Kembali ke Udik : Mudik


Di Peta tiga jam, faktanya hampir 4 kali 3 jam ( peta : Google Maps)

Sama seperti Mudik 2016 tahun lalu,     Tradisi lain selain Nganteuran memuncak, semua elemen seakan kompak terlibat, Pemerintah, Swasta, Komunitas hingga Jomblo turut serta meramaikan perhelatan akbar Mudik 2017. Kali ini, saya yang ditinggal duluan Hisyam, meski naik bus sendiri untuk pergi ke Bandung lalu selanjutnya ke Tasikmalaya.

Hari ini diperkirakan jadi puncak arus mudik, karena semalam Jalan Tol Cikampek macet hampir 25 kilometer dan hari ini sudah 50 km lebih. Sebagian penumpang bus yang saya naiki, jadi bersuka cita, karena ada kebersamaan yang disengaja. Sehingga selama hampir 12 jam ada di bus, padahal hanya untuk menuju Bandung yang biasa ditempuh dengan waktu tiga hingga empat jam. WOW!!

Tampak Pemudik membawa barang bawaan ( foto: dokumentasi pribadi)
 
Anak kecil dari Bapak Sinaga (sebut saja beliau begitu), dari awal keberangkatan bus sudah menangis, merintih kesakitan. Karena memang keadaan ybs sedang kurang fit, sehingga pada kilometer 15 Jalan Tol Cikampek turun, untuk bersegera ke Rumah sakit. Semoga cepat sembuh ya.

Pemandangan lain, sebut saja ibu Euis, berlari keluar menuju toilet, di tengah perjalanan. Beliau sudah lama menahan pipis, hingga tak terbendung, akhirnya terpaksa keluar dan setelahnya berlari mengejar bus yang sudah melaju.

” Pak sopir, tungguin. Jangan ditinggal, kira-kira begitu gumamnya”. Karena ybs menikmati betul lari di siang hari ini, sambil tertawa geli, mengingat tingkah polah ekspresi sebelum dan sesudah menahan pipis.

Jika melihat ritme dan kebiasaan besar ini, sebenarnya kita kembali ke esensi mudik itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V ( versi KBBI terbaru), definisi mudik adalah sebagai berikut:


Saya menyebutnya seperti sebuah ritual tahunan yang sakral, karena kita sudah memprediksi perjalanan yang tidak seperti biasanya, namun tetep saja kita melakukannya. Sebuah titik balik perjuangan menuju titik awal kita dilahirkan, digodok karakter hingga titik awal mengenal cinta, dari kedua orang tua kita. Menemui orang tua, sanak Sodara, kerabat, teman yang jadi pejabat, hingga bernostalgia dengan suasana dan Kuliner kampung, sehingga kita, para pemudik menikmati betul hal-hal indah tersebut dengan syahdu. Mungkin hanya kenangan dengan mantan saja yang merusak momen, sisanya sih kenangan menyenangkan hehe.

Upaya pemerintah pun tidak main-main sebagai Event Organizer, pembangunan infrastruktur, percepatan proyek strategis nasional hingga menjaga kondusivitas, layak lah diacungi jempol.

Dibalik itu semua, ada yang tidak bisa mudik karena bertugas, Pak Polisi, Pak Tentara, Pak Dokter, Ibu Bidan, Ibu Perawat, Penjaga Jalan tol, dan profesi lain yang terlibat, semoga keringat dan tenaganya menjadi berkah tersendiri.

Kembali ke Udik, bukan berarti udik ( kamus Betawi yang artinya norak/tidak sopan). Melainkan titik balik menuju kita yang lebih baik.

By the Way,  nanti ceritanya dilanjut ya. Ternyata saya mesti mengantre ke toilet karena menahan pipis terlalu lama. Nantikan cerita selanjutnya.

NB: Mudik ini cita-cita saya dari kecil, karena memang tinggal di kampung, otomatis gak mudik dong. Alhamdulillah istri punya kampung, jadi cerita ini adalah cerita mudik kedua. Setelah pulang kampung saat kuliah dulu. Berarti tips untuk yang pengen mudik, cari pasangan yang bisa mudik 😁😁.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s