#Jadi Bisa dengan Traveloka : Akhirnya Mimpi Wong Ndeso Terwujud. Alhamdulillah


IMG_2745.JPG
Dulu, terbang dengan pesawat hanya mimpi, sekarang dengan adanya Traveloka, terbang bukan masalah berarti ( foto: dokumentasi pribadi)

Rasa-rasanya dulu sering sekali melihat pesawat tempur latihan terjun di desa kami. Sebuah desa kecil yang berlokasi di Kabupaten Bogor, dengan area yang dikelilingi pohon kelapa dan pohon karet, tentara terjun bebas dan lepas. Rindangnya pohon, tak jarang menghambat parasut melaju ke tanah.

Berawal dari pengalaman melihat langsung pesawat tadi, selanjutnya mimpi saya kala itu adalah ” Kalo besar nanti, semoga bisa naik pesawat. Aamiin”. Sehingga, tiap pesawat yang lewat di atas langit, kami, para pemuda desa, dengan lantang berteriak ” Kapal, minta duit”, dengan template tersenyum riang di akhir ujaran. Ah, cita-cita yang kami anggap tinggi sekali waktu itu. Mengingat keterbatasan yang ada, sehingga kami tahu diri lah untuk banyak bermimpi. Karena sudah bermimpi saja sudah tolak ukur yang luar biasa.

Beranjak besar, sesekali ada harapan terwujud untuk bisa naik pesawat. Kans kami saat itu untuk lolos lomba Pekan Kreativitas Mahasiswa tingkat Universitas , karena masuk ke sepuluh besar dalam penilaian kinerja dalam Monitoring dan Evaluasi dari Kemendikbud. Gumam dalam hati, ” ya Allah semoga bisa naik pesawat, Pliss”, sambil terus optimis. Namun belum berjodoh, saat pengumuman akhir, malah terlempar jauh, hingga mimpi naik pesawat pun mesti ditunda lagi. Semoga ada jalan terbaik, celoteh waktu itu.

Tidak seperti generasi sekarang, yang banyak dimudahkan oleh teknologi. Generasi tahun 1990-an sebenarnya tahu betul, bahwa urusan terbang tidak semudah sekarang. Tinggal buka aplikasi, pilih tujuan, tanggal, kemudian tinggal bayar. Semenjak ada Traveloka, seakan perwujudan mimpi itu semakin mendekati kenyataan.

Waktu itu tiba, tepatnya tanggal 4 September 2015 adalah momen perdana menggunakan Traveloka. Pengalaman yang mengesankan, karena tujuan kali ini adalah Bima, Nusa Tenggara Barat. Keunggulan fitur Pesawat dalam Traveloka ini yang membuat saya susah berpindah ke lain hati. Dengan Fitur best price finder, buat traveler jadi banyak opsi tentang harga yang terjangkau, pengembalian jika tidak jadi terbang dengan 30 days refund guarantee, pilihan waktu dan penerbangan yang Easy Reschedule, sesekali ada promo tentang Price Alert, hingga flight reminder yang membuat orang pelupa seperti saya, bisa terus ingat, apalagi ini adalah perjalanan Travel Volunteer, untuk mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri Tadewa di Wera, Bagian Utara Bima, yang berdekatan dengan Gunung Sangiang.

Image-1
e-Ticket History dari Traveloka ( foto: dokumentasi pribadi) 

Setelah memesan tiket berangkat untuk penerbangan tanggal 4 September 2015 dan Pulang tanggal 7 September 2015, saya disuguhkan dengan pilihan maskapai dengan varians harga. Kemudian setelah memilih penerbangan, ada total harga, kontak detail, nama penumpang. Diakhiri dengan booking airline untuk memastikan penerbangan yang juga masuk ke email pribadi, dengan pilihan metode pembayaran transfer , kartu kredit, ATM, Beberapa Internet Banking Clicks, dan Beberapa Toko Ritel ( Alfamart, Indomaret dan AlfaMidi) untuk yang tidak terjangkau oleh layanan perbankan. Untuk Momen-momen tertentu, ada kupon yang bisa digunakan untuk diskon harga yang membantu menghemat dompet 🙂 . Setelah mengecek total harga dan transaksi yang akan dibayarkan via e-mail, selanjutnya ada jumlah pembayaran dan nomer rekening Traveloka. Setelah pembayaran akan ada e-ticket yang bisa digunakan sebagai check-in di bandara. Agar lebih paperless dan ramah lingkungan, e-ticket ini sangat membantu sekali dalam membantu menjaga lingkungan.

FullSizeRender
Suasana di SDN Tadewa, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima 

Singkat Cerita, perjalanan kali ini mengantarkan saya ke salah satu daerah yang fasilitas pendidikannya belum memadai, dimana siswa Sekolah Dasar kelas 6 saja ada yang belum bisa baca, fasilitas masih kurang dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi masih kurang. Besar harapan saya, setidaknya dengan kehadiran saya di sana , bisa sedikit mencerahkan. Salah satu imbal Jamaah dari Traveloka juga nih, yang alhamdulillah bisa mengantarkan saya ke sana. Travel Volunteer sendiri adalah sebuah imbal terhadap kebaikan negeri atas subsidi pendidikan yang sudah dilakukan pemerintah.

Welcome Middle Income Country, Indonesia Bisa

Masuknya Indonesia dalam strata Middle Income Country ( sumber: World Bank), sedikit banyak mengubah pola konsumsi dan investasi. Sehingga sedikit banyak menggeser pola-pola primer ke sekunder.

Mengutip tulisan dari Yuswohady, pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

The drivers

Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan.  Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#2. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#3. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#4. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#5. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.

Momentum Leisure Economy yang juga beriringan dengan sharing economy, membuat booming Traveloka Effect semakin luas. Dimana urusan trasportasi, akomodasi, hingga pulsa bukan urusan yang sulit. Kapanpun, dimanapun, asalkan ada akses internet, kita dengan muda menjangkau yang kita mau.

Sarapan Pagi di Jakarta, Makan siang di Singapore dan makan malam di Amsterdam , bukanlah hal yang aneh lagi bukan? #Jadi Bisa dengan Traveloka : Akhirnya Mimpi Wong Ndeso Naik Pesawat Terwujud. Alhamdulillah

Kangen apa yang bikin Seru?

Kangen pesen tiket di Traveloka sekaligus Eksplore banyak tempat sambil berbagi, karena Travel Volunteer, bikin nagih!!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s