MATA ELANG, bukan Elang yang Sebenarnya


 

MATA ELANG
mata elang, bukan elang sebenarnya ( sumber: dokumen pribadi)

PENDAHULUAN

Di sudut sempit Ibukota, perlahan menjadi ibu tiri sekarang, “kejamnya” berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga apapun caranya untuk bertahan, profesi apapun, asalkan halal tak salah kita lakukan.

Di keramaian, di sela lampu merah, hingga di sudut-sudut sempit pemandangan sore, muncul beberapa orang menggunakan smartphone yang umumnya communicator, sambil memandangi layar, khusyuk melihat nomor kendaraan yang melintas untuk mencocokkan data yang dimiliki, data di sini tepatnya adalah data debitur macet, sehingga tak jarang, hasil temuan dan kecocokan data, lalu dikejar, untuk kemudian diambil kendaraannya. Khalayak umum, menyebutnya Mata Elang. Fakta di lapangan, ada juga sih yang bawa buku hehe.

Profesi baru ini memang potensial, melihat data statistik keluaran BPS tahun 2016, jumlah pengendara di DKI untuk motor saja sudah 13.989.590 motor dan mobil 3.469.168. Bank Indonesia (BI) dalam Surat Edaran BI No 15/40/DKMP tanggal 23 September 2013 mengatur bahwa syarat uang muka Down Payment (DP) kendaraan bermotor melalui bank, minimal 25% untuk kendaraan roda dua dan 30% untuk kendaraan roda tiga atau lebih untuk tujuan non produktif. Serta 20% untuk kendaraan roda tiga atau lebih untuk keperluan produktif. Menurut Riset Mars Indonesia, menunjukkan bahwa 81,2% pembeli mobil dan 95,7% pembeli motor melakukan pembeliannya melalui kredit dan sisanya membeli dengan cash/tunai. Rata-rata kredit mobil yang disalurkan perusahaan multifinance Rp. 120 juta per unit dan kredit motor Rp. 13 juta per unit, berarti total kredit kendaraan bermotor selama 2013 adalah sebesar Rp. 348 Trilliun. Angka ini diperoleh dari total penjualan mobil dan sepeda motor sepanjang tahun 2013 yang berjumlah 1,2 juta unit dan 7,7 juta unit. Kredit kendaraan bermotor pada tahun 2013 masih dikuasai oleh multifinance sebesar 95,8%, sementara bank hanya menguasai 4,4%.

Taruhlah kita memakai estimasi kredit macet 2% dari total kendaraan yang ada ( source : Bank Indonesia), maka 279.792 unit motor dan 69.383 mobil mengalami kredit bermasalah, menimbulkan peluang profesi baru sebagai debt collector, sebagai penyelamat untuk piutang bermasalah bagi perusahaan, tapi jadi trauma tersendiri untuk konsumen.

Masalah yang dilimpahkan ke Mata Elang ini di antaranya:

  • Debitur sulit dicari
  • Kendaraan sudah berpindah tangan (dijual), tak diketahui keberadaannya
  • Kendaraan digadaikan
  • Kendaraan sudah tak terlacak

Jasa Mata Elang dipakai begitu si pemberi kredit juga sudah merasa putus asa untuk menagih secara prosedural tapi debitur tetap membandel. Inilah alasan kenapa debitur yang ‘membandel’ ini diserahkan ke pihak eksternal, dalam hal ini ‘Mata Elang’.

 

ASAL-MUASAL MATA ELANG, Kita sebut makhluk ini NPL, sebuah Momok untuk Industri Perbankan

Dilansir dari Kredit Gogo, NPL atau Non Performing Loan merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas aset bank. Indikator tersebut merupakan rasio keuangan pokok yang dapat memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, risiko pasar dan likuidasi.

NPL yang digunakan adalah NPL neto yaitu NPL yang telah disesuaikan. Penilaian kualitas aset merupakan penilaian terhadap kondisi aset bank dan kecukupan manajemen risiko kredit. Ini artinya NPL merupakan indiakasi adanya masalah dalam bank tersebut yang mana jika tidak segera mendapatkan solusi maka akan berdampak bahaya pada bank.

NPL yang juga dikenal dengan kredit bermasalah ini memang bisa berdampak pada berkurangnya modal bank. Jika hal ini dibiarkan, maka yang pasti akan berdampak pada penyaluran kredit pada periode berikutnya.

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%. Rumus perhitungan NPL adalah sebagai berikut:

Rasio NPL = (Total NPL / Total Kredit) x 100%

Misalnya suatu bank mengalami kredit bermasalah sebesar 50 dengan total kredit sebesar 1000, sehingga rasio NPL bank tersebut adalah 5% (50 / 1000 = 0.05). Semakin tinggi nilai NPL (diatas 5%) maka bank tersebut tidak sehat. NPL yang tinggi menyebabkan menurunnya laba yang akan diterima oleh bank.

Apakah Mata Elang Legal?

Seorang Netizen di Kompasiana tegas menjawab adalah ILEGAL. Mata Elang memang sebenarnya merupakan profesi outsourcing yang disediakan oleh pihak leasing/bank untuk mencari motor yang bermasalah. Mereka bisa memiliki 2 opsi profesi ini, bisa menjadi debt collector, bisa jadi perampok/penjambret.

Beberapa kali saya melihat langsung, motor dan mobil dirampas seketika oleh mata elang ini di sekitaran Salemba, Cibubur dan CIleungsi. Terkesan memaksa untuk diambil, hingga tak jarang sedikit kekerasan digunakan. Dengan adanya Mata Elang ini, adalah sebuah tindakan ilegal dan melanggar undang-undang No. 42/1999 tentang penjaminan Fidusia. Juga mengancam perlindungan konsumen dalam mengajukan dan bertransaksi melalui kredit, meskipun kualitas kredit terbilang lancar. Sekaligus melanggar Peraturan Kementerian Keuangan dimana peraturan ini melarang leasing atau perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan. Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/2012, tentang pendaftaran lelang Fedusia bagi perusahaan pembiayaan yang dikeluarkan tanggal 7 Oktober 2012.

Hal tersebut tercantum dalam pasal 368, pasal 365 KUHP ayat 2, 3 dan junto pasal 335 yang berbunyi,  Tindakan leasing oleh Debt Collector/Mata Elang yang mengambil secara paksa kendaraan di rumah, merupakan tindak pidana pencurian. Jika pengambilan dilakukan di jalan, merupakan pidana perampasan.

Jika para penagih utang berusaha merampas barang cicilan anda, tolak dan pertahankan barang tetap ditangan anda. Sampaikan kepada mereka jika tindakan yang dilakukan adalah kejahatan. Dalam KUHP jelas disebutkan yang berhak untuk mengekskusi adalah Pengadilan. Jadi apabila mau mengambil jaminan harus membawa surat penetapan eksekusi dari Pengadilan Negeri.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK/010/2012 tentang pendaftaran Fidusia yang mewajibkan leasing mendaftarkan jaminan fidusia paling lambat 30 hari sejak perjanjian kredit ditandatangani. Leasing yang tidak mendaftarkan jaminan tersebut terancam dibekukan usahanya.

Bagi para konsumen, disarankan untuk menanyakan soal fidusia ini kepada leasing dan pastikan bahwa jaminan telah didaftarkan. Menurut Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011, satu-satunya pihak yang berhak menarik kendaraan kredit bermasalah adalah kepolisian

Troubleshooting Dasar “Mata Elang”

Jika menghadapi masalah dengan Mata Elang dan obyek/barang kita dirampas oleh Mata Elang, ada beberapa teman-teman Kaskuser yang memberikan saran seperti ini (pastikan juga pihak ybs memiliki SKP/surat tugas penarikan resmi dari leasing) :

  1. Kumpulkan Bukti Tertulis (Seperti surat penarikan, tanggal dsb), oleh konsumen yang mendapat fasilitas kredit oleh leasing.
  2. Segera datangi kantor leasing yang mendapatkan fasilitas kredit, dengan bukti punya obyek/barang yang dikredit dan sebaiknya disampaikan nanti ke pihak manager leasing.
  3. Jelaskan kronogis penarikan paksa ini secara detail, jika motor ditarik disebabkan karena penunggakan, maka penarikan bersifat resmi dan dimasukkan dalam gudang dan konsumen sudah tutup piutang dengan leasing. Jika masih ada yang meminta tagihan, maka ada pihak yang “bermain”.
  4. Jika memang terpaksa ada yang meminta tagihan dan ada indikasi pada no. 3, maka konsumen wajib berani menghadap ke manajer leasing untuk menjelaskan kronologisnya. (kecuali ada kesepakatan saat penarikan)

Berikut ini tips sederhana untuk menghadapi Mata Elang, jika sudah terlanjur kecebur versi Duit Pintar :

  1. Menepi di tempat ramai bila diberhentikan paksa di jalan
  2. Cabut dan amankan kunci kontak kendaraan
  3. Jangan panik dan bicaralah seperti biasa, tanyakan dan catat identitas mereka
  4. Beri mereka kesempatan untuk mengecek kendaraan dan jangan lupa difoto
  5. Tanyakan identitas pemilik kendaraan yang tertera di buku mereka
  6. Jangan berikan STNK kepada mereka
  7. Bila memang ada masalah cicilan, bicarakan dengan baik-baik
  8. Bila memungkinkan, segera lunasi cicilan dengan mentransfer
  9. Bila tak bisa membayar cicilan, segera ke kantor cabang leasing untuk membicarakannya.
  10. Kalau tak sanggup bayar, tagihlah surat penarikan kendaraan (SPK)

 

KESIMPULAN

Jadi Tetap Waspada, pastikan jika melakukan kredit tidak didasarkan atas keinginan, melainkan kebutuhan, apalagi hanya sekedar ingin mengikuti gaya hidup. Perencanaan keuangan sangat penting, untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menggunakan uang secara bijak. Kuncinya, kalo belum mampu bersabarlah, usaha dimaksimalkan dan jangan lupa terus berdoa dan tetap sayangi orang tua kita.

Ingat, Gaya Hidup bisa membunuhmu. Semangat untuk terus hidup sederhana, agar kita terus pandai bersyukur dan menghargai nikmat sekecil apapun.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْبَذَاَةَ مِنَ الْإيْمَانِ

Sesungguhnya hidup sederhana termasuk cabang dari iman.

Semoga saling mengingatkan !!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s