Ada FREE Lunch loh di Zaman Now


“ There’s such thing as a free Lunch”

Suasana bukber kemarin, 14 Juli 2018 bersama teman-teman lain ( foto : dokumentasi pribadi)

Anomali Prinsip Ekonomi adalah sebuah istilah dari Milton Friedman, tentang “Tidak ada makan siang gratis” setidaknya terpatahkan oleh sosok ini. Siapa sih beliau saking istimewanya, hingga saya jumawa sekali membelanya?

Secara fisik, pria paruh baya ini, bukanlah mencirikan tentang seseorang yang punya banyak legacy atau warisan nilai bahkan ilmu. Tapi, bagi kami, beliau adalah sosok yang sangat istimewa. Karena tampilan fisik bukan indikator utama dalam penilaian seseorang, ” jangan lihat buka dari sampulnya”, kira-kira begitu.

Badannya sudah tak lagi muda, sudah lebih dari paruh baya, menginjak kepala lima. Kumisnya tipis melengking bak teriakan penyanyi rock n roll serta sedikit memerah karena tembakau yang setia mengasapi. Matanya tak lagi tajam seperti dulu, karena jarak pandang sekarang terbatas. Suaranya pun parau, tak seindah kontestasi Musabaqah Tilawatil Qur’an ( MTQ), yang ia akrabi dan ikuti dulu. Jalannya pun tak lagi cepat, kini mulai melambat seiring usia yang melekat. Hingga beberapa giginya pun mulai tak bisa membohongi, seiring dengan usia, mulai banyak yang bolong dan ompong.

Kami, para remaja mushola yang kini perlahan menginjak kepala tiga hingga beranak dua, Tempo Doeloe, 20-25 tahun ke belakang memang tak ada gambaran bisa mengaji. Karena tidak ada sumber daya yang bisa dikerahkan untuk itu ( mengajar mengaji, red) . Pun memang secara geografis, Tuhan sepertinya menciptakan daerah kami sebagai daerah terbelakang. Bagaimana tidak, hingga tahun 2017 pun, tempat tinggal kami, jadi daerah tertinggal kedua se-kecamatan Cileungsi. Sungguh, sebuah statistik yang buruk, untuk setidaknya menggambarkan betapa keadaan Tempo dulu tak jauh berbeda dengan sekarang, sama-sama daerah tertinggal, sama-sama belum bangkit dari keterpurukan. Jalan masih saja bolong, saat hujan aspal mencair bagai es coklat, kami masih bergantung dengan pertanian tapi milik pemilik lahan ( karena posisi sebagai penggarap lahan saja), kerajinan tangan seperti Kukusan, hihid (kipas), bakul, masih digeluti oleh sebagian generasi baby boomers ( alias generasi ayah-ibu kami), sisanya ada yang bergantung pada berdagang, menjadi buruh pabrik hingga jadi pengangguran baik terdidik dan non terdidik.

Perlahan, Pemuda istimewa ( 20-25 tahun ke belakang) itu menjelma jadi sesosok orang yang jadi kulo nuwun kami sekarang. Kami diajari abatasa hingga tajwid, nahwu shorof kitab-kitab fiqih hingga cerita pelajaran shiroh nabawiyah dan cerita perantauan beliau di tanah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, yang oleh sebagian dari kami, dianggap sebagai cerita keren, yang tiada tara. Seperti cerita fiksi Cinderlela atau cerita lain ala-ala Eropa yang menawan. Lagi-lagi karena, dari kami, ke Pasar Cileungsi saja, sudah perjalanan yang jauh dan membuat kepala kami pusing dibuatnya, apalagi ini, perjalanan antar pulau. Beda orang, beda kebudayaan, beda kondisi geografis hingga beda agama.

Dari kami, anak-anak nakal yang tak tahu diri dulu, sering sekali merepotkan beliau, hingga emosi membuncah. Dari mulai chaos saat mengaji, berisik saat menginap di mushola tiap pekannya, bermain petasan hingga beledukan ( sebuah permainan dari bambu petung, kemudian diberi minyak tanah) pun hal-hal lain yang sampai sekarang tertancap lekat di memory ( bukan memory daun pisang, nanti dikira judul lagu).

Apa imbalan kami dulu saat mengikuti pengajian beliau? Gratis alias tidak bayar, pun hingga saat ini. Keadaannya tidak jauh berbeda, beliau masih konsisten dengan prinsipinya, hingga saya pun, mesti bilang, ini anomali dalam prinsip ekonomi Friedman di atas dan fenomena langka dalam tatar tarbiyah, Lillahi taala. Karena kesaksian ini dialami dari generasi-generasi setelah kami, yang tak dipungut iuran apapun. Karena lazimnya, ustadz-ustadz ini menerima honor dalam setiap pengajaran, sebuah praktek umum pada tata pengajaran di sekolah formal.

Kami menyebutnya, Bang Encep, nama lengkapnya Encep Hasanudin. Pelafalan abang adalah sebuah kiasan bahwa tidak ada gap yang berarti dari kami dan ia, hingga jeda atau tingkatan seperti kasta tak membuat kami ragu atau sungkan belajar, bertanya dan mendengarkan. Jujur-sejujurnya, beliau adalah salah satu alasan kami, untuk terus melafalkan abatasa hingga maut nanti menjelang. Karena ilmunya, alhamdulillah berguna untuk dunia dan akhirat.

Alhamdulillah, tiap Ramadhan kami rasakan selalu istimewa, pun kami sempatkan untuk sekedar iftar jamaah, sambil berkelakar tentang realisasi fiqih2 yang dulu diajarkan ke kami. Perkembangan-perkembangan pengetahuan baru hingga isu-isu sensitif seperti isu kapan nikah, kapan punya anak hingga kabar ditanya kapan lulus. Senyum penuh liku, pilu dan RINDU, seakan jadi semangat kami untuk terus menancapkan ilmu2 yang telah kami terima ke generasi selanjutnya.

Dari beliau, kami belajar keikhlasan dan Istiqomah dalam berdakwah. Rupiah yang kami kumpulkan pada setiap pertemuan, seakan tak berguna jika dibandingkan dengan ilmu yang kami terima. Kami belajar ketegasan, bahwa memang hidup bukanlah area abu-abu, tapi segala hal harus dipilih dan ditetapkan keputusannya. Kami pun belajar, There’s FREE LUNCH yang kami dibuat kagum. No komersial , hidup qanaah dan terus berbuat baik walau keadaan tidak memungkinkan.

Perlahan kami sadar, pelajaran mimpi bisa terwujud dari cerita-cerita yang dulu kami anggap tabu, ternyata lama-lama menjadi doktrin yang kuat dan terpatri dalam relung. Hingga saat menginjakkan kaki di pulau-pulau yang dulu beliau sebutkan, seperti mimpi jadi kenyataan .

Semoga Allah SWT terus memberikan kesehatan dan kelancaran Rizkimu bang. Agar tetap terus berjuang demi agama Allah SWT dan tegaknya dakwah.

Dari kami yang Fakir.

Aloemnoes Mushola Nurul Iman


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s