#VoluntripChallenge #Day4 #Sepekanbercerita


Kini tantangan memasuki hari keempat, entah sama dengan judul atau memang karena memory internal sudah mau penuh, gambar tantangan pun bermasalah, Dimana tidak bisa sampai rampung, stuck progresnya di 10%, tak bergerak sedikitpun. Sehingga jika ditanya kapan Anda tidak ada masalah, jawabannya selalu ADA.

Bagai sebuah risiko, masalah selalu melekat sebagai satu kesatuan hidup. Diciptakan masalah karena beberapa alasan, entah untuk menguji kita, mengingatkan kita, naik derajat keimanan hingga kita Semakin tersadarkan bahwa saking kecilnya kita, tak pantaslah hidup terus diberi kelancaran, agar tak jumawa.

Saat tidur mungkin kita terlepas dari masalah sejenak, namun setelah tidur, kita dihadapkan pada pilihan yang kadang menimbulkan masalah, ke tempat kerja\kampus dengan transportasi apa, mandi pake air hangat atau dingin, pake baju warna apa, sepatu yang mana, dan mau sarapan apa, sehingga masalah tidak bisa kita lepaskan.

Hadirnya agama, adalah salah satu tonggak bahwa kekacauan yang ada perlu ada garis temu untuk menemukan ketenangan, iya, ketenangan. Bersyukur jua kita telah dilahirkan dengan nikmat beragama, walau dengan label, keturunan. Sungguh suatu nikmat tiada terkira.

Saat kita kecil, masalah terbesar kita mungkin hanya PR matematika, Dimana berjibaku dengan Phytagoras, aljabar dasar, hingga bilangan cacah. Beranjak dewasa kita dihadapkan pada Phytagoras juga, namun dalam konteks cinta monyet segitiga. Nah kebayang kan, monyet aja punya jiwa manusiawi 😂😂.

Selanjutnya saat masuk ke fase transisi, kita dihadapkan pada persaingan dalam segala hal yang memacu hormon stress kita. Entah timbul masalah cabe-cabean, karena etilen yang instan, yaitu perpaduan kalsium karbida dengan air, sehingga seperti buah yang matang sebelum waktunya & menimbulkan masalah sosial baru, fase 4L4YLisasi sebagai fase menuju matang, fase ditolak/diphpin gebetan hingga merasa paling berat di dunia, sampai beberapa hal merasa tidak bisa hidup tanpanya, sebuah jawaban bulls**t. Buktinya loe masih bisa hidup kan? Hehe.

Setelahnya, fase maturisasi yang juga timbul dilematis, lanjut kuliah atau nikah, setelah kuliah mau kerja atau ke S2/S3, setelah kerja, bingung mau pilih perusahaan lokal atau multinasional, setelahnya bingung memilih pendamping, karena terlalu sibuk, waktu terasa cepat hingga tak sadarkan diri display Picture teman-teman kita sudah berubah jadi gambar bersama pasangan atau foto baby, sedangkan kita masih sibuk Selfie. Terlebih lagi drama-drama macam kehadiran tikungers yang merajalela, sehingga probabilitas semakin sulit, terlebih ketika 7 Milyar masyarakat dunia sakit hati, ada lagi juga yang sedang jatuh cinta. Oh Lala, fase industri, semua fase seperti penjara tersendiri.

Lalu, perlukah kita gamang akan setiap fase yang dihadapi? Jawabannya: tidak perlu, kita cukup menjalani saja, kita masih punya sutradara terbaik yaitu Rabb kita. Kita masih punya sahabat-sahabat terbaik kita sebagai councelor terbaik, keluarga kita yang terus SUPPORT maksimal dan kita masih punya senyum kita, agar endofrin kita muncul.

Masalah akan serius jika memang kita tak serius menghadapinya, termasuk strategi jitu menghadapi masalah. Berikut ini strategi jitu masalah tersebut:

  1. Anggap masalah sebagai teman, layaknya Tsubasa Ozora yang berteman dengan bola, anggap masalah kitapun sesuai kesenangan kita, misalkan dianggap sebagai Shaun the Sheep, Hello Kitty, atau seperti Minguk/Manse atau aktris drama Korea lainnya, buat pecinta drakor, anggap vampire baik jika penyuka hantu Eropa atau jadikan doi sebagai superhero
  2.  Semua masalah ada solusinya, kalo tidak juga menemukan solusi, berarti Anda yang bermasalah.
  3. Wahai masalah, engkau tak lebih besar dari Tuhanku. Mustahil sekali jika tetap termangu cantik-cantik-cantik bak princess tak mencari dan mengharap serta berdoa untuk memperoleh jalan keluar.
  4. Istiqomah dan sabar, karena tak semua orang tak mengalami hal seperti kita. Karena sebaik-baiknya rencana adalah rencana-NYA.
  5. Keep smile, kamu cantik-cantik cacar  berbintik.
  6. Isi kegiatan positif seperti olahraga, dzikir, mentoring, kajian. Hindari MLM untuk case ini, karena mengatasi masalah dengan masalah baru. Apalagi jika dikejar deadline, program atau tutup poin. Rasanya seperti dikejar Cheetah mungkin hehe.
  7.  Udah lah ya kebanyakan, kalo nanti terus tambah, justru masalah baru, kebanyakan teori miskin aksi hehe.

Sampai matipun kita tetap menghadapi masalah yang sama, masalah Amal baik/baik di Yaumil Mizan. Jadi, tetap kendalikan masalah. Ketika masalahmu terasa berat jangan lah pernah dijinjing, tapi digotong. Kalo masalahmu getir hadapi dengan smile, jika masalahmu selalu menghantuimu, sudah saatnya berhijrah, Kembali ke Titik nol. *dimulai dari nol ya.

Jadi, jika belum bisa jadi solusi, minimal tidak Usahlah ya jadi sosok bermasalah 😀😀👍🏼.

Salam Kuper, eh super 👍🏼.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s