Voluntrip Round #3, bukan sekedar trip biasa ( part #2)


HARI KETIGA, explore the “horror show”

Sudah seminggu, kau di relung ku, ada di setiap pagi, di sepanjang hariku. Tak mungkin bila, engkau tak tahu bila ku menyimpan rasa, rasa voluntrip yang sama. Setiap pagi ku menunggu di setiap Chat, menunggu kabar konyol darimu, wahai orang-orang ketce

Tulus-Sewindu ( maaf lirik agak dimodifikasi )

Pernahkah membayangkan gigi Anda yang sakit dicabut? Kemudian gigi tersebut karies dan abses, sehingga perlu dibor. Nah selain dibor, ada gigi terpendam (impaksi) yang menganggu jaringan saraf. Mahkota gigi Anda terganggu sehingga membuat linu. Selanjutnya bor-bor menghantam gigi Anda dan terasa cenat-cenut di dada, sehingga Anda berteriak kencang, tidaaaaaak, oh men, sakit. Ibuprofen pada kasus ini menjadi analgesik penghilang linu tersebut. Pertanyaannya adalah adakah hubungannya dengan voluntrip? Sejauh mana gigi ini berpengaruh terhadap jalannya voluntrip? Faktor-faktor apa saja yang menghubungkan antara voluntrip dengan kesehatan gigi?Pada beberapa penelitian, hal ini belum pernah diteliti. Jadi jangan pernah diambil pusing, cukup jawab TIDAK nyambung, kelar perkara hehe. Karena tidak ada korelasi, dan jaga sembung minum es kelapa, itu mah gk nyambung bapak *tepok jidat.

Rasa penasaran mulai menjadi pertanyaan, Geregetan sebelumnya untuk menuntaskan rangkaian cerita pada Voluntrip round #3 kali ini. Yeah, ini hari ketiga dari rangkaian acara yang berlangsung dari tanggal 18-20 November 2016. Hari terakhir dan paling gk bisa dilupakan. Bersama orang-orang keren dan ketce, momen menang terasa lebih cepat. Mungkin sama kaya momen pas ijab kabul, sedikit tertegun, waktu bagai cilok yang siap disantap. Tinggal hupp, berubah keadaan seketika.

Setelah kemarin acara penuh, implikasinya adalah tidur pulas, Adi dan Rei pun lelap dalam mimpi masing-masing, karena hanya lantunan dengkuran yang merdu, setidaknya menandakan segala sesuatu berjalan baik di hari ini. Entah mereka mimpi apa, seperti memeluk sesuatu, mungkin saja memeluk rindu, atau sedang memimpikan putri salju? Kemungkinannya kecil sekali, mana mungkin di Purwakarta ada salju hehe.

Langit tak seperti biasanya, suara anjing di luar cukup menganggu. Semacam kedatangan tamu, tepatnya di dini hari, minggu tanggal 20 November 2016. Sempat terbangun tiba-tiba lalu tidur kembali. Detak jantung agak berdetak cepat, nafas agak sedikit sesak, waktu itu suara parau terdengar, semakin lama semakin jelas, sekujur badan kedinginan dan merinding, iya, makin merinding, di suasana malam yang hening dan kelam, ada apakah gerangan? Suara makin kencang, ya Tuhan, sungguh aku berdebar. Peristiwa macam ini sering aku dengar, namun ini horor sekali, bak di hantam suara ultrasonic. Aku perlahan membuka mata, waktu tak bisa dipastikan karena suasana gelap. Darah semakin terpompa deras, akhirnya hal buruk yang aku perhatikan itu tiba. Ternyata,Aku sedikit masuk angin karena dekat kipas dan suara horor itu adalah koor suara ngorok, ngok, ngok, Persis lantunan maxim namun memakai piano rusak. Ritme teratur, seakan semua terkordinir. Bukan horor ternyata.

Suara ayam menyambut shubuh, beriringan dengan suara adzan. Kemudian pisang goreng bersama teh manis sudah ada tersedia di rumah Pak Agus, rejeki anak Kostan memang hehe. Aziz, yang tidak narsis, selalu optimis, tidak berkumis namun selalu tampil klimis, datang bersama Ferdy, untuk bersantap bersama. Kemudian disusul Ifan, si dokter tampan, Suka jadi relawan, pria idaman dan mencari pertemanan, Pikli, si jago history, tak pernah dengki dan selalu diingat di hati, tak pernah gundah, hanya hoby mencuci barang pecah belah. Setelah memakan pisang yang lezat, Dodo datang, Dodo si pria “sementara” jomblo, suka fotografi dan menyanyi, namun tak suka disakiti. 15 menit kemudian, bersiap ke rumah Pak Lurah, setelah pamit kepada ibu Agus.

Sampai rumah Pak Lurah, disambut oleh Pak Agus dan Partnernya, untuk belajar membuat jala. Tahap awal, menggulung kenur ke alat pemintal kenur *lupa namanya hehe. Pada tahap ini,kenur diikatkan ke kaki hingga memenuhi alat pemintalnya. Jika salah teknik, benang akan kusut. Iya, keadaan kusut ini horror sekali, seperti hati yang kusut. Apalagi kusut dalam kesendirian *curcol. Selanjutnya ada media berupa tali panjang, sebagai sarana untuk ikatan awal jaring. Jika dilakukan pemula dan rajin, waktu dua jam saya kira kurang cukup. Kebanyakan bisa desperate, karena tingkat kesukaran dan kesabaran. Tak salah nama memang, jaring ini dinamakan kerajinan. Karena memang mesti rajin dan ulet. Prosesnya yang manual membuat hati jlimetan. Akhirnya tidak ada satupun yang jadi, kecuali sample yang memang dibeli.

Tik-tok-tik-tok


( di sela perjalanan)

Waktu trip pun Tiba, hore, kami bersiap berangkat ke Curug. Konon Curug ini jarang dikunjungi warga, nah kami semua malah mengunjunginya. Jadi pertanyaannya adalah Mengapa kita ke sana? Di sepanjang perjalanan pertanyaan-pertanyaan lain timbul:

A. Mengapa warga semalam pas pagelaran bubar begitu cepat?

B. Mengapa kakak-kakak semua saat di sekolah dikelilingi anak-anak?

C. Suara anjing semalam pertanda apa?

D. Mengapa ada jam maksimal untuk keluar malam?

E. Mengapa handphone Dodo yang nonaktif, ada yang menjawab sampai tiga kali?

F. Mengapa dan mengapa?

Treking kali ini memakan waktu 1,5 jam. Kontur Medan berbatu, menanjak serta mudun. Disekeliling tanah longsor karena kikisan hujan, sesekali da kotoran sapi yang memanjang bagai pemisah Jalan, view bukit-bukit serta dari kejauhan ada Citarum dari tampak atas dan kampung Sodong dari kejauhan. Sesekali mas Rama dan mas Affan mengendurkan perut, karena perlahan kalori terbakar, sambil menarik nafas, untuk melanjutkan perjalanan. Anak-anak kampung sana ( akamsa) yang dipimpin Jae dan Jujun, tangguh sekali, menerjang Medan tanpa ampun, mereka sudah terbiasa, sehingga saat menanjak saja malah lari-lari, syuperr sekali memang.

Sebagai generasi milenial, Selfie, wefie hingga gaya-gaya fotografi lain, tetaplah menjadi kesatuan dalam perjalanan. Ada yang levitasi namun gagal beraksi, gaya goyang dumang, gaya mesra dengan modus minta foto bareng, chicken dance hingga penguin dance, gaya muka bebek, gaya jutek, ekspresi abstrak, hingga Monyong dan gaya miring, ah indah sekali, Seperti Indah, sang IT analys, yang populis, sedikit beralis, hobby melukis, namun dibuat klimis pria berkumis yang digantung status dan berakhir sadis *lho.

Melewati jembatan yang sedang dibangun sebagai akselerasi pertumbuhan, berdiri warung sebagai tempat persinggahan pertama. Pak dokter menikmati es krimnya, Dodo memilih es krim rasa buah, disusul Zeny, Ferdy, Teh Reny dan sadayana. Cuaca waktu itu memang agak panas, mendekati suhu 30 derajat Celcius ditambah perjalanan tak berujung, sehingga dianggap pas sebagai pelepas dahaga, walau es krim ini, bisa menimbulkan ekstra hidrasi karena gula dan gelatinnya. Rehat sejenak, 100 meter di depan, sudah ditunggu trek menuju air terjun yang saya lupa namanya hehe *maaf.

Disambut pohon karet dan petai China, jalan setapak sepanjang 900 meter sampai air terjun mesti di tempuh. Sesekali batu besar ada di hadapan, namun untuk pecinta batu tidaklah usah dibuat bingung, karena batu di sungai bukanlah kalsedon, melainkan batu biasa, jadi obsesi batu Ali, ditangguhkan sementara ya. Trek agak licin karena memang jarang dilewati, sesekali ada suara anjing, Fyi saja, binatang bebas seperti babi, masih lumayan banyak, sebagai bahan buruan. Jadi jika sengaja sendiri ke sini, suara-suara mendayu tersebut, cukup diabaikan saja, agar tidak menambah horror suasana.

Tadaaaa sudah sampai di air terjun. Mereka adalah teh Reny, Pak dokter, ibu dokter, Ayu, kak Imam, dan sebagainya, atuda banyak. Its playing time 😍😍, awalnya saya enggan untuk mandi. Karena saat memasuki trek Sampit menuju air terjun, beberapa batu, sungai, dan jalan berlumpur semuanya diloncati. Bukan maksud apapun, karena hanya membawa satu kaos kaki. Mengingat barang bawaan cowok tidak sekomplit bawaan cewek, alhasil alasan ini yang dipertahankan. Iseng mencipratkan air ke beberapa relawan.

” wah kak ombi curang, gk turun”

” aduh, baju basah kak ombi. Awas ya”

” akang, baju saya 😂😂”

Dan celoteh lainnya, akhirnya mereka berkongsi untuk membasahi saya. Adek tidak bisa berbuat apa, baju semua basah. Namun sepatu tidak untungnya, bagai sebuah peribahasa : ” nasi sudah menjadi bubur, saya tinggal membeli lontong ke sebelahnya. Karena ternyata buburnya dimakan yang lain hehe”. Gjubar, Mandilah, saya. Steffi, dokter Natasya, zeni, hingga beberapa panitia, terlihat Senang sekali melihat air. Dalam relung mereka berujar, ” wow ada air, ayo nyebur”, mungkin sih itu juga hehe.

Hal yang jadi pertanyaan pada titik ini adalah,

  1.  Mengapa ada bapak-bapak naik ke atas air terjun
  2. Mengapa anak-anak kampung sini ikut memanjat juga,
  3. Kemudian bapak-bapak mengingatkan agar tak terlalu lama di air terjun hingga fenomena kencing sembarangan di sana, mengapa?
  4. hingga panggilan misterius ke handphone Dodo yang membuat riuh kelompok tronton 1. Kenapakah?

NB= kelompok tronton ini mungkin adalah gabungan orang hyperaktif sekali, dari mulai perjalanan datang dan pulang, jika diperhatikan antusias sekali dalam memecahkan Sandi-Sandi hingga kode-kode unik, mirip puzzle YOSAN, yang melegenda itu, semua memang masih jadi misteri.

Suasana riang karena diselingi lomba makan kerupuk, lomba memindahkan karet dan uang, setidaknya meramaikan suasana hening. Bukan Retno hening ya, apalagi ajudan pribadi, landing yang disana, bos andalangue, twing-twing *salah fokus

Setelah puas, kemudian kami semua pulang, makan di Pematang sawah dengan kelapa muda. Ada kweni juga, sebagai penambah rasa panasnya cuaca waktu itu. Waktu sudah pukul 12 siang. Akhirnya ada sebagian yang duluan pulang, untuk sekedar mandi setelah berbasah-basahan. Sebagian lagi dengan pick up yang sudah disewa dan sebagian lagi ada yang jalan kaki.

( tim sasar, berpose dengan buldozer )

7 Pemudi dan pemuda, dengan komposisi 4 cowok dan 3 cewek adalah akhir dari cerita ini. Mereka adalah bunga, bintang, bulan, budak, akang, kadieu dan ujang ( bukan nama sebenarnya). Langkah kaki sudah tergopah, jalan mulai terbata-bata, ditopang oleh ATP yang sudah terisi namun berimplikasi ke mata, iya, habis makan terbitlah ngantuk.

Selangkah demi selangkah, kami mulai melewati jalan berbatu. Suasana waktu itu sudah mulai sejuk, karena angin telah menggeser panas, sehingga sejuk cenderung gelap tiba dengan santainya. Kotoran sapi yang menjadi jejak saat keberangkatan telah kami lewati, pertanda akan cepat sampai. Karena dari situ, jarak tidak jauh untuk menuju rumah pak Lurah.

Pada perjalanan tersebut, diselingi pembicaraan dan obrolan-obrolan intens tentang hal-hal sederhana, mulai umur, lulus sekolah, cita-cita pas kecil dan sebagainya, namun tak terasa perjalanan semakin jauh, tidak sampai-sampai. Kami mencari persimpangan jalan menuju Sukamukti, tapi tetap tak terlihat. Kemudian ada buldozer yang sedang merapihkan batu-batu, kotoran sapi semakin simetris, terstruktur, dan semakin banyak, jalan semakin aneh. Lalu kami memutuskan untuk berhenti sejenak, apakah ada yang aneh ? Tanya seseorang, sebut saja bintang. Kami terdiam, mengecek waze, Google Maps dll adalah sebuah keniscayaan, karena tidak ada location yang jelas. Langkah kongkrit kami adalah menggunakan GPS ( gunakan penduduk sekitar). Kami memutar balik jalan, kemudian bertanya dan tadaaaaaa, kami tersesat. Mau tanya Dora, Dora sedang cuti, mau tanya kamu, kamu tetap membisu. Akhirnya kami menemukan titik terang, Setelah menanyakan pada bapak bermotor ( kita sebut Pak Ujang),

Bunga : ” Pak kalo ke kampung Sodong arah mana ya? ”
Pak ujang :” wah, terlewat atuh neng. Ikuti Jalan ini saja, tidak jauh, nanti tinggal belok kiri”
Kami : ” makasih Pak Ujang “

Salah seorang nyeletuk, ” jalan ke kampung Sodong itu jangan-jangan yang ada gapura tulisan tambal ban deh”

Setelah berjalan, tersesat sejauh 2 kilometer, akhirnya terkuak juga, ternyata gapura tambal ban tersebut adalah gapura, ” selamat datang di desa Sukamukti”. Omg, selama perjalanan, kita bertujuh, tidak sadar bahwa itu adalah kata kunci untuk kembali ke kampung Sodong dan tak ada yang ngeuh, bahwa itu patokannya. Semoga dari kami bertujuh tadi tidak ada yang salah berujar kecuali salah kencing sembarangan mungkin hehe. Hujan mengakhiri perjalanan kami. Sampai saat ini, peristiwa kesasar ini masih jadi pertanyaan tersendiri hehe.

Hikmahnya adalah jin dan sejenisnya dimanapun kita berada pasti selalu ada. Asalkan kita tak gegabah berujar ataupun bertindak. Hilangkan Ketakutan, karena masih ada sang pencipta. Berdoalah, berdzikirlah, agar hati menjadi tenang.

Perlahan saat pulang dan bercerita di tronton 1, misteri-misteri tersebut mulai terpecahkan, dari mulai Hape Dodo yang ternyata dual aktif ( sehari setelah acara baru tertelusuri), anak-anak yang selalu bilang ada jurig ( jin), dan seterusnya. Pastinya, misteri selalu ada, dan butuh keberanian untuk memecahkannya. Karena misteri tak Akan lebih besar dari misgurita atau mispaus *nama ikan hehe. Biarkanlah semua damai dan tentram, setiap daerah memiliki keunikannya Masing-Masing, termasuk yang ditaksir oleh makhluk halus *cie-cie hehe.

Kadang semua tanya datang beserta jawaban, dan semua harap terpenuhi ( Banda Neira).

Closing:
Entah dari planet mana orang-orang ini berasal, sebentar bertemu namun sudah terasa kekeluargaan yang kental, sekental mie Aceh di waktu hujan ini, yummy *lho.

 ” Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin_Soe Hok Gie “

Arti berbagi itu sebenarnya bukan sekedar memberi kepada yang terberi, melainkan saling mendukung dan terinspirasi masing-masing.

Tahukan kawan, bahwa tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan kemudian jadi gurih-gurih enyoy?
Iya, semoga langkah dan pertemuan singkat kita pun tak berhenti sampai sini, tapi sampai gerak dan semua terhenti karena memang ke peraduan-NYA.

Mentari bisa saja menerangi, namun ia mesti mengalah dengan awan, lalu kemudian hujan. Hujan pun mesti mengakui bahwa angin bisa mengurungkan semua niatnya, hingga buliran air, tak jadi membasahi.

Karena makhluk kecil kembalilah, dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu ( Soe Hok Gie)
Terima kasih Sukamukti, semoga terus memberi arti, dengan niat ikhlas dari hati, bukan sekedar saling mencaci, tapi mari bersama mencari solusi.

Kalian biasa di Luar, eh, Luaaarrr Byasaaaa

NB= tulisan ini hanyalah pengalaman pribadi. Apabila ada kemiripan nama, kejadian, dll bisa jadi karena tempatnya sama dan event nya sama hehe. Jika ada yang berkenan, mohon dimaafkan. Apabila tidak nyaman, ya semoga dinyamankan saja. Tidak ada tendensi khusus, melainkan hanya sekedar berbagi kisah seru belaka. Saran dan kritik sangat dinantikan, baik kritik singkong maupun pisang.

#takenfrom #esiahidayahmadani #dompetdhuafavolunteer #voluntripround3


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s