Bermimpi dulu, perlahan menepi ( Sunatullah)


Katroks Boy goes to Bali

Pagi ini, algorithms canggih besutan Fesbuk membuat saya sedikit menertawakan diri sendiri, bagaimana tidak, ternyata saya pernah norak dengan berbagi foto yang katanya liburan di beranda. Bukan Niat mau pamer atau apapun sebenarnya, Karena Memang tidak Ada yang bisa dipamerkan. Seyogyanya sih karena Memang bukan barang pameran hehe.

Pernah saya berpikir sewaktu kecil dulu, ada iklan tentang Bali. Iya, sebuah pulau yang istimewa, sehingga seabreg penghargaan adalah bonus dari keelokan dan pengelolaan yang baik itu terletak di barat. Lambat laun setelah melihat peta dan globe, ternyata salah besar, sehingga seakan terkikis keinginan untuk ke sana. Mengingat keadaan yang tidak memungkinkan untuk ke sana.

Setelah menyelesaikan sekolah saya di Bandung pada tahun 2011, akhirnya ada keinginan untuk ke Pare, Kediri. Tujuannya sih ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris, walau ternyata jadi salah fokus karena malah solo trip mengelilingi Jawa Timur-Tengah-Lalu hampir sampai Lombok, namun terhenti di Bali *asal muasal cerita ini muncul. 

Perjalanan ke Pare, Mei 2011 adalah perjalanan terjauh saya. Maklum Ndeso, jadi kemana-mana tuh adalah kemustahilan yang absolut. Saya berkemas untuk menghabiskan waktu 1-2 bulan. Tujuan ke Surabaya dari stasiun Bandung. Perjalanan menghabiskan waktu 8-12 jam. Di perjalanan saya mengobrol dengan salah seorang bapak, sebut saja mister X, beliau adalah seorang kontraktor di Bekasi. Kami mengobrol banyak hal, hingga tak terasa perjalanan selama itu bisa berlangsung cepat.

” hati-hati ya mas, semoga selamat sampai tujuan”, ujarnya saat saya memasuki stasiun Jombang.

Kamipun berpisah, karena bapak X ini akan turun di Surabaya. Setelah menginjakkan kaki di Jombang, saya benar-benar merasa hilang, Dimana tidak ada satupun yang dikenal. Prinsip saya waktu itu nekat, sama nekatnya ketika saya meniatkan untuk sekolah di Bandung ( yang saya rasa dulu adalah perjalanan terjauh saya dari rumah, mungkin nanti kali ya bisa diceritakan hehe). Alhasil, setelah membaca peta dan artikel, saya langsung menaiki bus Tulungagung, untuk turun di Kediri, waktu itu ongkosnya sekitar Rp. 8000-12.000. 

Dasar si tukang Kepo, saya sok-sok ngobrol bahasa Jawa halus dan akhirnya harus blank spot karena bapak-bapak di sebelah saya ngobrol panjang dan saya hanya bisa bilang “ndalem”, sebuah ungkapan yang dipersamakan dengan kata “iya”. Padahal sih awalnya hanya menanyakan turun dimana untuk menuju tempat tujuan saya, celaka tiga belas 😅😂.

Setelah hampir 2 jam, akhirnya saya sampai ke tempat tujuan, jalan Brawijaya, Pare-Kediri. Dijemput teman yang ternyata sudah sebulan di sana, saya Persis tau dia di Pare duluan sebelum saya berangkat. Sengsara membawa nikmat lah ya.

Dari perjalanan awal ini, setidaknya saya belajar bagaimana bisa survive di lingkungan baru selama 1-2 bulan ke depan. Selamat datang tantangan. 

Akhirnya saya menginap di homestay Cepy, si pemuda Garut, kebetulan tetanggaan dengan macam imut Cisewu. Sambil membantu saya mencari kebutuhan kursus yang diinginkan, karena di Pare kursus baru dibuka di pertengahan dan di awal bulan. Plus mencari homestay untuk modal bercerita ke depannya, hingga akhirnya saya melabuhkan pilihan ke Zeal Boy 2. Sebuah homestay berlantai 2, tiap kamar berisi 3 orang, harganya ciamik, kurang dari Rp. 100.000. Full english selama seharian, sehingga jika tidak bisa ngomong, terpaksa pake bahasa Tarzan hehe.

Hari-hari semakin berwarna, karena berbagai suku mulai berkumpul dari adzan shubuh, hingga malam Tiba. Karena kami full Day belajar, sehingga waktu-waktu di kelas adalah kebersamaan yang tak bisa dianggap enteng.

Setelahnya………….::: ( bersambung ke sini)

Pelajaran berharga pada cerita di atas yang menggantung ini adalah

Perjalanan selalu menawarkan pemandangan yang berbeda, membuat kita dewasa atau terkikis oleh ego. Setidaknya yang saya dapatkan adalah kita belajar banyak tentang perbedaan, apalagi bagi seorang solo traveler. Dimana teman berasa saudara, dan saudara ataupun orang tercinta adalah sesuatu hal paripurna, iya, ia bagaikan sesuatu yang mahal untuk digapai, walau hadirnya adalah sebagai pelepas dahaga rindu. Saya rindu perjalanan itu.

Tak ada salahnya bermimpi dulu, karena Allah SWT maha baik. Jika kita terus mengulang-ulang, insya Allah bisa menepi.

Foto saat perpisahan dari Pare, karena mesti pulang ke kampung masing-masing
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s