubah menjadi WhatsApp, Broadcast, digital image, e-mail. Proporsi tersebut mendilusi kartu ucapan Lebaran yang populer di zaman dulu. Dimana saat-saat menjelang Lebaran selalu menjadi pilihan untuk ucapan untuk keluarga, kolega, saudara, orang tercinta hingga diri sendiri *miris sekali jenderal hehe. Fakta menyebutkan, efek teknologi ini menggerus kemampuan perusahaan pelat merah flag orange bidang logistik semakin tak berkutik.

Teknologi tak semuanya membawa efek buruk, namun bisa mengurangi esensi sedikit saja. Generasi baby boomers dan X-generation sudah terbiasa dengan hal-hal yang memang Manusiawi ( aka cara konvensional dengan bertatap langsung ) namun generasi milenial yang serba praktis, sudah mengubah sedikit paradigma tentang makna sesungguhnya Lebaran, Lebaran dengan variasi yang berbeda di tiap generasinya, Lebaran dengan sedikit sentuhan hi-tech hingga pamer bulu ketek.

Takbir tetep saja menggema, memuji semua karunia yang telah diberikan sembari bersyukur atas nikmat sehat yang masih diberikan. Alhamdulillah.
Pesan saya, pertanyaan-pertanyaan aneh di momen Lebaran, jangan pernah dibuat pusing tapi dinikmati saja. Karena semua orang pernah merasakannya. Tetap kalem dan elegan dalam menjawab setiap detail vokal ujarannya, ikuti ritme dan opsi terakhir jika memang terlalu agresif adalah pingsan atau bilang saja, KUA tutup di saat Lebaran karena ada cuti bersama dari 3 Kementerian.

Karena setiap zaman ada perbedaan, sekedar berkelakar dari seorang generasi milenial. Jika benar datangnya dari sang pencipta, jika ngawur ya memang aslinya ngawur hehe. Sedikitpun tidak ada niat untuk membully atau menganggu kenyamanan, karena saya tidak akan pernah bertanya kapan nikah? Kok gendutan?
Tapi kok sendiri? Eh, sekarang badannya bagus ya hehe
*sekian
Ngomong-ngomong,

Fenomena Brexit masih sampai efeknya ke Tol Cikampek loh * Brexit = Brebes Exit, hingga banyak mobil menepi di jalan tol.
Efek jalan tol macet:

1. Laper

2. Baper

3. Ngiler

4. Kuper

5. Siwer

Tawaballahu minna Wa minkum

Selamat berlebaran 1437 H


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s