Instanisasi di era modern : yakin mau instan?


batagor bukan instan 

Setelah hiruk pikuk televisi yang semua tayangannya mainstream, mulai dari Sidang Jesica Wongso yang sampai 27 episode ( mirip sinetron stripping, hari ini putusan sidangnya, bisa Jadi lebih dari 27 episode), Anya dan Awkarin yang terganjal oleh KPAI karena dianggap menyebarkan konten negatif, persiapan pemilukada serentak terutama pilgub DKI dengan semua atribut ( relawan, tim sukses, pasangan calon hingga say war hingga kowar-kowar black campaign, walau bukan warga DKI hehe), AC Milan yang menang lagi hingga berita yang masih menyeruak tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi (46) asal Probolinggo, Jawa Timur, yang dianggap sebagai Raja Hayam Wuruk Sri Raja ( bergelar Prabu Rajasa Nagara) oleh pengikutnya, mulai kisah pembunuhan, pencucian uang, penggandaan hingga kisah pengikut setia yang masih amat kita nantikan.

Pertanyaan menariknya adalah mengapa para pengikutnya bisa terbuai rayuan untuk ikut serta?
Jawabannya ada di bawah ini ( Mengapa masyarakat terperdaya?

Sosiolog dan staf pengajar Fakultas ilmu sosial politik, Universitas Airlangga, Surabaya, Hotman Siahaan mengatakan praktik penipuan ini mampu melibatkan ribuan orang, karena sebagian masyarakat masih bersikap irasional dan terperdaya kebudayaan ‘ingin cepat kaya’.
Tapi Hotman mengaku heran dengan keterlibatan sosok Marwah Daud Ibrahim, yang dikenal sebagai intelektual dan politikus, meyakini praktik penipuan Taat Pribadi yang disebutnya sebagai ‘semacam sulap-sulapan’.

“Beliau ini intelektual, akademisi yang terkenal, lalu tiba-tiba sangat irasional melihat perkara ini dan begitu membela Kanjeng Dimas,” kata Hotman.

Dia menduga kapasitas intelektual Marwah menjadi hilang karena politikus Partai Gerindra ini terpikat ‘pendekatan’ yang ditawarkan Taat.

“Kemampuan akademisnya hilang, pemikiran intelektualnya hilang, karena (apa yang diklaim Taat Pribadi) dianggap benar,” kata Hotman.

Mengomentari ribuan orang lainnya yang terpikat bujukan pemilik padepokan Kanjeng Dimas itu, Hotman menduga hal ini hasil kerja keras anak buahnya yang mampu menggambarkan sosok Taat secara ideal.

“Ada mistifikasi terhadap figur, memiliki wibawa, menganggap sebagai maharaja, itu membuat ketertarikan orang lain,” ujarnya.

Namun diakuinya ketertarikan itu juga tidak terlepas dari mental instan alias ingin cepat jaya yang diidap sebagian anggota masyarakat.

Hotman menawarkan perlunya ‘revitalisasi kesadaran intelektual’ masyarakat agar tidak terjerembab kebudayaan ujug-ujugalias kebudayaan instan di tengah maraknya perilaku yang konsumtif.

( sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161003_indonesia_dimaskanjeng )

Selanjutnya, apakah instanisasi sudah mulai mengakar?

Instanisasi sebenarnya lebih familiar kita dengan makanan, baik mie instan, bubur instan, kopi instan, oatmeals instan, bumbu dapur instan,  lambat laun mulai merambah ke Entertainment dengan jadi penyanyi terkenal dari ajang pencarian bakat yang instan, pencarian jodoh instan,  model instan ( instan kaya karena nyambi profesi lain), kerudung instan, popok instan hingga status sosial yang juga ingin instan, seperti kuliah instan dengan beli ijazah atau ingin cepat kaya tanpa kerja dengan ikut kaya yang instan ( entah pesugihan, dukun, dll).

Pertanyaan lainnya adalah, apakah hal-hal yang instan itu tanpa proses?
Jawabannya adalah pasti. PASTI ada PROSES.

Mengapa?
Contoh sederhananya adalah Andi ( bukan nama sebenarnya, tapi bisa juga nama tetangga Anda) adalah seorang anak Kostan. Tengah malam, karena stok pangan kosong, akhirnya menemukan harta karun paling berharga di dunia, untuk anak Kostan di akhir bulan, ya, teman mie instan ( kata Kunto Aji). Penemuannya tersebut apakah bisa langsung dimakan?

A. Bisa saja, namun jika ditambul (dimakan mentah) tidak kenyang ; dan

B. Dimasak, minimal disiram oleh air panas. Tunggu 5-10 menit ( tergantung selera).

Kondisi B, apakah bukan disebut proses ( pilihan mayoritas anak Kostan disaat lapar mendera) ?

Pertanyaan lainnya adalah apakah dampak sesuatu yang instan?

Jika yang instan makanan, bisa berpengaruh terhadap organ tubuh, kanker, dan macam penyakit lainnya hingga sebuah teori ” jika sesuatu diperoleh dengan instan, maka redupnya juga instan”

Mau bukti:
Contoh : penyanyi, Krisdayanti yang diperoleh bukan dengan ajang instan, hingga menjadi diva sekarang. Jika instan kita tak pernah tau, siapa itu Krisdayanti.

Contoh lainnya adalah petinju yang sering latihan di sasana dengan kita yang latihan instan. Dijamin jika tanding akan KO di ronde pertama.
Dampak lain karena instan adalah sampah instan, hingga baper akut ( karena harapan yang instan) *opo kui iki hehe

Lesson learned?
Pelajaran paling berharga dari artikel yang tidak penting ini adalah

  1. instanisasi bukan berarti dihindari, namun tetap berusaha gigih untuk hasil maksimal demi semua keinginan yang kita capai ;
  2. Sabar, karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses ;
  3. Terus bergerak, karena termenung saja bukan solusi. Apalagi berandai-andai menggandakan gebetan hingga cemceman ( mustahil ) ;
  4. Sesuaikan gaya hidup, karena terlalu gaya, membuat beban hidup semakin berat ( hukum Newton) ;
  5. Saling mengingatkan jika terjebak budaya instan. Karena jika sudah terjebak, jalan keluarnya adalah cara ekstrim dengan hilang ingatan akan semuanya, hingga mendekatkan diri ; dan
  6. Jangan buang instan sembarangan, karena bisa menyebabkan kerusakan lingkungan, hati dan pikiran hehe

Waspadalah
Hal paling berkesan saat mengingat Instanisasi adalah sistem belajar semalam, saat akan sidang, presentasi, ujian hingga hal penting lainnya. Ingat, ijab kabul mesti dipersiapkan. Agar tidak deg-deg syer 😂😂. Bahaya kalo latihannya instan hehe.

Advertisements

One thought on “Instanisasi di era modern : yakin mau instan?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s