Voluntrip Round #3, bukan sekedar trip biasa ( part #1) 



( salam #1hari1kebaikan )

 

” karena kata saja tidak mampu menggambarkan, raga cukup untuk menjalani, relung untuk berkontemplasi dan diri untuk terus beraksi”

 


HARI PERTAMA

Hujan di bulan Juni, memang fenomenal, Dimana Sapardi Djoko Damono begitu epik dalam menggambarkan kisah Pingkan dan Sarwono. Hal serupa kini tak hanya dialami dalam novel dan puisi populer tersebut, kini bisa saja terganti oleh kisah hujan di bulan November, yang syahdu, mengadu, perlahan cemburu, hingga ia terlalu terburu-buru, sebenarnya ia hanya berkelakar laju, menuju sebuah lantunan lagu. Tepat, 18 November 2016 kemarin, hujan leluasa sekali mengeluarkan bulir-bulir airnya, bertambah sejuk, namun diiringi petir yang sedikit menambah kekhawatiran. Iya, mugkin ini adalah bagian dari hujan di bulan November ( November Rain).

Laju bisa saja terhenti, namun tetap terus melaju untuk mencapai tujuan selanjutnya. Ia kemudian berpindah menuju titik lain, agar tak stagnan saja di satu titik, kebetulan waktu itu laju angkot membawa cepat menuju Rambutan, untuk selanjutnya menuju Kampus FK UKI dengan busway, untuk ikut kegiatan yang dinamakan Voluntrip, explore the happiness ( setelahnya explore the horror show hehe). Kegiatan kali ini adalah kegiatan yang ketiga, setelah ada di provinsi Banten dan kabupaten Bogor *AKB mana suaranya ⛹🏿⛹🏿⛹🏿 ( AKB = anak kabupaten bogor).

Cukup membawa bekal sesuai list dengan drypack dan satu tas kecil, akhirnya meneguhkan hati ini untuk fiks ikut, karena awalnya terjadi pergolakan hati antara berangkat atau tidak, satu sisi karena ada ujian sertifikasi, istri yang sedang kurang fit, Partner kelas yang tidak jadi ikut di menit terakhir karena tugas kuliah dan hujan deras tiba-tiba yang semoga jadi awal keberkahan kisah ini. Seperti layaknya kepastian yang digantung oleh kekasih hati, awalnya perjalanan ini pun terasa digantung, iya, adik gk bisa dibeginiin bang hehe.

Sampai ke meeting point jam setengah 3, bertemu para outlier * maaf dibilang gitu, karena ini istilah saya untuk orang yang beda dengan yang umum hehe. Keceriaan mulai tampak, karena senyum-senyum penuh harapan itu terlihat pada wajah-wajah mereka, relawan dompet dhuafa volunteer, hingga senyum-senyum penebar harapan palsu pun sesekali dilihat, maklum ternyata mereka masih kinyis-kinyis unyu, generasi milenial yang gaoel dan kekinian. Bila ada cinta lokasi setelahnya sih mungkin anugerah tambahan dari acara ini hehe. Total peserta yang ikut adalah 26 orang, yang dengan komposisi tenaga kesehatan ( dokter, perawat, nutrisionis, kesmas), dosen, mahasiswa (beberapa jurusan, akuntansi, sejarah, komunikasi), beberapa yang sudah bekerja dan panitia. Total mungkin 40 orang ( kalo salah mohon dikoreksi). Tepat pukul 16:05,dengan tronton Express kami bergegas ke Kampung Sodong Desa Sukamukti, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

( Kecamatan Maniis, yang memang manis)

Secara geografis, wilayah kecamatan Maniis ini adalah kecamatan paling ujung Purwakarta yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur, dengan luas hampir 72 km2. Konturnya berbukit dan dekat dengan danau cirata, sehingga dekat juga dengan sungai Citarum. Sudah terbayangkan potensi ekonominya bertumpu pada sektor perikanan darat, karena ada beberapa Keramba yang berdiri kokoh di Citarum. Secara fisik, infrastruktur jalan mulai dibenahi, sarana dan prasarana pendidikan sudah tersedia, namun pemercepat pertumbuhan yang diharapkan itu bernama jembatan penghubung dengan daratan. Karena wilayah kampung Sodong ini terisolir karena mesti berjibaku dengan arus Citarum. Kapal kecil jadi sarana transportasi penghubung, dengan ongkos menyebrang 10-20 ribu per orang, waktu yang ditempuh bisa memakan 9-11 menit ( apalagi pas malam hari yang agak deg-deg syer, sudah gelap, muatan barang penuh dan penuh dengan kang Imam *eh), akan Menambah massa jenis sehingga waktu tempuh di malam hari lebih lama hehe *ampun kang. Tepat pukul 20:30 sampai di kampung Sodong, sekeliwat masih ada warga yang masih beraktivitas, setelahnya sunyi sepi, hingga semua perbekalan sudah sampai ke tempat Pak Lurah, sebagai pusat aktivitas. Disambut ketua panitia, yang seorang Mojang Purwakarta pecinta Korea, Mrs Botih. Selanjutnya saling berkenalan dengan identitas, ada yang gampangan, introvert, Aceh banget, pemalu dll, hingga akhirnya waktu berlalu. Setelahnya berkumpul untuk membicarakan sesi motivasi besok, Alhamdulillah akhirnya ada Partner juga, ibu Dosen Dr Batam, Ibu Steffi yang baik hati rajin mengaji, tapi suka dibilang lelaki karena ada nama Adam di belakang namanya hehe. Membuat nametag, rundown kelas dan materi adalah setelahnya. Tepat pukul 10, semua menuju masjid untuk laki-laki dan perempuan tetep di rumah Pak Lurah. Alhamdulillah, malam itu sisa hujan masih membekas,jadi sisa-sisa kesejukan masih tersisa.

HARI KEDUA
( Koper Boy voluntrip #3, eh ransel Boy)

Adzan Shubuh mengawali aktivitas di tanggal 19 November 2016. Setelah mandi *pencitraan sekali ini hehe dan shalat, semua berkumpul kembali ke rumah pak Lurah, ke rumah singgah untuk menaruh perlengkapan kami. Pak Agus, yang juga expert dalam pembuatan Jala, adalah Owner rumah singgah kami. Saya, Alpiadi aka Adi ( Founder Urang Purwakarta, si hiperaktif & inspiratif ini adalah Jajaka Purwakarta, asli Cibatu, tak suka menganggu, suka membantu, tak suka ragu, tapi suka kamu) dan Rey ( Rahayu Saputro, mahasiswa komunikasi, model Hits Depok, suka memfoto dan bakso, tak ada tato, lungguh karso, tak cepet loyo). Kegiatan hari ini dibagi kedalam beberapa bentuk, sesi motivasi, sesi layanan kesehatan dan kaderisasi Posyandu, pembuatan abon dan sesi pertunjukan. Setelah sarapan pagi, kira-kira pukul 07:00 WIB semua bergegas ke sekolah. Jarak dari rumah Pak lurah ke sekolah kira-kira 200 meter, menuju sekolah satu atap Sukamukti.

Iya, hari itu telah tiba. Senyum bahagia khas pedesaan sudah mulai tercermin, wajah-wajah pribumi, elegi sekolah di sisi kali Citarum, menambah ranum edisi pagi ini. View bukit-bukit hijau dan sesekali kapal kecil membawa logistik berseliweran lewat, jam 08:00 dibuka setelah ada Ice breaking yang dibuka kak Pikli, Ansha dan Aziz. Dibuka Sambutan dari ketua panitia, perwakilan dompet dhuafa, perwakilan desa dan sekolah, selanjutnya ada pembagian bantuan secara simbolis, dan tadaaaaa, sesi inspirasi dimulai.  Saya bersama bu dosen aka Steffi, kejatuhan rejeki di kelas tiga. Jumlah mereka hari ini ada 6 orang, bagai sebuah skema lengkap yang saling berpasangan, 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan dari total 9 orang ( yang kemudian saat pembagian donasi jadi 7 orang). Kami masuk ke kelas 3, dengan keadaan terkunci. Alhasil, menyebrang lewat kelas Sebelah dengan pintu doraemonnya, selanjutnya masuk via lubang inspirasi. Awalnya mereka kaku, kami kemudian meminta mereka untuk menyapu kelas, dan kita bermain di atas lantai. Dibuka dengan tepuk semangat, dan membagikan nametag, untuk mengetahui nama-nama mereka sekaligus penulisan kelompok untuk pembagian kelompok pagelaran. Mereka terdiri dan cita-cita:

1. kamal _pesepakbola

2. Kardi_tentara

3. Rijwan_pegawai kantoran

4. Siska_guru

5. Siska Juwita_guru

6. Ayu_guru
(Sesi Keindonesiaaan)

Ada cerita menarik ketika sesi Ke-Indonesia-an,yaitu kami membawa peta Indonesia dan menunjukan betapa luasnya negeri ini. Mulai pulau terpadat hingga pulau terbesar. Selanjutnya kami meminta mereka untuk mencari letak kampung Sodong, desa Sukamukti, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta yang tak jelas di peta. Karena skala yang kecil hehe. Mereka saling menujuk tak karuan hingga ada yang berselisih paham. Ciri khas anak kecil, hal yang sama terjadi ketika pembagian makan siang, tebak-tebakan dan yang bisa dapat hadiah. Mereka bersemangat, ah seru sekali melihatnya. Mereka antusias sekali, harapannya, mereka tidak hanya terkotak dalam scope kecil kampung Sodong, melainkan kotak yang dinamakan dunia, hingga akhirnya nanti mereka termotivasi untuk melangkah lebih jauh. Melihat mereka semangat saja itu adalah kebahagiaan tersendiri, walau kami yakin, sehari dua hari, bukan waktu yang lama untuk menantang mereka berani bermimpi. Di sesi akhir, mereka membuat pesawat mimpi masing-masing yang di parkir di bandara mimpi, selanjutnya dipasang di tembok, di tempat yang mereka sering lewati, agar terus terpacu untuk mewujudkan mimpi.

Selesai sesi inspirasi, kemudian ada lomba dan break untuk kembali pada pukul 13:30. Sesi ini, adalah sesi pararel, relawan dengan background kesehatan mengisi aksi layanan sehat dan kaderisasi Posyandu, selanjutnya ada sesi pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan ikan nila menjadi abon, sisanya yang lain mempersiapkan pagelaran untuk malam hari.   Saya sendiri mendapat amanah untuk menjadi koordinator kelompok 3 bersama kak Mumut, (mahasiswi psikologi, yang rajin mandi dan gosok gigi, suka mengaji dan sedang menunggu tambatan hati) yang diisi adik-adik unyu kelas 3 dan 4. Kami menampilkan musikalisasi puisi dan menyanyikan lagu Indonesia pusaka, diiringi oleh petikan kak Imam ( yang butuh makmum, suka membuat kagum, baik hati, asli Parung tapi tak suka pundung)  Alhamdulillah pada pagelaran di malam hari kami mendapat juara dua *walau kami yakin waktu itu kami yang jadi juara pertama hehe. Kalah trending dari, mulai gak ya, mulai gak ya, mulai dong hehe ciptaan kak Ferdy ( asli Jasinga, suka becanda, tak pernah lupa, tetap gaya, tapi bukan buaya) yang jadi trending topic kampung Sodong. Tak apalah, setidaknya dress Code merah putih khas sekolah dasar, yang mereka sendiri yang memilih, tidak sia-sia dengan penampilan apik puisi dan suara mereka.

Acara berakhir dan diakhiri dengan refleksi, Dimana semua Relawan termasuk panitia, berkumpul bersama kacang rebus, ubi rebus, pisang rebus hingga snack ringan, untuk saling memberi saran dan keripik *kritik terhadap jalannya acara di hari kedua kami berada di sini. Alhamdulilah cuaca pun mendukung dengan cerahnya, semoga jadi berkah.
Hari ini acara full sekali, hingga sampai ke rumah singgah langsung tidur lelap tanpa tedeng aling-aling. Sekelumit cerita di hari pertama dan kedua ini adalah titik syukur bahwa kita yang berlebih dalam apapun atau pernah mengalami hal yang sama dulu, menjadi pemicu untuk terus bergerak, ke pergerakan selanjutnya. Karena ini bukan titik akhir, melainkan awal dari semua. Semua harapan anak Indonesia untuk bisa mencapai mimpi dan harapan mereka.

Tahukah engkau wahai diri, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya. Apalah guna ijazah tinggimu, sekolah kerenmu, hidupmu, hingga masa-masa luangmu, jikalau saja kau hanya bisa membanggakan semua tanpa mau berbagi, entah berbagi kisah atau hanya berbagi keluh kesah. Semoga kita tetap dalam jalur yang benar dan saling mengingatkan pada kebaikan.

Untuk cerita hari ketiga, mesti dipersiapakan mental nih sepertinya. Jadi ditunggu ya kelanjutannya :), karena memang memacu adrenalin hehe.

Dont Miss it!!

terima kasih untuk hari yang luar Biasa.

Bersambung ….

Explore the Horror Show 😂😂

#dompetdhuafavolunteer #voluntripround3 #purwakarta


One thought on “Voluntrip Round #3, bukan sekedar trip biasa ( part #1) 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s