Ramadhan : yuk banyak berdoa 


Ramadhan : fase kontemplasi diri

Alhamdulillah, Ramadhan selalu punya kenangan tersendiri di relung tiap orang. Karena punya fase cerita yang ingin terulang, walau beda setting, pemeran, hingga tawa maupun canda yang entah kapan bisa sama, memory seakan tersedia luas bagai cloud computing pada server yang baru di instalasi, bebas berekspresi, walau ruang sempit dan waktu yang terbatas. Termasuk jika masih sahur dibangunkan speaker masjid atau masih menikmati masakan ibu warteg *peace mblo.

Hidup terus berlalu, seakan waktu semakin cepat, hingga tak sadar deadline kuliah juga mesti di WiSuda(hi). Momok yang sering menguras otak, kantong, waktu hingga liburan *lho. Intinya jangan dijadikan beban, tapi jadikan investasi agar nanti bisa dikapitalisir hingga mendapatkan excess maupun access 😜😜.

Fenomena-fenomena seakan jadi pelajaran berarti, agar tetap mawas diri. Ketidakadilan, ketimpangan, kemiskinan, kekecewaan, penolakan, dikhianati hingga dibuat remuk, semoga jadi pelajaran berharga kita, bahwa memang skenario hidup tak melulu sesuai dengan ekspektasi yang kita harapkan, melainkan semua sesuai skema terbaik-NYA.

Ilmu jalanan adalah praktik empati terbaik dari hal-hal yang diagungkan, salah satunya sekolah. Pelajaran Moral yang fully wholly theory, hanyalah estetika, namun minim simpati, toleransi hingga keseringan, timbullah kebanggaan diri. Abang ojek online semangat bercerita tentang pencapaian poin di hari yang padat ini, abang bajaj bersyukur hari ini lancar, hingga akhirnya penumpang bersuka ria memilih warna biru, deretan favoritnya. Pedagang-pedagang emas di sebuah pusat grosir saling tawar menawar karena turunnya harga komoditas, seiring harga minyak yang terus terjun dan menguatnya kurs rupiah. Pedagang siomay menyeruput rokok penuh syahdu, sekilas melepas rindu dan peluh, sambil menghitung rupiah hari ini. Pedagang soto siap menyiram kuah dan koya, kemudian ditaburi bawang goreng, hingga siap disajikan.

Sore itu, bapak tukang parkir agak sedikit sendu. Hujan yang tak tentu berpengaruh terhadap penghasilan hari ini, karena jarang motor dan mobil yang singgah. Sambil memandang langit luas, senyum sumringah masih disimpan, untuk hari yang penuh syukur itu. Tak ada sumpah serapah, yang ada hanyalah sebuah penyerahan diri, bahwa semua sudah diatur sedemikian rupa. Pohon disekeliling kokoh, tak meronta bahkan meminta ditopang, membiarkan diterjang angin, ataupun dihinggapi burung, karena ia berprinsip biarkan bermanfaat, karena jika kelak ia mati, bisa saja tak berarti.

Di sudut gelap, seorang dengan wajah muram, berperawakan tegap, bermandikan keringat, bersepatu skets dengan ransel yang seakan berat untuk dibawa, menyeka. Sambil berlalu diantara tikus-tikus. Bergegas ia, menuju tempat peraduan sambil menenteng buku. Melewati kepadatan gang yang riuh dengan dagelan dan obrolan, dimulai dari obrolan rumah tangga hingga Pilkada, obrolan sepakbola hingga janda muda, obrolan harga cabe hingga harga kopi di Cafe, tumpah ruah, tak pasti dan tentu. Karena bukan sebuah jurnal atau paper yang punya sistematika tersendiri. Si kucay terus menuju sebuah tempat yang ia beri nama harapan.

Harapan yang tak sekeren eksekutif perusahaan konglomerasi Jepang yang rela jadi volunteer, harapan yang tak sekeren para filantropis, sehingga dunia tak lagi tak begitu timpang, harapan yang tak sekeren anak Sekolah Dasar yang dilewati tanpa pekerjaan rumah matematika, harapan yang tak Setegar mahasiswa residen obgyn yang standbye beberapa hari hanya untuk mata kuliah 2 SKS, harapan yang tak semudah mencaci orang-orang yang sedang berjuang agar dapat menjadikan manusia sesungguhnya versi diri.

Ramadhan bulan doa, yuk panjatkan doa terbaik untuk kita semua. Yang belum lulus agar segera lulus, yang belum menikah semoga jodohnya segera merekah *mie instan kali ya hehe, yang belum dapet THR semoga THRnya segera cair, yang belum punya mimpi dan harapan, yuk panjatkan. Karena inilah saatnya.

Perihal Ramadhan adalah bulan do’a dikuatkan lagi dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10: 14 mengatakan bahwa perowinya tsiqoh -terpercaya-. Lihat Jami’ul Ahadits, 9: 224).

Sumber : https://rumaysho.com/11185-tiga-waktu-terkabulnya-doa-di-bulan-ramadhan.html)

Semoga kita tetap Istiqomah dan tetap jadi manusia yang bersyukur.
Pejuang?

Hadapi!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s