Hari Ibu, Apakah perlu dirayakan?


IMG_0021
Mengikuti jalur yang ada atau membuat jalur baru, sama-sama hal yang perlu dipilih ( foto: dokumentasi pribadi)

Social Media hari ini ramai, semarak menyambut pergantian tahun yang semakin mendekat. Gelombang Pro Kontra pada peringatan ataupun perayaan pastilah bagai dua sisi mata uang. Semuanya berdasar dan beralasan, sehingga bukanlah hal yang perlu banyak diperdebatkan. Karena, akan banyak energi yang dihabiskan, untuk saling berselisih paham. Hal ini juga akan menambah konsumsi nasi, karena Indonesia menjadi salah satu negara tertinggi dengan konsumsi beras 103,02 kg/kapita.  Masih kalah dengan Vietnam dengan 232,5 kg/kapita , Thailand dengan angka konsumsi beras per kapita mencapai 163,2 kg dan China dengan 119,11 kg/kapita ( bisnis.com).

Bagaimanapun itu, sosok ibu adalah sosok sentral dalam setiap lini kehidupan. Ia mengandung, melahirkan, merawat hingga jadi madrasah terbaik yang menghasilkan banyak lulusan terbaik dari mulai Nabi Muhammad, Einstein hingga kita, yang terus dan berusaha untuk bisa jadi sosok terbaik di hadapannya. Tanpa tedeng aling-aling, Rasulullah malah menyebut ibu,ibu,ibu lalu bapak, bukan tanpa alasan yang pasti, berkat semua jasa “kerennya”.

Sebelum melihat lebih jauh tentang pro-kontra yang terjadi, yuk kita cek sejarahnya terlebih dahulu seperti dikutip dari Wikipedia berikut ini:

Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran,yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya.Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Di Amerika, Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Biasanya dilakukan dipekan kedua bulan Mei. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Hal ini karena budaya di barat, tak jarang mereka mengacuhkan orang tua, sehingga untuk hal-hal seperti ini dibuatlah secara seremonial.

Tak Hanya Indonesia dan Amerika, hari ibu juga dirayakan 74 negara lain di dunia.

Lalu, apa Urgensi Hari Ibu?

Sebagai turunan dari Kromosom X yang kuat, bolehlah Sperma Y (pria) bergerak lebih cepat, namun ukurannya relatif lebih kecil, sehingga umurnya lebih pendek. Sebaliknya, sperma X lebih kurang 3% lebih gemuk, bentuknya lebih bulat, dengan bentuk dan ukuran yang demikian, sperma X bergerak lebih lambat. Namun mereka memiliki daya tahan hidup yang lebih lama. Sperma Y dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama 12 hingga 24 jam, sedangkan sperma X sanggup bertahan hingga 2 hari. Hal ini diamini oleh Badan Pusat Statistik yang menunjukkan angka harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Survei yang dilaksanakan setiap tahun dan di setiap provinsi itu memperlihatkan hasil serupa: perbedaan angka harapan hidup perempuan dan laki-laki terpaut empat tahun. Pada 2010-2014, harapan hidup laki-laki ada di angka 68 tahun, sedangkan angka harapan hidup perempuan 72 tahun. Sementara tahun 2015, baik laki-laki maupun perempuan mengalami peningkatan angka harapan hidup satu tahun.

Lumrah lah jika saya mengaitkan hal tersebut terhadap endurance dan kekuatan seorang ibu. Bisa kita lihat sehari-hari terutama saat kita masih serumah dulu, dimulai dari bangun paling pagi, menyediakan sarapan, merawat rumah ( dimulai dari mencuci piring, mengepel, menyapu), membantu mengerjakan pekerjaan rumah, membuat kerajinan ( semacam anyaman tradisional dengan bentuk kukusan atau mirip sedikit kerucut), hingga sesi konseling.

Jika saya kaitkan dengan realita rumah tangga, saya mengaku lebih payah daripada istri. Karena ia benar-benar total tanpa nonstop dalam menjaga anak saya, sedangkan saya, terkadang hanya bisa dipenghujung waktu dan itupun, saya anggap kurang berarti banyak dibanding dia. Biarlah semua selaras, karena masing-masing punya peran dan kita sebagai aktor, tidak bisa multitasking, kecuali ibu.

Ibu itu, sosok aneh yang rela mengalah demi anaknya dari kita kecil hingga dewasa, sosok rewel ketika kita remaja, sosok terbaik saat kita jauh dan sosok istimewa di setiap momen.

Ibu itu, sosok malaikat di bumi yang tak tergantikan, ia jadi motivator, pendorong, pengerek, sobat hingga teman curhat. Kadang anak lelaki macam saya ini, suka ngeyel ketika kecil dan nangis bombay, haru ketika tidak bisa berbuat, dan cengeng ketika beban hidup yang tidak apa-apanya berbanding terbalik yang ia rasakan.

Urgensi hari ibu hanyalah sebuah momentum sebagai reminder, sebagian hanya seremonial saja. Realnya kasih sayang kepada ibu ( dan bapak kita) tidak hanya berlangsung tahunan, tapi setiap hari setiap waktu, tiap detik, tiap menit, tiap jam dan selamanya. Pintu Surgamu sebenarnya nggak jauh-jauh lo,

” BERBAKTILAH pada IBUMU & BAPAKMU, dengan

  1. Muliakan dan senangkan hatinya ;
  2. Cukupi kebutuhannya
  3. Doakan kebaikan
  4. Ajak beribadah sama-sama menuju surga

 

Yuk jangan lupa kita sisipkan di setiap doa-doa kita

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Alloohummaghfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa

Artinya:
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”

 

Kesimpulan

Hal-hal berbau seremonial hanya sekedar retorika saja, karena untuk ibu ataupun bapakmu yang tidak punya social media, ucapan bombaymu di media sosial seakan tak berarti. Wong, nda punya sosmed, gimana bacanya hehe. Apalagi perihal sesuatu yang asal usulnya belum jelas, karena kekepoan akan hal ini dibutuhkan, agar kita tidak tuturut munding tanpa ada data yang jelas dan valid.

Ibumu atau bapakmu, hanya butuh kamu dan calon istrimu atau calon suamimu, atau mungkin doamu di hari ibu ini agar ibumu dan ibunya jadi besanan? Sudahlah, jangan terlena dengan hal-hal seremonial , mending makan sereal agar kenyang dan menguatkan hari-hari. Karena untuk jadi STRONG, perlu banyak energi hehe.

Selamat Berlibur!!

 

NB: Jika terdapat kesamaan peran, tempat maupun tokoh, bisa jadi bukan anda tapi bunga, mawar atau namanya hanya mirip. 

sumber:

^ Wardhani, Lynda K. (22 December 2010). “In observance of Mother’s Day”. The Jakarta Post.
^ a b seenthing (21 December 2010), Sejarah Perayaan Nasional Hari Ibu 22 Desembe
^ a b Chilla Bulbeck (2009), Sex, Love and Feminism in the Asia Pacific: A Cross-cultural Study of Young People’s Attitudes, ASAA women in Asia, Routledge, ISBN 9781134104697
^ Dalem Jayadipuran, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
^ a b Kathryn Robinson (2009), Gender, Islam and Democracy in Indonesia, ASAA women in Asia, Routledge, hlmn. 3, 36, 44, 72, ISBN 9781134118830

 

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s