“ Dari Relawan jadi REAL DREAM”


foto penyerahan sumbangan
bersama kita bisa, saat penyerahan bantuan kepada korban banjir di Cibingbin Kuningan Jawa Barat ( dokumentasi: pribadi)

Ada istilah menarik begini “ 1.000 teman terlalu sedikit1 musuh terlalu banyak”, cukup menampar saya yang punya target harian untuk menambah satu orang teman setiap hari. Hal ini saya lakukan guna menambah khazanah dan silarutahim baru, karena salah satu pintu rejeki kita plus menambah umur panjang. Alasan logis lainnya adalah karena saya orangnya agak kepo, jadi menambah teman adalah salah satu metode nanya tentang apapun dan paling efektif, dari nanya persiapan nikah, biaya nikah, setelah nikah, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, teknik, ngutang pulsa hingga minta mie dadak ( mie instan) di saat tanggal tua* alamak balada anak kostan sekali. Hingga kerasan sampai sekarang, kebiasaan kepo ini sudah saya tanamkan dalam diri, agar teman makin banyak dan terbentang di seluruh penjuru dunia.

Jika ditelisik dari sejarah pertama kali ikut kegiatan di Dompet Dhuafa Volunteer ( afiliasi dari Dompet Dhuafa) ada di tahun 2015, bermula dari searching dari beberapa NGO, yang kemudian saya coba untuk daftar jadi relawan. Maklum, saat itu berupaya untuk  cari cara menghilangkan post power syndrom setelah reses kuliah a.k.a lulus kuliah dan rehat dari organisasi semacam BEM/HIMA serta kegiatan lainnya. Sehingga untuk mencari-cari kegiatan selain cuci baju dan setrikaan di kala libur kerja, berseluncur mencari lingkaran positif dimulai. Dunia kerja berbeda sekali dengan dunia kampus, sehingga mau tak mau kecintaan akan bertemu orang baru mesti tetap terjaga, agar setiap pertanyaan yang timbul dari kekepoan, setidaknya bisa terjawab dan tak perlu mengandalkan mesin pencari lagi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Relawan berasal dari suku kata sukarelawan, yang artinya orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela ( tidak karena diwajibkan atau dipaksakan). Sehingga suka tidak suka yang mesti suka, suka dibully jomblo, suka dibully ndeso, suka dibully ganteng hingga suka dibully keren. Siapa sih yang rela dibully ganteng? Kan jarang selain diri sendiri dan orang tua kita *dilarang muntah ya hehe. Seiring waktu yang terus berputar cepat, hingga akhirnya, pertempuran pun dimulai, “ Tercebur di Lingkaran Positif Bernama Dompet Dhuafa Volunteer”.

Berawal dari adanya Penerimaan Voluntrip 2, saya mencoba mendaftarkan diri pribadi plus istri. Malang sekali nasib saya, justru istri yang diterima, sehingga mau tak mau merelakan istri untuk melenggang bebas ikut Voluntrip hehe. Voluntrip sendiri punya konsep unik dimana mengedepankan unsur kerelawanan plus jalan-jalan, ini strategi jitu untuk para milenial yang suka jalan-jalan. Sehingga cita-cita singkat waktu itu adalah ikut next Voluntrip selanjutnya. Melihat ekspresi keberangkatan istri plus kepulangannya di stasiun Bogor, serasa jadi energi baru, bahwa kegiatan ini mengasyikkan, ditambah foto-foto daerah eksotis yang belum terjangkau. Alhamdulillah pula, kabar baik datang, istri sudah hamil dan secara tak langsung si jabang bayi ikut Voluntrip bersama ibunya.

Waktu berselang, melewati musim durian hingga musim rambutan, musim jomblo hingga jomblo ditikung , musim pacaran lama tapi nikah dengan orang lain L *sedih jenderal. Pengumuman Voluntrip Round 3, dimulai setelah tanggal 6 November 2016 ada pengumuman lolos dan melenggang ke Purwakarta, beserta 30 orang lainnya.

Tak cukup banyak kata yang bisa diceritakan, karena mesti banyak banget kata yang perlu dibuat. Karena Kolaborasi aksi kesehatan, pendidikan, sedikit pemberdayaan, dan jalan-jalan adalah paket lengkap dan bonus yang didapat dari setiap kegiatan Voluntrip. Sehingga Addiktif yang didapat dari setiap kegiatan ini adalah ketagihan, sin/cos ( alias tanen hehe), rindu, terharu, syahdu, sendu, candu, tidak palsu, harmoni, manusiawi, menghilangkan ironi, menambah rasa syukur akan apapun yang kita miliki serta menambah dan menambatkan hati untuk jadi THE REAL RELA-wan.

Hal unik yang menambah seru lainnya adalah silaturahim yang terus terjaga, entah via offline maupun online. Tak Jarang diskusi-diskusi kecil menambah engagement berbeda dari kegiatan-kegiatan relawan lain yang saya ikuti. Setelah resmi tercebur, ditambah ikut beberapa aksi lainnya seperti International Voluntary Day, Voluntrip Round 4, SATU ASA ( walau saya tak aktif karena beberapa hal), hingga gathering semua relawan setelah idul Fitri tahun 2017 ini. Senyum-senyum ikhlas, pemikiran-pemikiran konstruktif, kerja cerdas dan pamrih hingga konflik-konflik positif dalam ide yang membangun, menambah deretan kekerenan lainnya.

Problematika bangsa yang tidak mungkin untuk diselesaikan semua oleh Pemerintah, adalah celah ataupun kesempatan nyata untuk bisa terjun bagi kita, para kaum terdidik, walaupun hal itu kecil ataupun tidak berarti untuk orang lain. Langkah-langkah kecil kita jika diakumulasikan adalah sebuah langkah besar jika dikalikan dengan rentang waktu yang juga terakumulasi.

Bagi saya, relawan itu bukan hanya seseorang yang dianggap tidak jelas.  Melainkan kehadirannya menambah aset intangible bangsa  dalam rangka meningkatkan kepedulian kepada sesama anak bangsa lainnya. Tidak memandang suku, ras,agama ataupun gologan apapun, rasa peduli dan kemanusiaan mesti terus ditanam dalam-dalam.  Survey yang disajikan dalam World Giving Index Report 2017 menempatkan Indonesia ke dalam negara kedua dari 139 negara di dunia dari segi kederwananan. Indikator diukur dalam tiga indikator yakni helping strangers (kerelaan menolong orang asing/belum dikenal), donate money (mendonasikan uang), dan volunteering time (meluangkan waktunya untuk melakukan kegiatan kerelawanan).

Setelah ikut tercebur dalam lingkaran positif, terus mengamati dengan aksi-aksi positif, konstruktif dan kekininan, semangat yang berkobar serta membara, kegiatan yang sistematis dan terukur serta mayoritas adalah jomblo, rasa-rasanya saya merekomendasikan mereka adalah calon menantu atau imam yang ideal *eaaa. Alasan untuk menjadi relawan adalah kompleks dan sering mengombinasikan altruisme dan kepentingan diri. Keinginan menolong orang lain dan mengekspresikan nilai-nilai yang dianut adalah alasan-alasan penting dibalik kesedian menjadi relawan. Kesempatan untuk mendapat keterampilan baru, bertemu orang baru, dan menambah pengalaman juga bisa menjadi alasan utama (Taylor, Peplau, & Sears dalam Shaleh, 2009).

Dari Menjadi relawan kita belajar banyak tentang cara bersyukur paling efektif yaitu berbagi kebahagiaan. Dari relawan kita jadi tau perspektif berbeda, dan dari menjadi relawan kita menemukan real dream kita, yaitu bertemu pujaan hati dan partner hidup. Karena tak jarang, witing tresno jalaran soko kulino ( cinta tumbuh karena terbiasa) , sehingga dari relawan jadi kawan (hidup). Sudah lumayan banyak [1] yang membuktikan, akankah kamu yang selanjutnya?  Dari Relawan jadi REAL DREAM, siapa takut!

[1] Belum ada penelitian resmi, tapi sampling beberapa sudah cukup mewakili


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s