Manusia setengah Bakmi


Malam ini sambil menikmati kopi di dekat alun-alun Ngabang, suasana malam ini agak sedikit sendu memang, karena hujan akan turun, karena gemintang tak kelihatan batang hidungnya. Saya, bersama teman yang asli Tayan, beberapa lagi asli Landak seakan berganti ritme menyeruput kopi, mengawali setiap pembicaraan demi membunuh keheningan malam.

Perkebunan sawit seakan silau menahan laju rindu. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari ini, saya belum pulang ke rumah, untuk sekedar jadi objek bullying bayi 10 bulan. Jadi sasak hingga jadi korban kelucuan dalam rumah tangga (KDRT). Tak jarang, tangan pun jadi objek gigitan. Sehingga cukup bukti jika divisum.

” Jadi gini mbi, dulu di sini adalah tumpukan kepala yang dihujam dan dipotong, berserakan. Semua warga mencekam karena perang antar suku. Usia saya waktu itu, seusiamu. Saya pun dengan tidak tega, mengemudi sambil melewati tumpukan tulang hingga tubuh yang berlumur darah, hingga kelu, tak ada rasa, waktu itu. Keadaan mencekam dan semua sporadis, saling bantai. Hingga tak ada sisa”, ujar Pak Ajo, saksi sejarah yang bercerita sambil asyik dengan dangdut koplonya, lirih dan mengemudi dengan kencangnya. Ia bercerita, dengan energiknya, hingga lupa, warna putih rambutnya mengalahkan semangat yang membara.

” Semoga saja nanti tak ada lagi peristiwa Sambas atau Sampit lagi ya Pak “, ujar saya. Sambil membayangkan peristiwa kelam, yang jadi titik awal konflik. 16 tahun lalu, darah bak air, mengalir deras karena hujaman badik hingga nangis, cukuplah kali ini saja. Jangan sampai terulang kembali.

“Adil Ka Talino

Bacuramin Ka Saruga

Basengat Ka Jubata ”

– Sebagai manusia kita harus bersikap adil terhadap sesama & Menjunjung tinggi kedamaian dan kekeluargaan

– Sebagai ciptaan Tuhan jangan melakukan tindakan yang dilarang oleh-Nya & Menikatkan nilai-nilai kebenaran

– Tidak takut mati dalam membela kebenaran karena hidup dan matinya manusia ditangan Tuhan.

( arti disadur dari sini : )

Filosofi suku Dayak yang saya dapat dari Wake ini, maknanya dalam sekali sebenarnya, hingga saling dalamnya hingga menguras pikiran dan menguras perut. Akhirnya, karena tak ada opsi, lahap untuk kembali memakan bakmi. Manusia setengah Bakmi mungkin tepatnya hehe. Karena susah kali melawan godaan akan mie ini.

Bakso, Nyummmm 

Karena makhluk bukanlah tempat untuk bertunduk, bahkan mesti bersilat lidah agar tidak dianggap cecunguk, mesti semua fana dan hanya seperti punuk.

Wahai diri,

Bagaimanapun,

Kapanpun,

Siapapun,

sebagai makhluk transaksional, manusia akan selalu punya probabilitas untuk berkhianat. Karena selalu berpikir untung rugi dalam setiap “transaksi” yang dilakukan.

Cukuplah Allah SWT, sebagai tempat berlindung dan berkeluh kesah. Tanpa tipu/tipu, apalagi PHP

Pagi bakmi, siang bakmi hingga malam bakmi, sudah cukup untuk mengantarkan typoid ini kembali jadi raja di tubuh.

Ah sudahlah, perjalanan ini ingin ku lanjut kembali. Bukan tentang mie dan bakso, bukan lagi tentang makan bakmi, tapi kebelet pipis 😅😅

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s