Paradoks


domino
Dadu ( sumber: Open Clip Art )

Cuci kakimu sebelum kau tidur
Ambil secarik kertas tuliskan mimpimu
Menjadi apapun yang kau inginkan
Karena mimpi takkan berlari

Buka matamu oh sambutlah pagi
Jika belum terjadi jangan kau sesali
Masih ada waktu tuk nikmati hidup
Sebelum nanti akan berhenti

Meskipun tak setinggi langit
Dan hanya menjadi sebuah tradisi
Tapi ku kan slalu mengejarmu
Dan kau takkan berlari

Cita-cita setinggi langit atau tanah
Ku pasti bahagia

_Endah&Rhesa_Mimpi_Takkan_Berlari_

Setelah lama tak menulis langsung, rasa kangen itu tiba-tiba datang. Iya, ia bagaikan sentuhan angin yang memberikan sedikit kesejukan. Ya, apalagi memang terasa banyak hal yang ingin diutarakan, bukan selatankan, baratkan, ataupun Shahruk Khan. Bukan semuanya hehe.

Sesekali telpon berbunyi, ” kami dari perusahaan A, ini benar dengan bapak Ombi. Bla bla bla”, ujar salah satu Human Capital Strategic sebuah Perusahaan Multinasional. Kemudian beberapa waktu lagi, ” Kami dari perusahaaan B, bla bla bla bla”, ujar salah seorang karyawan bagian SDM dari Perusahaan Multinasional B. Selanjutnya, realita yang sama saya rasakan di tempat kerja sendiri, masih belum bergerak, stuck saja, belum berkarya banyak ditambah lagi cuti sudah minus banyak. Kuliah juga belum usai, target kelimpungan dan akhirnya vertigo hehe. Seketika sih hilang sudah beban ketika melihat si buah hati terus tumbuh dan berkembang, sampe ngajak main jam 2 pagi. Wonderful sekali, masa-masa Golden Age, jadi nikmati saja semuanya. Hadza Min Fadhli Rabb.

Semua memang skema terbaik dari Rabb yang maha sempurna. Iya, bagaimana tidak, kadang hanya bergumam saja, secercah harapan baru kadang datang dan menawarkan perubahan. Namun, kadang masih belum yakin untuk bergerak. Iya, karena pertimbangan dan perimbangan saja. Maklum sudah memasuki era cicilan menjadi wajib. Dulu sih saat single, cicilan bukan wajib, sunahpun tidak, apalagi mubah. Haram kali ya, karena tak berpikir ke arah sana, iya, punya asset casino misalkan, yacht atau properti melimpah. Totally salah planning hehe, Padahal harga properti tiap senin naik. Bayangkan saja jika ada setahun ada 84 hari senin, kemudian naik 0.5%, sudah 42% kenaikannya tiap tahun, sedangkan penghasilan hanya mengikuti inflasi dan merit increase, jawabannya Kenaikannya Ngaco hehe. Makanya wajar 2,8 juta Milenial di Jakarta tidak sanggup beli rumah ( World Bank & BPS). Harga properti di Indonesia yang saat ini didominasi untuk penduduk yang berpenghasilan Rp 12 juta ke atas. Sedangkan yang dapat dijangkau oleh penduduk dengan penghasilan Rp 7-12 juta, suplainya hanya 5% dari total suplai rumah yang ada di Indonesia saat ini. Sementara populasi masyarakat Indonesia yang paling banyak adalah yang penghasilannya Rp 5-10 juta (mencapai 105 juta orang), diikuti yang penghasilannya Rp 3-5 juta sebanyak 65 juta orang, lalu yang lebih dari Rp 10 juta sebanyak 62,5 juta orang, dan yang di bawah Rp 3 juta sebanyak 17,5 juta orang. Nasib jadi milenial ya, ditambah jika Jomblo, mati sudah hehe.

Sesekali melihat perkembangan di luar, ternyata dunia ini sangat dinamis. Anak sekolah yang perlahan menjadi dewasa sebelum waktunya, merokok seenaknya, hingga kadang ada dan meniru hal asusila dari tontonan yang tidak menuntun, sering dijumpai di beberapa sudut sempit kota. Terus berjalan menyusuri ruang sempit, perlahan pengap dan asap rokok mengepul, menambah sesak nafas dan pikiran saja. Bagaimana tidak, semua berjalan tanpa arah, tujuan, tuntunan hingga tanpa ada filtrasi yang kuat, roboh sudah paradigma yang ada tentang sopan santun, kemajuan bangsa hingga keberlanjutan yang terus semu dan membuat semua semakin banyak menyeka mata, pertanda hidup terus saja sulit, sesulit menahan kentut. Iya, karena jika ditahan-tahan, momentum sakit akan ada. Bahaya kan kalo tidak bisa kentut hehe *

Lampu merah yang perlahan menjadi hijau, padahal jelas merah. Tisu toilet yang digunakan selesai makan, dimana yang salah motor malah yang dikerubuti mobil, hingga Fenomena Raline Shah yang sah menjadi Komisaris di salah satu LCC negeri tetangga, lama-lama paradoks timbul. Bukan jadi karedok, tapi bikin gondok.

Bersyukur dan Berjuang

Apapun yang dirasakan sekarang adalah sebuah berkah tersendiri, punya sahabat yang tiada duanya, punya aktivitas yang bisa membuat orang begairah, aktivitas yang kita dibuat takjub karena inspirasi sederhana yang bisa melegenda, berkeliling negeri yang maha indah, kesempatan dan kesehatan yang terus diberikan dan semua-mua hal positif yang diraih, bukanlah alasan untuk tidak bisa bersyukur.

Sesekali diri ini terenyuh karena belum bisa berbuat banyak untuk orang lain, menderma dan terus berbaur, sontak inspirasi terkadang datang, bahwa berswafoto dengan orang-orang dengan senyum khas, bersemangat ganda dan terus berjuang dan bergerak dengan mereka, setidaknya adalah magnet tersendiri.

Hidup tak melulu tentang sebuah pencapaian, coba sesekali lihat perjalanan. Di sepanjang jalan dengan keadaan yang berliku padu, kemudian disuguhi pemandangan indah yang mengurangi kartisol menjadi endofrin, perjalanan yang menahan lapar seketika makanan tersedia dan makan bersama, perjalanan yang terus menempa diri, tak perlu menyumpahi, bahkan tak perlu melulu tentang kemewahan yang fana, demi dicap sosialita. Perjalanan mencari dan menggapai cita, perjalanan menemukan dan menjemput cinta, dan perjalanan naik dan turun, kemudian bak volatitilas menapaki tangga demi tangga untuk melangkah ke tangga rumah tangga, ah syahdu sekali kawan. Perjalanan Syahdu di Verlos Kamer ( selengkapnya ada di sini).

Pagi ini pun sedikit inspirasi dari atasan tentang integritas, etos kerja dan brainstorming lainnya, menjadi pagi yang tidak biasa. Beliau berpesan, ” Cari muka di saat kerja itu waktunya temporer, Kualitas diri dan kemampuan yang membuat semuanya direcall sempurna. Karena orang akan ingat dengan kemampuan kita, bukan muka kita”. Sedikit menggugah memang, di tengah badai tawaran perusahaan lainnya, yang juga menarik.

Biarkan semua berjalan sesuai pattern dan kaidahnya masing-masing. Sunatullah adalah keindahan-NYA

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s