Dimana kamu jadi dirimu sendiri? #VoluntripChallenge #day3 #Sepekanbercerita 


Ini memasuki #voluntripchallenge #day3 #sepekanbercerita temanya tak jauh dari realita masa kini hehe, yaitu dimana kamu jadi dirimu sendiri?

Dimana, Dimana, Dimana Kemana, kemana, kemana

( jangan diteruskan nanti malah jadi karaoke dangdutan 😂😂, neng mau ikut abang dangdutan?).

Pertanyaan Dimana cenderung mesti dijawab dengan tempat, bisa di sekolah, di rumah, di suatu kota, di kasur, di mana-mana, asal jangan di sumur, nanti kecebur.

Hmm, sebagai seorang yang SKSD ( bukan sistem komunikasi satelit domestik milik BUMN telekomunikasi ya), tapi sok kenal, so deket. Tempat tidak terlalu penting buat saya, asalkan saya bisa jadi saya yang sebenarnya. Bukan jadi serigala, anak jalanan, Naruto apalagi banci kaleng, selama saya rasa nyaman, Insha Allah semua bisa jadi diri sendiri.

Jika merujuk ke catatan prasasti Tatang sutarna, saya akan memprioritaskan beberapa tempat sebagai tempat jadi diri saya sendiri, yaitu:

1. Keluarga

2. Masjid

3. Kasur

4. Bus

5. Tempat olahraga

6. Tempat Dimana saya nyambung

So simple kan? Hehe
Iya hidup udah rumit, jadi bikin sederhana aja. Namun tak sesederhana restoran yang harganya wah itu ya.  Seiring waktu, seiring usia, seiring perjalanan dan seiring pengiring nikahan, ukuran normatif dan perspektif akan menjawab apa sebenenya hierarki tersebut.
Ukuran sebenarnya adalah ketika kita bisa kentut selepas-lepasnya, ketawa tanpa ada halangan, makan tanpa perlu gala dinner, makan jengkol sebebasnya ataupun tanpa canggung menunjukan kita yang sebenarnya.


Carl Jung ( Ahli Psikiater dari Swiss) menggambarkan manusia dengan konsep uniknya , yaitu persona. Kata persona diambil dari bahasa latin, yang artinya topeng yang digunakan oleh para aktor drama. Fungsinya juga sama dengan namanya yaitu sebagai “topeng” yang kita gunakan ketika kita berada dalam situasi sosial. Persona adalah yang menghubungkan antara kepribadian seseorang dengan lingkungannya, persona adalah “topeng” yang digunakan untuk berperan sesuai dengan tuntutan lingkungan sosial. Dalam lingkungan sosial kita pasti memiliki banyak tuntutan peran sosial, sebagai seorang suami, sebagai seorang istri, sebagai ayah, ibu, anak, sebagai seorang pelajar, sebagai seorang pekerja, bagaimana berperan di lingkungan tempat kita bermain, pokoknya peran kita itu banyak. Persona adalah “topeng” yang dipakai untuk memenuhi tuntutan-tuntutan peran tersebut.

Persona seseorang terlihat dari apa? terlihat dari cara dia berpakaian, cara dia berbicara, gerakan tubuh dia, bahkan pilihan kendaraan, makanan, dan sebagainya. Sebagai contoh, mungkin ketika kita berperan sebagai pelajar, mungkin pakaian kita adalah pakaian yang rapi, rambut disisir rapi, berbicara sopan kepada guru, dan sebagainya. Tapi, ketika kita keluar dari peran pelajar dan berada dilingkungan teman-teman bermain kita, kita akan mengganti “topeng” lagi. Mungkin ketika kita berada ditengah teman-teman kita, pakaian kita tidak begitu formal, cara bicara yang mungkin tidak begitu sopan, dan sebagainya. Dalam berbagai situasi sosial dengan menggunakan persona berarti kita akan menyesuaikan bahasa verbal dan non-verbal kita sesuai dengan tuntutan sosial.

Jadi salahkah ketika kita menggunakan “topeng”? tentu tidak, karena jika kita melihat berdasarkan uraian diatas tentu “topeng” tersebut dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Persona dibutuhkan untuk membuat kita diterima di lingkungan sosial, diterima di dunia luar. Persona itu mirip dengan superego dalam teorinya Sigmund Freud, karena persona itu adalah “topeng” sosial yang sesuai dengan norma-norma yang diterima oleh lingkungan sosial.

Walaupun demikian, Jung mengatakan bahwa persona itu topeng yang memiliki cermin dibelakangnya. Sehingga walaupun dia menggunakan “topeng” tersebut, dia tetap bisa melihat “muka aslinya” sendiri. Artinya, ketika kita menyesuaikan diri dengan menggunakan “topeng sosial” yang disebut dengan persona, kita akan tetap bisa merasakan dan tahu tentang perasaan-perasaan kita.Sebagai contoh, kita mungkin bertemu dengan orang baru yang tidak menyenangkan dan kita berusaha rama pada dia, berusaha tersenyum dan menyenangkan.

Tapi walau demikian, kita tetap tahu bahwa diri kita sebenarnya tidak menyukai orang tersebut.
Karena itu jika dikatakan menggunakan “topeng” itu melelahkan maka sebetulnya memang melelahkan. Beradaptasi dan memenuhi tuntutan sosial memang terkadang sangat melelahkan, terutama ketika tidak sesuai dengan diri kita. Kita perlu juga untuk melepas persona kita, kita perlu untuk melepas “topeng” kita secara teratur. Kapan? tentu saja ketika kita bersama orang-orang terdekat kita yang memang mau untuk menerima kita apa adanya, menerima diri kita yang sebenarnya.

Persona juga bukannya tanpa kekurangan, ada bahaya yang bisa didapatkan dari menggunakan topeng “sosial”. Pertama adalah bahaya jika kita terbiasa dengan satu persona saja, terbiasa dengan satu “topeng sosial”, atau dengan kata yang lebih mudah adalah terbiasa dengan satu peran saja. Sebagai contoh, kita sangat menyukai peran kita ketika kita berada dalam komunitas band underground, band metal.

Kebutuhan orang-orang yang berperan di komunitas tersebut mungkin akan berpakaian serba hitam, celana compang-camping, gestur dan cara bicara yang kasar.
Karena kita sangat menyukai peran tersebut, kita membawa peran tersebut kemana-mana. Ke tempat ibadah, ke tempat kerja, ke tempat belajar, ke rumah mertua, ke rumah pacar, pokoknya kita berperan seperti itu di berbagai situasi dan di berbagai tempat.
Tentu hal itu akan membawa masalah, karena peran sebagai anak band underground belum tentu cocok di berbagai situasi, belum tentu diterima di setiap lingkungan sosial.

Bahaya yang kedua adalah kita terlalu terbiasa dengan menggunakan “topeng sosial”, kita sangat takut dengan penilaian orang lain terhadap kita. Sehingga kita terus menggunakan persona kita dan kita menjadi seseorang yang selalu berusaha menyesuaikan diri dengan orang lain, menjadi seorang yang conformist. Orang-orang seperti ini bahkan tidak akan tahu dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan, apa yang mereka mau karena mereka terlalu sibuk dengan memenuhi tuntutan orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sangat cari aman dalam bersosialisasi.

Kesimpulan dari artikel ini adalah, persona itu sesuatu yang penting, kita menggunakan “topeng sosial” adalah sesuatu yang diperlukan. Kita menggunakan persona untuk mempromosikan kepribadian kita yang sesungguhnya. Yang bahaya adalah ketika kita terlalu terbiasa dengan persona kita.

Jadi buka dulu topengmu, buka dulu topengmu, bayar juga utangmu, jangan alasan melulu *lho salah fokus hehe.

Source:

Drymalski, A., Jungian Psychology Series: The Persona, diunduh dari http://jungstop.com/jungian-psychology-series-the-persona


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s