Kelas Inspirasi Pacitan : Pantai vs Gunung


” Rindu, ia akan kembali bertemu   Entah menjadi ramai, hingga membuat syahdu. Bertemu untuk mengawali, Berpisah untuk mengakhiri. Menambah memory, memulai cerita baru tentang semua hal yang patut diceritakan, hingga Hal-Hal ikhwal, membuat semua menjadi kesatuan pikiran”

Bagai Pingkan dan Sarwono, dalam kisah Hujan di bulan Juni Karya Supardi Djoko Damono yang berakhir menggantung, langit hari ini pula menggantung air, untuk kembali hujan, membasahi semesta, entah Karena ingin membilas semua hamparan menjadi rentetan kesenangan, hingga menghapus luka untuk yang sedang nelangsa, apalagi tentang cinta. Diphp-in, ditinggal kawin, hingga menyebar undangan untuk melepas semua kutukan Single atau jomblo, hari ini Solo, hujan sederas-derasnya, bak romansa cinta dengan kisah tak ngena, hingga kisah bandeng Juwana dengan presto tanpa tulangnya * ini pertanda lapar sepertinya, hingga menyenggol makanan hehe.

Kemudian melaju, menuju Selatan, untuk menuju Pacitan, sebuah kota yang naik daun saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia kelima, karena memang asal dan tanah kelahirannya. Gelap menemani, lapar menghampiri. Maklum saat itu terakhir kali makan di Jakarta, sekarang tepat pukul 20.00, wajar sekali perut demo. Mirip rencana aksi demo, awal terkendali akhirnya rusuh, perut ini pun tak kuat untuk menahan beban “lapar”. Hingga akhirnya, Pak sopir dan penumpang lain memutuskan untuk berhenti di Sukoharjo, Warung Angkringan yang jadi pesakitan kali ini. Jahe hangat, bakso khas Wonogiri, gorengan dan dua bungkus nasi kucing ukuran besar yang dipilih untuk menemani kekosongan perut ini hehe. Lahap, segar, Alhamdulillah hampir lupa bayar, memang efek lapar dan kenyang itu bahaya, kelaparan bisa membuat pingsan dan kekenyangan bisa membuat bego. Bukan alasan ya hehe.

Selanjutnya, setelah melewati jalan yang berkelok, terjal, mudun, hingga jalan ke pelaminan * wualah salah alamat ini hehe, tepat pukul 21:49 sampai lah di alun-alun kota Pacitan. Kenapa alun-alun? Karena jika di KUA bisa menyebabkan efek baper akut. Bertemu Mba Nimas, Astri, Tanti, Wulan, Om Wid, dan beberapa orang lagi * lupa nama. Fyi, Mba Nimas itu yang punya Travel enggal, hingga Alhamdulillah sopirnya munut sekali dengan doi, masih Single dan butuh sandaran hati, Mba Astri, fresh graduate yang lama menjomblo, Wulan, teman sepermainan pas SMA, yang duluan berangkat namun pulangnya bareng.

Setelah membahas beberapa hal, akhirnya tawaran menyambangi rumah Om Wid, untuk sekedar menumpang tidur tiba. Karena sebelumnya membayangkan tidur di Hotel Islam aka masjid hehe. Oh iya, kami berbeda rombel, Pak Wid di rombel lain sedangkan saya di rombel Sudimoro, daerah selatan Pacitan, arah PLTU saingan Paiton, PLTU Sudimoro. Om Wid, adalah perantau asal Jember tang hijrah ke Pacitan karena istrinya adalah orang Pacitan. Punya usaha sendiri di bidang konveksi, dengan dua anak, dan 11 pekerja. Konsumen jahitnya adalah orang biasa hingga pejabat di lingkungan Pemda Pacitan. Keren sekali memang, kesempatan langka untuk berburu ilmu kehidupan, ilmu jalanan yang tidak ada di sekolah formal apalagi universitas. Waktu bergulir, hingga tidur pulas dan adzan shubuh menyapa pagi,di hari tanggal 7 Agustus 2016.

 Minggu pagi, cukup berkeliling alun-alun, senam dan mengamati orang-orang yang semakin padat memenuhi kompleks alun-alun kota, sekedar berkeringat untuk menghilangkan sedikit pikiran karena istri tidak diajak, sambil mengamati berapa jumlah populasi jomblo di Kota ini. Terpana sejenak, di depan kantor bupati ada peta potensi wisata dan Adipura delapan kali berturut-turut.  Prestasi bukan main, karena memang kotanya bersih, terawat, infrastruktur mumpuni, namun sayangnya sebagian pemudanya fakir hati aka jomblo aka Single * versi sebagian penghuni hehe.

Setelah senam sejenak, menuju Goa gong dan pantai Klayar, dengan jarak 40-50 km dari kota, untuk sekedar jadi turis lokal, dengan guide dari Mba Shoufa ( mirip nama dosen pembimbing skripsi saya hehe) dan Mba Tanti, programmer insyaf asli Medan yang sudah lama di Jakarta. Perjalanan dimulai dengan sarapan pagi di Warung bu Dzikir, maklum saja lah, untuk pura-pura sekedar bahagia, perlu kalori yang banyak, apalagi untuk sekedar mengobati luka hati mendalam, berapa kilo kalori yang dibutuhkan? Hehe Sekitar 4 jam dilalui untuk persiapan selanjutnya ( semoga tulisan ke Goa Gong dan pantai Klayar bisa ditulis juga ya).

Pamit dari rumah Om Wid setelah mandi dan ke objek wisata Hits di Pacitan, kemudian dijemput Mas Antok, videografer handal yang jam terbangnya tinggi, namun belum move on karena ditinggal menikah *sadis. Jam 15.30 menuju TKP, jarak di peta sih 50 km, aslinya lebih ternyata hehe.

Sepanjang perjalanan, melewati rumah Pak SBY, pantai-pantai indah di selatan Pacitan, pantai tawang, taman dan tempat pelelangan ikan. Di tengah jalan, ban pecah, hingga istirahat sejenak untuk menunggu pemilik bengkel membeli ban dalam, karena tidak ada persediaan. 30 menit selanjutnya, berjalan, melewati tebing, tanjakan, turunan hingga akhirnya tiba di lokasi, pukul 17.30, sudah gelap dan sinyal internet tidak ada hehe.
Di sana sudah ada Ainun dan Habibie * karena terlihat mesra dengan soulmatenya hehe , serta Mas Handoyo, barang bawaan dimasukkan ke sekolah. Lambat laun gelap dan akhirnya #getlost kembali. Menginap di rumah Pak Malik, hingga larut malam, pagi datang, dingin menghampiri hingga akhirnya siap di kelas Inspirasi Pacitan #1.

Sekolah Dasar Negeri Pagerlor Dua, dusun Grabak, kecamatan Sudimoro, pagi pukul 06:30 WIB. Sudah ada siswa sekolah dasar, guru-guru dan bangunan sekolah yang mewah, karena memiliki fasilitas mumpuni, perpustakaan luas dan buku tersedia. Jam 07:10, setelah Gladiresik, akhirnya upacara bendera dimulai, warna merah putih nampak, diantara 77 siswa yang ikut upacara kali ini, minus 6 orang siswa yang akan mengikuti cerdas cermat tingkat desa, Indonesia Raya bergema dan merah putih berkibar, akhirnya, momen kelas inspirasi Pacitan #1 dimulai.
Kami,

  1. Xxxx, Jakarta/Bogor, doakan menjadi menantu idaman , Inspirator
  2. Riza, Trenggalek, Mahasiswa, Dokumentator
  3. Wulan,Jakarta,inspirator
  4. Tammy, pacitan, apoteker, inspirator
  5. Himma, Lamongan,Pendamping petani Tebu, Inspirator
  6. Nimas,Boyolali,Pendidik,Fasilitator.
  7.  Galang, Pacitan, Dosen, Pengajar
  8.  Misrianto, Pacitan, Videografer, Dokumentator
  9.  Ainun Khamdan, Blitar, Mahasiswa, Dokumentator
  10. Kapri, Pacitan, pendidik, fasilitator
  11.  Astri, Pacitan, Fasilitator
  12. Gandis, Pacitan, Fasilitator
  13.  Handoyo, Pacitan, Kontraktor, Inspirator
  14. Eny Ines, Pacitan,Fasilitator
  15. Sugiyono, Pacitan, Inspirator

Bersiap memulai hari Inspirasi.

Dibagi tiga sesi agar lebih efektif, saya beserta Pak Dosen Sugiyono, memulai masuk ke Kelas 5,6 , 3,4 dan terakhir di Kelas 1,2. Mengajak bernyanyi, games, bercerita tentang Sekolah kami dahulu, hingga berinteraksi lainnya untuk menciptakan sinergi Kelas yang selaras, hingga Ada celoteh unik tentang jati diri Pak Dosen yang dikira pedagang sayur. Kebangetan sekali memang, berpenampilan klimis, berkemeja, berpantopel hingga bertutur kata lembut, tapi bener Gk sih emang Pak Dosen punya profesi sampingan begitu? Hehe *lalu kabuuur.

Kegiatan diakhiri Dengan makan, yang disediakan oleh Sekolah. Menunya udang goreng segar yang menggoda, ayam dll. Mau tau yang lainnya? Colek mba Astri hehe, yang ingin digosipkan dengan …. Hehe.

Setelah Makan, adik-adik menampilkan hadrah, Dengan beberapa lagu. FYI, hadrah SDN pagerlor Dua ini, adalah perwakilan kecamatan Sudimoro untuk kabupaten Pacitan, keren bingits. Senandung lagu, angin sepoi-sepoi Dan perut kenyang, sebuah padanan sempurna hehe , jika diceritakan siklus selanjutnya yang tepat adalah tidur hehe.

Pantai vs gunung, apa maknanya?

Kontur Pacitan unik sebenarnya, memiliki patahan mirip bandung, di kelilingi oleh Pantai Dan gunung, bentuk nya cekungan, harga tanah di wilayah datar hampir Sama Dengan harga tanah di Kota besar, sehingga Dengan keadaan sekarang, sebaliknya jangan Ada mall Deh di Pacitan, agar tidak macet hehe.

Pantai?

Banyak spot menarik, terutama Arah Donorejo yang cocok untuk surfing hingga wilayah Selatan Arah Trenggalek yang menpesona.

Pantai menggambarkan keindahan, kerendahan hati, dan keanekaragaman. Dengan profesi orang tua yang mayoritas petani, adik-adik di SDN Pagerlor Dua memiliki semangat hebat untuk melangkah maju ke Depan. Sehingga bukan mustahil, Mutiara Pagerlor Dua bisa mengharumkan Pacitan kelak.
Gunung?

Kontur gunung sudah terlihat jelas, Karena Jalan berkelok dan tebing-tebing serta Jalan terjal menghiasi pemandangan kota. Menurut Mas Handoyo sih, Pacitan itu Kota trail hehe, Karena banyak spot untuk motocross di sini. Gunung menandakan ketinggian, harapan serta cita, siswa di SDN Pagerlor Dua ini, setidaknya menyemai mimpi mereka untuk meraih kesuksesan hidup Versi mereka sendiri.

Patokan atau indicator sukses, bukan sekedar ukuran materi saja, melainkan Bagaimana kontribusi bisa dirasakan oleh semua. Bermanfaat untuk sekeliling, bukan hanya menonjolkan egocentric belaka, walau Memang Sekolah hingga ke America.

Lesson learnednya adalah, selagi bisa berbuat, meski tidak besar, jika kontinyu akan berdampak lain untuk orang lain. Karena marginal utility tiap orang berbeda, layaknya memakan bakso untuk pertama kali, kedua kali, ketiga kali hingga satu tukang bakso diborong. Sejauh apapun langkah itu, tempat itu, niat itu, ekspektasi itu, hingga effectnya nanti tak usah kita pecahkan sesulit rumus Helmhotlz, sebisa kita, sedalam dan setulus niat kita, karena berbuat kepada orang lain sama dengan berbuat kepada diri sendiri.

_Ombi Saputra


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s