Tradisi Nganteuran di Cileungsi: Masih ada atau tidak?


rantang
Rantang, simbol abadi nganteuran ( source: Pinterest)

Bulan Ramadhan yang kita cintai perlahan akan segera pergi, suka cita yang dirasakan tiap orang berbeda. Semoga kita masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan yang istimewa dan penuh magfiroh. Bersiap-siaplah ditinggal kolak , asinan maupun gorengan * ini gak penting banget ya hehe.

Untuk sebagian orang, akhir Ramadhan ini dimanfaatkan untuk pulang kampung ( mudik) , namun untuk yang tidak punya kampung halaman, tenang saja, ingat saja halaman terakhir yang dibaca halaman berapa* apa ini hehe.

Tiap daerah punya keunikan tersendiri, salah satunya di sudut Bogor, Cileungsi dan sekitarnya, punya tradisi unik, yang dinamakan Nganteuran ( Sunda) /Nganterin ( Indonesia). Jika merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah

tradisi/tra·di·si/ n 1 adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; 2 penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan — , haruslah dihayati maknanya;

— lisan folklor lisan;
— tertulis folklor tulisan;

mentradisi/men·tra·di·si/ v menjadi tradisi: tingkah laku yang berlebihan dan omong besar dari pemimpin-pemimpin yang telah ~ haruslah dihapuskan;

mentradisikan/men·tra·di·si·kan/ v menjadikan tradisi: ada sebagian orang yang ~ berziarah ke makam wali setiap tahun

Jadi bisa dipastikan, tradisi ini bukan sesuatu yang wajib, namun jika tidak dilakukan berasa hampa. Iya hampa, karena memang sudah terbiasa dilakukan. Bagai pinang di belah dua, peribahasa ini tidak cocok sih digunakan pada perumpamaan ini.

Nganteuran/Nganterin berasal dari kata ngantar/nganteur yang artinya mengirimkan. Sehingga Nganteuran/Nganterin adalah tradisi mengirimkan makanan pokok berupa masakan, yang biasanya berlauk ayam ataupun daging ( sapi dan kerbau) , sayur kentang, sambal kentang balado berpetai, sambal ati hingga bihun yang ditaburi seledri * ini apaan sih ya puasa ngomongin makanan.

rendang
Rendang, salah satu contoh hantaran nganteuran. Gambar : http://resepur.blogspot.co.id/2016/01/resep-belajar-membuat-rendang-daging.html

Nganteuran/Nganterin ini biasa menggunakan rantang kepada tetangga, sanak saudara, orang tua, hingga calon mertua * eaa. Jika jaraknya masih dekat, masih bisa menggunakan nampan sih sebenarnya. Namun jika kita lihat filosofinya adalah kegiatan saling berbagi. memanjangkan silaturahim, mengunjungi kerabat yang lama tak bertemu di bulan penuh berkah ini hingga sarana “angpao” tambahan untuk si pengantar. Iya, tak jarang di hari Raya, anak-anak dan nenek/kakek lah yang uangnya paling banyak. Anak-anak menambah pundi kekayaannya karena upah nganteuran/nganterin yang menggiurkan :).

Konon zaman dahulu, nganteuran/nganterin dengan daging sapi atau kerbau termasuk barang langka,  karena mahal dan jarang dimakan. Mungkin, sama dengan tradisi menjelang lebaran lainnya, yaitu tradisi membeli baju bedug/baju baru, yang membuat inflasi makin naik saja hehe. Iya, sebuah anomali, karena mestinya di saat berpuasa, semua orang menahan hawa nafsu, termasuk nafsu belanja. Namun faktanya, nafsu melebur karena godaan setan diskon yang mempesona dan menggiurkan.

Lalu, apakah hukumnya jika Nganteuran/Nganterin ini tidak dilakukan?

Namanya tradisi, seperti ujaran di atas, tidak ada hukum tersendiri jika tidak melakukannya. Jika dirasa takut mubazir karena sebelum lebaran nanti banyak makanan, bisa saja diganti mentahnya. Namun jika masih ingin melestarikan, sah-sah saja dilakukan, atau kombinasi mentah dan nganteuran/nganterin ini dua-duanya dilakukan akan lebih bagus.

Tidak usah pro-kontra dengan tradisi ini, karena bukan suatu kewajiban apalagi saling nyinyir satu sama lain. Apalagi sampe update status hingga menimbulkan perpecahan di media sosial maupun dunia nyata. Esensi sebenarnya di akhir Ramadhan ini adalah terus meningkatkan ibadah kita, optimalkan semua amalah wajib dan sunahnya, hingga di hari Raya nanti benar-benar menuju Fitri, bukan Dona, Talisa ataupun Raisa.

Jadi menjawab pertanyaan di atas ( Tradisi Nganteuran di Cileungsi: Masih ada atau tidak? ), jawabannya adalah Bisa ada, bisa juga tidak. Karena tergantung Nego dengan tetangga/mertua/saudara

Kekayaan budaya Indonesia memang tak ada duanya, tiap daerah punya keunikan masing-masing. Jadi apa saja tradisi unik menjelang Lebaran di daerahmu??

Bersiap-siaplah menjelang Lebaran nanti, bersiaplah semua jawaban pertanyaan  ada di sini Tips Lebaran hehe

 


One thought on “Tradisi Nganteuran di Cileungsi: Masih ada atau tidak?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s