Turn Back Hoax : Ayo jadi Generasi Zaman Now yang Kritis


hoax
Yuk lawan Hoax ( courtesy : Turn Back Hoax)

Pernah gak sih dapet kabar yang bikin kaget, terharu, tertegun,  terenyah, kabar gembira namun kabarnya palsu?

Pengguna telepon seluler (ponsel) di tanah air mencapai 371,4 juta pengguna atau 142 persen dari total populasi sebanyak 262 juta jiwa. Artinya, rata-rata setiap penduduk memakai 1,4 telepon seluler karena satu orang terkadang menggunakan 2-3 kartu telepon seluler. Sementara kaum urban Indonesia mencapai 55 persen dari total populasi ( Katadata, 2017/wearesocial.sg). Jadi, apapun kabar yang terjadi, informasi begitu cepat datang, sehingga tak jarang timbullah Hoax.

Apa sih Hoax itu?

Asal kata ‘hoax’ diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya, yakni ‘hocus’ dari mantra ‘hocus pocus’. Frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa ‘sim salabim’. Alexander Boese dalam bukuny, Museum of Hoaxes, mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu yang dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709. Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge. Agar meyakinkan publik, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya. Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan Partridge di mata publik. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga enam tahun setelah hoax beredar.

Menurut Kamus Cambridge, pengertian Hoax adalah

hoax
noun [ C ] UK ​ /həʊks/ US ​ /hoʊks/

a plan to deceive someone, such as telling the police there is a bomb somewhere when there is not one, or a trick:

The bomb threat turned out to be a hoax.
He’d made a hoax call claiming to be the president.

atau kira-kira seperti ini:

noun [ C ] UK ​ /həʊks/ US ​ /hoʊks/

sebuah rencana untuk menipu seseorang, seperti mengatakan kepada polisi bahwa ada bom di suatu tempat ketika tidak ada atau hanya sebuah tipuan:

Ancaman bom ternyata menjadi tipuan.
Dia telah membuat panggilan tipuan yang mengaku sebagai presiden.

Potensi Hoax

Peredaran gawai yang masif dan menyebar luas, secara tidak langsung menambah deretan kabar hoax. Karena tak jarang, orang sudah kelewat panik, sehingga langsung share tanpa tau kabar itu valid atau tidak. Hal ini hanya memperkeruh suasana saja, sehingga dapat merugikan orang lain. Potensi lainnya adalah dengan menyebar hoax bisa dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ( UU ITE).

Kabar tentang gempa bumi yang tidak semestinya, kabar bencana lain yang belum update, info-info yang ternyata menyesatkan, ujaran kebencian hingga kabar meradang, macam mantan menikah, secara psikologis mengganggu dan meresahkan, bagi yang belum mengecek kebenarannya.

Antisipasi dan Tips untuk Membedakan Hoax atau tidak

test
Kabar mantan menikah, ditikung hingga ditinggal nikah, mungkin bukan kategori hoax ( courtesy : @mbiesap)

Tenang potensi semua bisa diatasi dengan mudah sebenarnya, saya menyebutnya: CPNS, bukan CPNS pegawai negeri sipil loh, tapi

  1. Cek sumber

Hal yang perlu kita cek pertama adalah sumbernya, jika sumber meragukan seperti : info grup sebelah, info tetangga, info lainnya, perlu penelurusan lebih dalam. Karena bisa jadi ghibah/hoax/info palsu, sehingga ditahap ini adalah rem awal untuk memastikan dari mana asalnya.

     2.  Pastikan kebenaNan/validitas

Pada tahap ini, kita menguji daya nalar kita akan kabar sebenarnya, misalkan : dari kekuatan atau kedalaman ( satuan ukuran : meter, richter dll), potensi atau peta bencana ( misalkan : daerah pantai, kemungkinan kebakarannya kecil) atau ini kita sebut nearmiss. Hal lain seperti, konten, gambar dan waktu, perlu juga dipastikan, agar peristiwa yang sama tidak dikaitkan dengan berita lama, kabar lama hingga info lama.

     3. Share info

Jika benar-benar yakin, dari sumber terpercaya dan valid, tak ada salahnya untuk berbagi info. Hal ini sebagai informasi untuk yang belum mengetahui kabar, berbagi empati hingga menjadi pelajaran berharga. Karena segala sesuatu yang di luar batas kemampuan kita, ada tangan tak terlihat, Kuasa Tuhan/Allah SWT. Sehingga kita bisa lebih bijak dalam bertindak dan merasa, tiap waktu selalu diawasi, efek dari semuanya adalah rasa takut, yang bisa menambah keyakinan kita kepada sang khalik

Jadi Kuncinya adalah Cek sumber + pastikan kebenaran/validitas = share info ( aka CPNS), Biar gak jadi milenial yang hoaxers 😂😂. Ayo jadi Generasi Zaman Now yang Kritis. Daya kritis kita, setidaknya membawa kita kepada hal yang hati-hati, karena tabayyun itu sangat diperlukan. kecuali, untuk tabayyun atau kepoin mantan, mungkin tidak disarankan.

Waspadalah, bencana bisa jadi pelajaran berharga untuk kita mawas diri dan introspeksi diri, bencana pula bisa jadi sarana saling sapa, diantara komunikasi yang tertunda *eaa.

Selamat berlibur, Fellas!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s