KABAR GEMBIRA UNTUK ANAK AKUNTANSI: ” Redenominasi : Its Time to shorten the ZERO one “


APA SIH REDENOMINASI

 

apbn
Asumsi makro APBN 2017 (sumber: Kemenkeu)

Pemerintah telah menetapkan asumsi makro dalam APBN, untuk dijadikan dalam patokan dari jalannya roda pemerintahan. Pemerintah sebenarnya terlalu optimis terhadap target yang ada, melihat volatilitas yang ada dan makro negara-negara lain yang belum tumbuh. Dikatakan dampak positif dari penerapan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Paket Kebijakan Ekonomi I sampai XII diharapkan mampu menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi yang lebih adil dan merata di seluruh Indonesia, khususnya melalui keberlanjutan pembangunan infrastruktur.

Isu yang sedang hangat lainnya yang menyaingi kehangatan bajigur dengan pisang rebusnya adalah Redenominasi. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata denominasi /de·no·mi·na·si/ adalah harga surat berharga (sertifikat bank dan sebagainya) yang tercantum di dalam surat itu. Dengan demikian yang dimaksud dengan redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misalnya, uang Rp 1.000 menjadi Rp 1. Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.

Gagasan menghapus tiga angka nol pada rupiah seolah sudah di depan mata dengan upaya sosialisasi semacam tes pasar ke publik pada 2011-2012. Merasa yakin, akhirnya pada Juni 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengirimkan surat bernomor 25/Pres/06/2013 tentang Rancangan UU tentang Perubahan Harga Rupiah atau RUU Redenominasi kepada DPR.

Berdasarkan Pasal 3 ayat (5) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang dituliskan bahwa “Perubahan harga Rupiah diatur dengan Undang-Undang”. Perubahan harga rupiah yang dimaksudkan tersebut yakni redenominasi.

Redenominasi juga dapat mencerminkan kesetaraan kredibilitas dengan negara maju lainnya di kawasan. Redenominasi dapat mencegah terjadinya kendala teknis akibat jumlah digit yang besar dalam sistem non tunai. Yang ujung-ujungnya adalah meningkatkan efisiensi transaksi dalam perekonomian.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, persiapan awal penyederhanaan nilai rupiah butuh waktu dua tahun. Sehingga, diharapkan RUU redenominasi bisa dibahas segera tahun ini.
“Kita tahu kalau ini bisa dibahas 2017 bisa disetujui nanti prosesnya masih butuh waktu tujuh tahun, itu dua tahun persiapan sampai 2024, awalnya masa transisi lalu baru nanti tahap face out. Kita harap RUU ini bisa dibahas tahun 2017 apabila pemerintah dan DPR setuju,” ujarnya di Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Agus menyampaikan, sudah melakukan pembahasan dengan DPR sebelumnya. Hasilnya RUU redenominasi harus masuk prolegnas.

Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini diperkirakan masih cukup memuaskan. Meskipun sempat ada kekhawatiran ekonomi melambat akibat pelemahan daya beli, tapi Bank Indonesia (BI) dan para pakar ekonomi memperkirakan, laju ekonomi kuartal II-2017 masih bisa mencapai 5,1%. Sehingga atas dasar ini, Pemerintah optimis untuk melakukan redenominasi.

Penyokong pertumbuhan ekonomi juga berasal dari kegiatan ekspor-impor. Menurut Perry, ekspor non migas pada Juni 2017 masih meningkat karena perbaikan pada komoditas berbasis sumberdaya alam, seperti batubara, kelapa sawit, nikel, kopi, dan karet. Sementara kinerja ekspor produk kimia, alas kaki, bahan kertas, dan mesin alat elektronik juga mengalami perbaikan. “Lagi-lagi sektor eksternal itu masih memberikan sumbangan ke pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) di kuartal kedua tahun ini,” tambah Perry.

Perbaikan ekspor ini akan menghasilkan surplus pada neraca dagang Juni 2017 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (17/7). Perry memperkirakan besaran surplus mencapai US$ 1,4 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh surplus neraca nonmigas sebesar US$ 1,9 miliar. Sementara neraca migas mengalami defisit sekitar US$ 500 miliar-US$ 600 miliar.

Ekonom Institute For Development Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2017 hanya akan mencapai 5,05 YoY. Daya beli yang melemah menyebabkan ekonomi susah melesat dibandingkan kuartal I-2017 yang sebesar 5,01% YoY.

Sanering vs Redenominasi

Redenominasi bukanlah Sanering. Kebijakan Sanering ditujukan untuk mengurangi jumlah uang beredar akibat melonjaknya harga-harga barang dan jasa. Sanering jelas menyebabkan turunnya nilai relatif uang terhadap harga barang dan jasa, sehingga menjadi suatu kebijakan yang tidak populer di mata masyarakat. Berbeda dengan Sanering, Redenominasi yang dilaksanakan dengan baik tentunya tidak merugikan masyarakat karena tidak menyebabkan adanya penurunan nilai uang atau tidak berpengaruh terhadap harga barang dan jasa yang ada di masyarakat.

Nomor

Uraian Perbedaan
Redenominasi

Sanering

1. Dampak bagi Masyarakat Tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.
2. Tujuan
  • Menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam transaksi.
  • Mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional.
Mengurangi jumlah uang beredar akibat lonjakan harga-harga.
3. Nilai uang terhadap barang Tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. Nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.
4. Kondisi saat dilakukan Dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).
5. Masa transisi Dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. Tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.
6. Contoh/Ilustrasi Bila terjadi redenominasi 3 digit (tiga angka nol), maka uang Rp4,5 tetap dapat membeli 1 liter bensin. Bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka uang Rp4,5 hanya dapat membeli 1/1000 atau 0,001 liter bensin.

 

Negara-negara lain yang pernah melaksanakan Redenominasi

Berikut daftar beberapa negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya, baik dengan menambah ataupun mengurangi angka nol dalam pecahan uangnya yang dikutip detikFinance, dari berbagai sumber, Kamis (20/7/2017).

  1. Islandia menghilangkan 2 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1981.
  2. Rusia menghilangkan 3 angka nol dalam 3 kali operasi pada tahun 1947, 1961 dan 1998.
  3. Meksiko menghilangkan 3 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1993.
  4. Polandia menghilangkan 4 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1995.
  5. Ukraina menghilangkan 5 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1996.
  6. Peru menghilangkan 6 angka nol melalui 2 kali operasi pada thaun 1985 dan 1991.
  7. Bolivia menghilangkan 9 angka nol melalui 2 kali operasi tahun 1963 dan 1987.
  8. Israel menghilangkan 9 angka nol melalui 4 kali operasi pada 1980 dan 1985.
  9. Argentina menghilangkan 13 angka nol melalui 4 kali operasi pada 1970, 1983, 1985, 1992
  10. Brasil menghilangkan 18 angka nol, melalui 6 kali operasi pada 1967, 1970, 1986, 1989, 1993 dan 1994.
  11. Ghana menghilangkan 4 angka nol
  12. Zimbabwe menghilangkan 3 angka nol
  13. Afghanistan menghilangkan 3 angka nol.
  14. Turki mengurangi 6 angka nol. Redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.
  15. Belarusia

PENUTUP

Nilai mata uang Indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di antara negara lain. Dengan adanya redenominasi bisa menyederhanakan sistem akuntansi dan pembayaran. Dengan redenominasi atau penyederhanaan denominasi rupiah, jumlah digit rupiah menjadi lebih sederhana sehingga akan terjadi peningkatan efisiensi di sektor keuangan dan sektor riil. Negara Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua di ASEAN dengan nilai denominasi terbesar, yang tertera pada tabel berikut :

Peringkat Negara Mata Uang Denominasi Terbesar
1 Vietnam Dong (VND) 500.000 (lima ratus ribu)
2 Indonesia Rupiah (IDR) 100.000 (seratus ribu)
3 Laos Kip (LAK) 50.000 (lima puluh ribu)
4 Kamboja Riel (KHR) 20.000 (dua puluh ribu)
5. Brunei Dollar (BND) 10.000 (sepuluh ribu)
Singapura Dollar (SGD) 10.000 (sepuluh ribu)
6 Myanmar Kyat (MMK) 5.000 (lima ribu)
7 Filipina Peso (PHP) 1.000 (seribu)
8 Thailand Bath (THB) 1.000 (seribu)
9 Malaysia Ringgit (MYR) 100 (seratus)

Seperti penjelasan di atas, sebenarnya kita sebagai masyarakat tidak akan merasakan dampak nyata, karena bukan nilai yang berkurang, melainkan nol yang berkurang plus alasan logis lainnya, termasuk njelimet angka nol. Jadi saat melihat laporan keuangan tidak njelimet melihat angka nol hehe. Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, proses redenominasi ini perlu transisi waktu 7 tahun. Jadi sudah siapkah menyongsong era nol yang lebih ngena di mata? BERSIAPLAH!! SEMOGA BERGUNA

 

Daftar Pustaka:

  1. tirto
  2. warta kapital
  3. kumparan
  4. kompas
  5. kontan
  6. detik
  7. bppk kemenkeu

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s