Rukyat dan Hisab: Saudara Kembar yang Identik


Posisi penentuan Hilal ( sumber: tarjih.or.id)

Diskusi menarik tentang Penentuan Dzulhijjah, Awal Ramadhan dan Idul Fitri sebenarnya selalu dinamis, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, metode yang digunakan sama-sama digunakan pada zaman nabi Muhammad SAW, sehingga saat perbedaan pendapat bukan karena keduanya beda, melainkan  kriteria yang ditentukan berbeda, tak perlu dibesar-besarkan, toh dua-duanya bagai saudara kembar, saling tak bisa dipisahkan dalam ilmu falak (Astronomi). Keputusan terbaik ya tetap mengikuti Pemerintah, sebagai Ulul amri, guna menjaga persatuan dan kesatuan umat.

Lalu, sekilas terlintas untuk browsing dan teringat blog salah satu Profesor Riset di bidang Astronomi, yaitu Prof. Thomas Djamaluddin, karena ilmiah dan mencerahkan, walau mesti buka banyak referensi, karena Astronomi dan Ekonomi lumayan beda jauh, sehingga elevasinya sangat jauh menyimpang . Ini tandanya saya mesti banyak belajar lagi hehe. Kuatkan a’im ya Allah menerima perbedaan ini  💪💪💪.

Dikutip dari Wikipedia, Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Mengutip dari salah satu artikel dari    Prof Thomas Djajaludin di atas:

Rukyat

Rasul SAW mengajarkan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) sesaat setelah maghrib sebagai penentu awal bulan karena itulah cara paling sederhana dan paling meyakinkan datangnya bulan baru. Menjelang akhir bulan ditandai dg terlihatnya bulan sabit pagi hari (QS 36:39). Setelah itu tdk terlihat apa pun, baik pagi maupun malam. Itu dinamakan bulan mati atau bukan gelap. Setelah itu barulah muncul hilal. Karena itu QS 2:189 mengisyaratkan hilal sbg penentu waktu (awal bulan).
Dulu orang melakukan rukyat hanya dg mata telanjang. Kemudian pengamatan visual dg teleskop utk memperkuat cahaya hilal yg tipis dan redup. Saat ini dibantu dengan kamera digital yg citranya bisa diolah lagi utk meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya syafak (senja).
Utk kepentingan ummat, hasil rukyat tdk begitu saja diumumkan. Rasul mengajarkan, pengamat melaporkan kepada Rasul, lalu Rasul memeriksa saksi, setelah diyakini sahih lalu Rasul yg mengumumkan. Contoh Rasul itu kini diikuti dg itsbat (penetapan) oleh oleh Menteri Agama sebagai wakil Pemerintah setelah memeriksa kesahihan kesaksian hilal dg mendengar pertimbangan para ahli hisab rukyat.

Hisab

Hisab (perhitungan astronomis) utk penentuan awal bulan qamariyah sesungguhnya sdh dikenal sejak zaman Nabi. Rasul di dalam hadits pernah menyatakan, “Kami ummat yg ummiy, yg tdk bisa membaca dan menulis. Bulan itu sekian dan sekian (dg memberi isyarat jari yg menunjukkan 29 dan 30 hari)”. Hadits itu bukan menyatakan ketidakpahaman Rasul pd hisab, tetapi justru menunjukkan bahwa hisab sdh dikenal, tetapi masih sangat sederhana.
Hisab diperlukan utk membuat kalender. Umar bin Khattab memelopori kalender Islam dg menetapkan Hijrah Rasul sebagai acuan tahun (disebut Tahun Hijriyah). Kriterianya mengunakan kriteria sederhana yg dikenal pd zaman Nabi. Kriterianya dikenal sebagai kriteria hisab urfi (kebiasaan, periodik), yaitu jumlah hari setiap bulan berganti-ganti: 29 dan 30. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29, Rabbiul Akhir 30 hari, dan seterusnya. Ramadhan selalu 29 hari.
Dzulhijjah mestinya 30 hari, tetapi saat2 tertentu 29 hari utk penyesuaian dg hasil rukyat. Kriteria itu perkembangan lanjut, bahwa dalam 30 tahun, 19 tahun panjang (Dzulhijjah 30 hari) dan 11 tahun pendek (Dzulhijjah 29 hari). Secara astronomis, itu beralasan karena satu bulan rata2 (dari hasil rukyat) adalah 29,53 hari.

Perkembangan Rukyat

Rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) awalnya hanya menggunakan mata telanjang. Pada tanggal 29 bulan qamariyah (lunar calendar) rukyat dilakukan dg mencari keberadaan hilal di sekitar titik terbenamnya matahari.
Bentuk hilal itu sangat tipis. Lingkungannya mengarah ke arah matahari, karena hilal adalah bagian bulan yg tercahayai matahari. Bagian ujung (“tanduk”) lebih tipis dari bagian tengahnya, seringkali tidak terlihat. Jadi, hilal bisa jadi tampak hanya seperti goresan cahaya yg sangat tipis. Sangat sulit dilihat, apalagi oleh pemula.
Dengan perkembangan ilmu hisab (perhitungan astronomi), perukyat dibantu dengan hasil hisab. Dibuatlah “gawang lokasi” berupa penanda dari dua batang kayu atau logam utk memfokuskan pengamat pada posisi hilal.
Perkembangan teleskop (dan binokuler) membantu perukyat untuk mengenali hilal lebih baik lagi. Fungsi teleskop hanya mengumpulkan cahaya hilal yg redup. Masalahnya, cahaya senja (syafak) juga diperkuat. Jadi, dengan teleskop masalah kontras antar hilal dan cahaya syafak tdk dapat diatasi.
Perkembangan teknologi kamera digital (dan CCD) serta teknologi pengolah citra (image prosesing) berbasis komputer makin mempermudah pengamatan. Apalagi teleskopnya kini banyak yg sdh dilengkapi komputer utk memudahkan mengarahkan ke posisi hilal.
Kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra bisa mempercepat menemukan hilal karena kontras hilal bisa sedikit ditingkatkan. Tetapi, masalah cahaya senja sebagai penggangu pengamatan hilal tdk bisa dihilangkan. Penggunaan filter tdk efektif utk meningkatkan kontras hilal karena sumber cahaya hilal dan cahaya syafak sama2 dari matahari dg cahaya dominan merah dan inframerah.
Masalah rukyat hilal yg utama adalah masalah kontras antara cahaya hilal yg tipis dan cahaya syafak yg masih cukup kuat di ufuk.

Perkembangan Ilmu Hisab
Ilmu hisab (perhitungan astronomis) penentuan awal bulan Hijriyah sesungguhnya menyertai perkembangan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama). Ilmu hisab dikembangkan dari analisis empirik data pengamatan jangka panjang, lalu diformulasikan utk prakiraan datangnya awal bukan masa yg akan datang.

Rasul SAW juga juga faham ilmu hisab, tetapi masih sangat sederhana. Dalam hadits, Rasul menyebut “… satu bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat jari: 29 dan 30 hari). Itulah hisab awal yg digunakan oleh Umar bin Khattab ketika menetapkan kalender Hijriyah. Hisab generasi awal itu disebut hisab urfi.

Hisab urfi hanya menghitung siklus berulang 29 dan 30 hari. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29 hari, Rabbiul Akhir 30 hari, Jumadil Ula 29 hari, Jamadal Akhirah 30 hari, Rajab 29 hari, Sya’ban 30 hari, Ramadhan 29 hari, Syawal 30 hari, Dzulqaidah 29 hari, dan Dzulhijjah 30 hari (utk tahun panjang) atau 29 hari (utk tahun pendek). Dzulhijjah dapat dikatakan sebagai bulan koreksi agar hisab kalender tdk jauh berbeda dg hasil rukyat.
Kemudian ilmu hisab mulai bisa menentukan waktu ijtimak (bulan baru, new moon, saat bulan-matahari segaris bujur, bulan mulai melewati matahari). Sejak itu awal bulan ditentukan dengan kriteria ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Artinya, bila ijtimak terjadi sebelum maghrib, sejak itu sdh memasuki bulan baru.
Perkembangan selanjutnya, ilmu hisab sudah dapat menentukan posisi matahari dan bulan serta saat terbenamnya. Pendekatan paling sederhana adalah menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Kriteria WH pd awalnya didefinisikan bila bulan terbenam lebih lambat daripada matahari, maka bulan dianggap sdh wujud saat maghrib. Jadi, setelah hilal dianggap wujud, sejak saat itu awal bulan dimulai.
Hisab yg lebih kompleks mempertimbangkan posisi bulan (terutama ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari) yg memungkinkan bulan dapat dirukyat. Itulah yg dinamakan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat) atau visibilitas hilal.
Ada beragam kriteria imkan rukyat. Saat ini kriteria imkan rukyat yg digunakan di Indonesia adalah tinggi bulan minimal 2, jarak sudut bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan (sejak ijtimak sampai maghrib) minimal 8 jam. Tetapi kriteria ini saat ini segera disempurnakan.

Penentuan Awal Bulan

Dengan hisab, penentuan awal bulan qamariyah (lunar calender) dapat dilakukan jauh-jauh hari. Aplikasi astronomi mudah diperoleh, baik bersifat komersial maupun gratis. Aplikasi gratis yg bisa diunduh di internet antara lain Stellarium dan Accurate Time (silakan googling).
Hisab menentukan posisi bulan (ketinggian dan elongasi –jarak sudut bulan-matahari–) saat matahari terbenam. Hisab dilakukan utk masing2 lokasi, misalnya utk Bandung, Aceh, atau tempat lainnya.
Jadi kapan Lebaran?

Yang pasti Lebaran jatuh pada 1 Syawal 1438 H. Nantikan saja sidang Isbatnya.

Terima kasih Ramadhan, atas tarbiyah dan semua hal-hal keren lainnya. Insya Allah, Semoga kita semua bisa bertemu di Ramadhan tahun depan.

Selamat berlebaran, selamat hari kemenangan


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s