Memory itu Melekat : Jerigen Minyak Tanah


Foto diambil ketika saya, yang jadi tukang foto ibu-ibu kala itu, juga dapet kesempatan untuk difotoin juga
_Sebut saja ini the Law of Attraction

Ada kerinduan tersendiri dalam merangkai kata, hingga semua yang ada di otak, sementara dipaksa untuk berpindah Storage ke internet. Cukup tulisan thesis yang belum terjamah hampir setengah tahun. Ya Allah, bukan malas, tapi rasanya ingin menghardik diri sendiri, karena belum juga tergerak untuk dikerjakan. Semoga yang lain jangan πŸ˜‚πŸ˜‚.

Di tengah hamparan bauksit yang melimpah ruah, izinkan saya untuk melepaskan memory itu, hingga kekal dalam sebuah tulisan. Iya, karena jika dipendam, lama-kelamaan akan hilang tak berbekas.

Pemandangan di tambang bauksit
Salah satu Daerah pertambagnan Bauksit

Musim hujan yang merata di setiap daerah, bahkan di daerah lain ada yang terkena dampak banjir, banjir bandang hingga angin kencang, menambah duka kepada sahabat-sahabat lain di pelosok negeri sana.

Sore ini, di ekuator dengan suhu menurut Climate Data 24.2 derajat celcius. Suhunya dingin hangat, namun saat lihat aplikasi cuaca hari ini, ada di kisaran 33-38 derajat. Hujan memang, tapi tetep panas sekali jadinya hehe.

Pertanyaan kali ini adalah apa sih yang melekat selain risiko? Tiba-tiba spontan untuk menjawab memory/kenangan. Jika diamati, serasa memori itu melekat, namun pemeran, tempat kejadian, kondisi, hingga keadaan yang berbeda.

Tiba-tiba saja random terpikirkan tentang jerigen minyak tanah. Program konversi minyak tanah ke elpiji pada tahun 2007, setidaknya menghapus list mainan Kids zaman now untuk tahu, apa sih esensi untuk anak tahun 1990an serta korelasi dengan jerigen minyak.

Hei kawan, sini aku bisikan tentang memory indah ini. Saat kecil dulu, minyak tanah jadi alternatif Energi dalam rumah tangga selain kayu bakar, proses masak memasak, lampu minyak tanah hingga kompor minyak tanah, jadi raja pada waktu itu. Nah, saat minyak tanahnya habis, biasanya disuruh oleh orang tua kita dengan membawa jerigen untuk membeli di warung.

source: MRCI

Saat perjalanan di warung, hal-hal lumrah yang dilakukan adalah nendang-nendang jerigen pakai dengkul. Entah tujuannya apa, dari beberapa comment di Fesbuk, sebagian besar pernah merasakan momen legend itu.

Nah, sebagian lagi jadi kangen bau minyak tanah dan hal yang tak bisa dilewatkan, yaitu proses pencelupan karet gelang ke minyak tanah sehingga karet jadi merekah lebar. Ukurannya bisa 2-3 kali lipat dari ukuran asal.

Keisengan ini jadi kebahagiaan kala itu, Dimana karet hasil pencelupan ini pun jadi sengketa karena jadi ajang adu cepat untuk ambil pakai sapu lidi.

Dampaknya adalah didatangi orang tua kita, karena kompor minyak tidak menyala sehingga masak makanan tidak dilakukan. Dampaknya? Telat makan, karena ulah konyol, kelamaan di warung hehe.

Memory itu Melekat

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Salk Institute ini menemukan bahwa otak manusia ternyata memiliki kapasitas memori setidaknya 1 petabyte atau setara dengan 10 juta gigabyte. Jumlah itu diperkirakan setara dengan internet saat ini.

Kisah jerigen di atas hanya sebagian dari memory yang melekat di otak. Sampe akhirnya kita tertawa sendiri dibuatnya. Bagaimana tidak, ternyata itu konyol sekali jika kita Ulang sekarang ( jika mengikuti zaman, berarti zaman now adalah menendang tabung gas melon πŸ˜‚ *jangan dicoba di rumah ).

Kunci memory adalah keyword dalam instruksi di otak, sehingga bila kita recall, seakan semua nampak seperti layar Zordon di Power Ranger. Coba saja recall, kata *mantan*, mungkin penggambarannya tidak mau terulang πŸ˜…πŸ˜….

Lesson Learnednya adalah karena kenangan dianggap memory, jadi kalo bisa buatlah semua kenangan hal-hal baik semisal kenangan jadi relawan, kenangan jadi pengajar atau pendidik sehari, Program tiap hari berbaik hati ke sesama dan seterusnya, agar yang diingat adalah hal baik. Hal buruk cukup disimpan di tong sampah saja. Ingat semua jasa baik orang lain, tanpa perlu cela atas setitik kesalahan yang ia perbuat.

Btw, berhubung 5 Desember adalah hari Relawan. Jadi, Selamat hari relawan sedunia. Volunteer is ME, bukan Magister Ekonomi ya πŸ˜‚πŸ˜‚.

Semoga ME ( aka lulus kuliah) yang itu segera terwujud, Aamiin. πŸ’ͺπŸ’ͺΒ * karena doa di kala hujan, jadi waktu doa yang insya Allah terijabah


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s