LESS CASH, meng-Inklusi-kan Transaksi Keuangan


gnnt
Menuju Era kartu ( source : merdeka )

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi saat ini bergerak sangat cepat. Banyak teknologi-teknologi baru yang lahir dimana hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dalam berbagai bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan masih banyak yang lainnya. Hadirnya era digital menciptakan banyak inovasi-inovasi baru yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita pikirkan sama sekali. Inovasi-inovasi inilah yang pada akhirnya merubah gaya hidup seseorang.

Hadirnya teknologi informasi saat ini memacu suatu cara baru dalam kehidupan kita. Kehidupan ini lebih dikenal dengan sebutan e-lifeE-life sendiri jika diartikan secara sederhana memiliki arti bahwa kehidupan kita saat ini sudah sangat dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Lihat saja sekarang sudah banyak istilah-istilah baru dengan awalan huruf ‘E‘ yang merupakan singkatan elektronik seperti e-voucher, e-learning, e-money, e-commerce, e-government dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, pada Kamis, 14 Agustus 2014 di Jakarta secara resmi mencanangkan “Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)”. Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-69 Republik Indonesia di Bank Indonesia. Pencanangan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah serta Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia sebagai komitmen untuk mendukung GNNT. Acara ini diselenggarakan di Mangga Dua Mall, Jakarta yang merepresentasikan pusat transaksi keuangan. Pencanangan dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis dan juga lembaga-lembaga pemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non tunai dalam melakukan transaksi keuangan, yang tentunya mudah, aman dan efisien.

“GNNT ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society/LCS) khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya. Sebagai bentuk komitmen atas perluasan penggunaan instrumen non tunai, kami akan menjadikan GNNT sebagai gerakan tahunan yang didukung dengan berbagai kegiatan untuk mendorong meningkatkan pemahaman masyarakat akan penggunaan instrumen non tunai dalam melakukan transaksi pembayaran,” demikian disampaikan Agus D.W. Martowardojo dalam sambutannya.

APA SIH GNNT / LESS CASH SOCIETY

GNNT adalah salah satu program yang dicanangkan Bank Indonesia untuk menangkap potensi tersebut dengan mewujudkan less cash society. Less Cash Society adalah komunitas atau masyarakat yang menggunakan instrumen ekonomi non tunai dalam kegiatan ekonominya.

Apa Tujuan GNNT?

Tujuan dari GNNT sendiri adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis, serta lembaga keuangan pemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non tunai dalam melakukan transaksi keuangan agar lebih mudah, aman, dan efisien. Beberapa transaksi non tunai yang bisa kita temukan diantaranya adalah:

  • Transaksi melalui internet banking,
  • SMS banking,
  • Mobile banking,
  • Automated teller machine (ATM)
  • Kartu kredit & kartu debet
  • Transaksi melalui Mesin EDC 

     

Manfaat

Berbagai manfaat dapat dirasakan dengan bertransaksi nontunai:

  1. Kepraktisan bertransaksi dan keamanan dalam membawa instrumen non tunai dibandingkan dengan uang tunai.
  2. Efisiensi biaya antara biaya produksi instrument nontunai dengan biaya pencetakan, peredaran serta pengelolaan uang tunai tunai.
  3. Pencatatan transaksi secara otomatis sehingga memudahkan dalam menghitung aktivitas ekonomi. Hal tersebut tentu dapat mencegah underground economy yang umumnya dilakukan dalam bentuk tunai.
  4. Penggunaan alat pembayaran non tunai juga akan meningkatkan sirkulasi uang dalam perekonomian (velocity of money).

Bank Indonesia selaku otoritas Sistem Pembayaran memandang perlunya upaya untuk mewujudkan LCS. Hal tersebut terlihat dari komitmen Bank Indonesia untuk mendorong elektronifikasi terhadap transaksi pembayaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pemerintah, pelaku bisnis atau masyarakat. Beberapa program telah dilaksanakan seperti elektronifikasi terhadap moda transportasi, retribusi parkir hingga penyaluran bantuan sosial secara non tunai kepada penerima.

Dalam implementasinya, industri telah menyediakan berbagai instrumen non tunai seperti uang elektronik yang dapat ditemukan dalam bentuk kartu (chip based) maupun berbasis server dalam telepon genggam (server based). Inovasi ini dilatarbelakangi dengan jumlah pengguna telepon genggam dan internet di Indonesia yang meningkat setiap tahunnya dengan hampir setengah dari total jumlah pengguna internet (49%) berusia 18-25 tahun.

Sebagai generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan cenderung gemar dengan kebaruan, generasi muda diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam perubahan sikap sehingga dapat menciptakan komunitas Less Cash Society di lingkungan sekitarnya.

 

So, are you ready to be a part of Less Cash Society?

Inovasi Bersama Layanan Keuangan Digital
Layanan Keuangan Digital (LKD) merupakan kegiatan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau yang biasa disebut agen LKD. Layanannya menggunakan sarana dan perangkat teknologi berbasis mobile maupun web dalam rangka mempermudah akses keuangan bagi masyarakat.

LKD merupakan inovasi dengan visi untuk membawa masyarakat dari bertransaksi tunai menjadi nontunai dan belajar menyimpan atau mengelola uang serta dapat melakukan transaksi keuangan dasar seperti pembukaan rekening uang elektronik, setor tunai, tarik tunai hingga secara nontunai seperti pembayaran dan transfer.

Hingga Agustus 2016, pertumbuhan jumlah agen maupun penggunaan dan nilai transaksi uang elektronik meningkat cukup signifikan. Terlihat dari jumlah rekening uang elektronik melalui LKD yang tercatat sebanyak 1,234,531 rekening dengan nominal uang elektronik pada agen adalah sebesar Rp. 43 Milyar. Sementara itu, total jumlah agen LKD yang tercatat adalah sebanyak 106,404 agen di seluruh penjuru Indonesia. Kesuksesan penyelenggaraan LKD tersebut tidak terlepas dari peran agen LKD sebagai perpanjangan tangan perbankan.

Dengan memanfaatkan perluasan LKD, Bank Indonesia bersama Kementerian/Lembaga terkait menginisiasikan kegiatan penyaluran dana bantuan sosial (GtoP) melalui agen LKD untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

Di samping itu, LKD diharapkan mampu mendorong terpeliharanya stabilitas sistem keuangan. Terutama, terciptanya diversifikasi sumber dana baru dan kredit secara tidak langsung, melalui tersedianya layanan (service provider) sampai ke pelosok melalui media nontunai.

Bagaimana perkembangan inovasi LKD akan memberikan manfaat bagi masyarakat?
Scale Up dengan e-Commerce!
E-commerce (electronic commerce) yang dalam bahasa Indonesia disebut perdagangan elektronik adalah pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau jaringan komputer lainyaa. E-commerce melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.

Tujuan e-commerce adalah menciptakan lingkungan komersial yang baru dalam bentuk elektronik dimana beberapa tahap yang umumnya terdapat di antara penjual dan pembeli dalam transaksi komersial dapat diintegrasikan sekaligus dan otomatis secara elektronik. Dengan demikian, hal ini dapat mengurangi biaya transaksi.

Di Indonesia, e-commerce merupakan evolusi dari iklan baris yang biasanya ditemukan di koran cetak hingga menjadi iklan baris ke website secara online. Perkembangan bisnis e-commerce turut memunculkan berbagai mekanisme pembayaran bagi nasabah pengguna seperti transfer dana, APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu), uang elektronik hingga e-wallet. Berkenaan dengan hal tersebut, Bank Indonesia selaku regulator Sistem Pembayaran memandang perkembangan e-commerce sebagai sebuah potensi yang membutuhkan regulasi agar tetap berada dalam koridor kehati-hatian tanpa mematikan laju inovasi.

Merujuk pada populasi penduduk Indonesia yang sangat besar, potensi perkembangan e-commerce di Indonesia turut memungkinkan Indonesia menjadi pelaku ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan proyeksi nilai transaksi e-commerce 130 miliar dolar Amerika per tahun.

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan e-commerce telah menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan ekonomi. Sebagai bentuk inovasi pengembangan teknologi pada sistem pembayaran, e-commerce memegang peranan penting dalam memberikan platform baru kepada pelaku bisnis serta menyediakan pilihan segar bertransaksi non tunai kepada mayarakat. Sistem e-commerce akan memberikan nilai baru dalam proses pembangunan ekosistem sistem pembayaran non tunai yang sehat dan progresif.

 

2017, Bersiap dengan e-Toll di 2017

etoll
bersiap menuju era Less Cash ( source : Bank Indonesia)

 

 

SUMBER:

Jejeblog

Bank Indonesia

net cj

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s