Technogically Disconnect : istilah opo meneh iku


“The answer to our prayer of how to meet our children’s needs may be to more often technologically disconnect.”

( Sister Rosemary M. Wixom )

Pengorbanan ortu
bagaimanapun orang tua kita, selalu mengupayakan hal terbaik untuk anaknya https://id.theasianparent.com/ilustrasi-pengorbanan-orangtua/

Pada zaman yang booming hal-hal berbau teknologi di setiap sendi, kecenderungan orang dalam menggunakan bahkan kecanduan gadget semakin besar. Hal ini diperparah akan tuntutan serba cepat, hingga terbiasa ke rumah dan bisa menyita waktu bersama keluarga, terutama keluarga baru seperti saya. Kecanduan Game, Penggunaan Gadget berlebihan, Situs porno, konten tidak layak tonton hingga bullyng dan lain sebagainnya, adalah sebagian kecil effect dari ketidaksigapan peran orang tua dalam tumbuh kembang anak.

Belajar, belajar dan terus belajar adalah sebuat keharusan. Betapa tidak, apabila ada arus deras, tanpa adanya bendungan yang kokoh, mau tidak mau bisa kebanjiran bahkan kelimpungan tentang cara-cara maupun filter untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidahnya.

Melihat perjuangan orang tua kita dulu, sebenarnya jadi refleksi tersendiri dalam pola asuh terbaik, namun mesti disesuaikan dengan zamannya. Setidaknya hal ini sudah dicoba diaplikasikan di rumah, dengan pembatasan jam penggunaan handphone terakhir pukul 22.00 WIB. Seiring waktu, konsistensi mulai goyah, mungkin ke depannya mesti ada reward dan punishment, agar ada effect jera saat tidak disiplin hehe.

Future Shock (1970), banyak orang tersentak dan tersadarkan: bahwa kita sebenarnya sedang menjalani perubahan besar, perubahan yang ditarik oleh lokomotif kemajuan high technology. Faktanya saat ini kita sedang menjalani perubahan itu bersama gelombang revolusi ketiga umat manusia, yaitu terciptanya masyarakat informasi. Setiap gelombang peradaban manusia akan menghapus tren gelombang sebelumnya. Contohnya revolusi industri yang berlangsung 300-an tahun yang menghapus era ribuan tahun masyarakat agraris, demikian pula tren industrialisasi akan digantikan era masyarakat informasi. Setiap gelombang peradaban akan berpengaruh besar pada struktur maupun tatanan masyarakat, termasuk tatanan politik.

Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”

(Ali Bin Abi Thalib )

Era milenial yang kental dengan aroma teknologi, jadi tantangan tersendiri, generasi Z hingga Alpa-pun tak jauh berbeda dari si milenial ini.  Kekhawatiran mulai muncul sehingga kadang memikirkan bagaimana cara dan pola asuh terbaik di era informatika ini?

Dikutip dari Gohitz.com,  orang tua akan memiliki peran yang sangat signifikan untuk kesuksesan sang anak kelak dalam menghadapi aneka kompetisi di era global. “Ada empat karakter gaya mendidik dan pengasuhan yang bisa diterapkan orangtua. Dengan pola asuh yang tepat dan sesuai dengan karakter, baik orangtua maupun anak, diharapkan akan muncul generasi muda Indonesia yang tangguh dan unggul,” pungkas Joris.

  1. Ambitious Commander

Gaya pengasuhan ini memiliki tujuan yang jelas dan visi ideal bagi sang anak. Orang tua cenderung dominan dalam pengambilan keputusan dan mendorong anak untuk memiliki keahlian tertentu agar mereka selalu tampil unggul, baik di lingkup sekolah maupun luar sekolah. Bagi orang tua tipe ini, keberhasilan mereka diukur saat sang anak selalu menjadi si nomor satu.

2. Silent Achiever

Orang tua dengan gaya pengasuhan ini percaya bahwa pertumbuhan alami sangat penting untuk perkembangan sang anak. Mereka cenderung mencari yang terbaik bagi anak-anak dan membangun lingkungan yang dapat dapat menarik minat belajar anak.

3. Short-Term Worrier

Gaya pengasuhan ini memberikan kebebasan bagi anak-anak dan menyediakan pengaman bila mereka terjatuh. Mereka cenderung membandingkan performa anak lain sebagai tolak ukur dan menjadi khawatir ketika menyadari anak mereka mengalami ketertinggalan.

4. Happy-Go-Lucky

Gaya pengasuhan ini menekankan pada kebebasan perkembangan bagi anak mereka. Orang tua tipe ini memiliki kepercayaan besar akan kemampuan anak dan tidak khawatir akan tantangan yang akan mereka hadapi di masa depan. Mereka berusaha membangun hubungan yang kuat, mendukung kebutuhan sang anak dan memastikan mereka hidup nyaman dan bahagia.

jadi tinggal memilih mana cara dan gaya terbaik dalam mendidik buah hati anda!

 

Technogically Disconnect

Sambungan digital berguna; Banyak dari membuat beberapa kemitraan terbesar dengan orang lain melalui media sosial. Bahayanya adalah ketika cara menghubungkan ini  menjadi cara utama kita menghadapi orang lain. Karena telegram memberi jalan pada surat & surat ke panggilan telepon, sekarang kita berada di zaman di mana panggilan telepon memberi jalan kepada pesan teks yang terus mengikis kemampuan kita untuk melibatkan orang lain. Keuntungan dari koneksi tatap muka adalah jauh lebih mudah untuk menghubungkan secara otomatis saat ekspresi wajah, bahasa tubuh & reaksi kita saling mengungkapkan satu sama lain.

Tantangan yang disajikan dalam hal ini adalah bagaimana menyeimbangkan kegunaan teknologi dengan koneksi kehidupan nyata. Mungkin sudah saatnya mencabutnya sebentar. Mungkin kita dapat secara sadar memutuskan untuk menyisihkan teknologi kita sedikit lebih setiap minggu, hari, jam untuk hadir dalam kehidupan kita. Biarkan komputer mati selama sehari. Tinggalkan ponsel di rumah. Matikan tvnya. Luangkan waktu untuk orang-orang yang Anda sayangi untuk tinggal bersama satu sama lain tanpa bunyi pemberitahuan, panggilan & pesan teks yang tiada henti. Risiko hadir dalam hidup Anda … setelah semua, koneksi cukup sia-sia jika tidak nyata.

Technogically Disconnect versi saya adalah memulai hal kecil dengan mematikan, menonaktifkan hingga menjedakan perangkat telekomunikasi dengan tujuan untuk fokus dalam dunia dan imaji anak-anak kita dalam mendukung tumbuh kembangnya, berinteraksi dengan orang lain ( rekan, kerabat, orang tua maupun pasangan) sehingga tidak melulu fokus kepada gadget ataupun perangkat lainnya. Era dimana kita bebas berinteraksi tanpa melihat layar, mendengarkan musik sendiri hingga asyik sendiri dengan main games dan sejenisnya. tanpa merasa ada beban, merasa risih, mengikhlaskan hingga membiarkan diri kita masuk ke alam tanpa hambatan apapun. Era tanpa gadget dan bermain kelereng, main galah, main sepakbola. Bukan era main hati, main bunuh diri, main Baper *eh, hingga main santet-santetan.

Penelitan terbaru oleh McDaniel dan Coyne (2017) terhadap hampir 400 orang tua (ayah ibu) di Amerika menghasilkan temuan yang menarik. Ternyata technoference berhubungan dengan masalah perilaku anak. Jadi, semakin banyak orang tua melakukan technoference, misalnya menggunakan smartphone saat berinteraksi dengan anak, maka semakin besar peluang anak memiliki gangguan perilaku (gangguan kecemasan, depresi, agresi, dsb), sebuah fakta mencengangkan bukan?

Pangkal ketentraman dan kedamaian hidup terletak pada keluarga. Jadi mulai dari sekarang. bukan besok, lusa atau tahun depan. Mulai semua tuntutan dan ajaran dari keluarga. Mulai dari diri sendiri, dimulai dari hal kecil dan mulai dari sekarang ( AA Gym)

Harta yang paling indah adalah keluarga

_OST Keluarga Cemara_

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ( At Tahrim : 66)

 

yuk sama-sama saling mengingatkan !!

referensi:

http://nasional.kompas.com/read/2017/03/20/18204781/populisme.di.era.teknologi.informasi
https://id.theasianparent.com/ilustrasi-pengorbanan-orangtua/
https://nanannuraini.wordpress.com/2017/06/16/ternyata-menggunakan-handphone-sambil-mengasuh-anak-bisa-mengakibatkan-anak-mengalami-depresi-berbagai-penelitian-terbaru-mengenai-dampak-penggunaan-handphone-terhadap-keluarga/
http://www.gohitz.com/article/relasi/4_gaya_pola_asuh_orang_tua_era_digital
McDaniel, B. T. (2015). “Technoference”: Everyday intru- sions and interruptions of technology in couple and family relationships. In C. J. Bruess (Ed.), Family com- munication in the age of digital and social media. New York, NY: Peter Lang.
http://e-jurnal.stainwatampone.ac.id/index.php/an-nisa/article/viewFile/191/184
http://www.saybrook.edu/blog/2012/10/04/10-04-12/

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s