Tukang Cukur Asgar : Tempat Legend yang dirindukan


img_2597
Asgar(Asli Garut), sebuah Brand yang melegenda dalam kancah tukang cukur di Indonesia

Tahukan kawan apa obat rindu yang paling ampuh? Makan, minum atau malah berlari? Bukan, obat rindu abadi adalah bertemu. Seperti rindu yang memuncah, perlahan rasa itu berakumulasi Hingga tak terbantahkan lagi, menyambangi dan siap-siap potong rambut *nah loh.

Jika melihat Fakta unik, sebenarnya Ada empat elemen yang bisa menundukan Presiden, pertama adalah ibunya, kedua adalah istrinya, ketiga rakyat dan terakhir adalah Tukang cukur. Karena jika tidak tunduk membahayakan gaya cukuran dan mengurangi presisi style bergeser ke arah afkir, Karena gagal sesuai ekspektasi.

Sejak kecil, saya diperkenalkan oleh Bapak saya tentang sosok yang dapat menambah kegantengan hidup. Iya, mamang-mamang Asgar. Mereka masih melekat sampai saat ini, Sama seperti lengketnya mie instan dengan Anak Kostan hehe. Sampai sekarang, Asgar tetep jadi preferensi utama dalam memercayakan rambut ini *sok artis hehe. Memang Garut setelah terkenal dengan Dodol, jaket kulit, coklatnya, Mojangnya *eh hingga domba dan dorokdoknya, kehadiran Asgar sebagai sebuah representasi baru dalam dunia per_Garutan. Top Mind banget deh pokoknya.

Datang disambut oleh musik Sunda yang kental sekali, sesekali musik METAL juga turut serta hadir di seantero Asgarist ( istilah untuk Asgar) *metal = Melayu total. Terpampang foto gaya rambut beserta peralatan perang, untuk menggunting rambut, macam sisir, gunting elektrik, sabun, pisau cukur dan lain sebagainya.

asgar.JPG
Ragam Top’s Collection untuk macam gaya rambut ( sumber: Footbal Tribe)

Gaya bisa diatur, sesuai dengan gambar-pun bisa. Suasanana yang merakyat, membuat kita jadi diri sendiri ( tidak termasuk kentut sembarangan ya maksudnya hehe). Selang setengah jam berlalu, kelar sudah potong rambutnya. Di tahap akhir ini dibutuhkan alat yang mengukur parameter kegantengan tadi, sehingga bagi yang narsis, perlu bukti yang valid lah, bagaimana impresi sebelum dan sesudah dicukur. Sesekali bobodoran atau hal-hal yang sedang hangat dibahas untuk membunuh sepi. Kebanyakan ujungnya malah tentang kampung halamannya, istri di kampung hingga panen padi. Seru, hingga waktu cepat berlari.

Ada layanan plusnya, yaitu FREE MASSAGE alias gratis dipijit, untuk meregangkan otot-otot dari kerasnya hidup dan kejaran cicilan yang kerap menghantui hehe, efek rileks dirasakan. Mungkin hal ini yang menjadikan sedikit perbedaan Asgar dengan salon-salon lain sejenis. Apalagi jika tukang cukurnya malah cucok, jadi bikin trauma deh.

SEJARAH ASGAR

asgar 2
Tampak depan identitas Asgar ( sumber ; Kompas)

Menurut berbagai informasi yang dihimpun, bahwa sejarah orang Garut dikenal dengan profesi tukang cukurnya diawali pada saat pemberontakan DI/TII di medio 1949 hingga 1950-an. Saat itu banyak orang Garut yang mengungsi ke berbagai tempat untuk menyelamatkan diri.

Untuk bertahan hidup, salah seorang di antaranya ada yang memilih menjadi tukang pangkas rambut. Melihat kesuksesannya banyak pemuda asal Garut, khususnya orang Banyuresmi, Wanaraja, dan sekitarnya yang kemudian mengikuti jejak sebagai pencukur rambut.

Fenomena menjamurnya profesi tukang cukur di kalangan pemuda Garut, saat itu membuat kejadian menarik di sidang perdana Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo yang merupakan pendiri Negara Islam Indonesia. SM kartosoewirjo pernah “Jangan sampai yang dihadirkan dalam sidang ini adalah Kartosoewirjo tukang cukur, bukan Kartosoewirjo pemimpin gerombolan” selorohnya.

Salah satu desa yang terkenal mencetak ribuan tukang cukur adalah Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Mereka merupakan tukang cukur andal yang bersebaran di berbagai kota seperti Bandung, Tangerang, Bekasi, dan tentu Jakarta. Seperti ditakdirkan, kehebatan mereka memoles penampilan rambut tak diragukan lagi, sebab pelanggan mereka adalah mulai dari masyarakat yang biasa mencukurkan rambut di bawah pohon hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Tokoh tukang cukur Desa Banyuresmi, Garut, Ali Rahman (51), punya cerita sejarah lebih rinci. Menurut Ali, sejarah Banyuresmi sebagai kampung tukang cukur sebetulnya dimulai tahun 1937 di Kampung Bantarjati, Desa Bagendit, Bayuresmi, Garut.

“Pendiri generasi pertama tukang cukur rambut dari Kampung Bantarjati ditunjuk oleh komandan tentara japan OKB yaitu Bapak Idi. Dia khusus mencukur tentara Jepang di Bandung dan Jakarta,” kata Ali.

Idi mengajarkan keterampilannya mencukur itu kepada saudara kandungnya Haji Indi. Namun pada tahun 1941 Haji Indi beralih profesi ke bisnis konveksi, sedangkan pangkas rambut ‘Serasi Delima’ diserahkan ke saudara kandungnya yaitu Idrus atau Endus. Dia sebagai generasi kedua dan mendapat julukan Big Bos Cukur.

Pada tahun 1949/1950, generasi ketiga yaitu Eman membuka lapak cukur di Mayestik, Jakarta Selatan dinamai Pangkas Rambut Mega Warna. Saat yang sama ada saudaranya, Iyod, membuka pangkas rambut di Rawangun.
“Pada tahun 1962 keterampilan seni cukur rambut mulai menyebar ke tetangga kampung,” lanjut Ali.

Begitu seterusnya keterampilan mencukur menyebar luas hingga se-Kabupaten Garut dan sekitarnya, bahkan keluar Pulau Jawa yaitu Makassar, Kalimantan, Bangka dan Palembang.

SIAP-SIAP GO INTERNATIONAL

Dikutip dari Kumparan, Kepala Desa Banyuresmi, Ahmad Hidayat (44), menyebut profesi mencukur sudah memberi pendapatan yang memadai bagi banyak keluarga di Banyuresmi. Saat ini ada sekitar 1.500 pemuda dan orang tua yang menjadi pencukur rambut asal Banyuresmi.

“Mereka menyebar dari Kecamatan Banyuresmi ada yang ke Bali, Batam, Kalimantan, Sumatera dan lainnya. Jadi nggak cuma di Kabupaten Garut,” ucap pria yang disapa Ayat itu kepada kumparan Selasa (3/1).

Sebagai kepala desa, Ayat sangat menyadari keterampilan mencukur rambut adalah potensi yang besar bagi kampungnya. Karena itu Ayat sedang menyiapkan program pelatihan bagi warga kampungnya agar lebih terlatih menjadi tukang cukur.

“Sekarang dari desa ini jadi program. Kami kerja sama dengan pihak ketiga sedang membangun tempat pelatihan untuk menggali potensi dan SDM warga. Bukan hanya bisa cukur, tapi dalam pelatihan ini juga dilatih bicara bahasa Arab dan utamanya Inggris,” papar Ayat.

“Proyeksinya go international,” imbuhnya mantap.

LESSON LEARNEDnya adalah untuk bahagia dan puas tidak perlu mahal. Pelayanan Prima dan Hasil Cukuran ciamik sudah barang tentu jadi nilai lebih tersendiri, ditambah sentuhan Pijatan akang Asgar yang bikin relaks, menambah deretan rating lainnya. Layak direkomendasikan lah, sama seperti jargon salah satu tempat makan, Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima. Benar-benar tempat Legend yang dirindukan

NB : Tulisan ini bukan tulisan berbayar ya , tapi testimoni langsung hehe

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s