Seputar alat ” Canggih” masa itu


 

Bagi sebagian orang desa, televisi menjadi bagian terpenting dari revolusi imajinasi yang merubah audio menjadi audio visual. Sehingga hal-hal imajiner yang biasa terdengar dari radio republik selama ini, bisa terpampang jelas dalam bentuk gambar. Emejing sekali memang, karena kok bisa seperti itu, ujar beberapa orang pada pertengahan tahun 1995-an.

Penduduk berbondong-bondong untuk menikmati sajian dan tayangan menarik tentang dunia dalam bentuk gambar bergerak di satu tempat tontonan. Karena pada zaman itu, membeli televisi sama saja mesti menukar beberapa sapi kesayangan demi benda “asing” yang menawan. Tak berlebihan, pada waktu itu hanya kepala desa dan orang terkaya di kampung yang bisa membeli. Sekalipun waktu menonton di batasi, tapi tak mengurangi antusias untuk menonton bersama.

Anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu hingga kakek-nenek, bercampur, menjadi satu kesatuan yang selaras, saling khusyuk menyaksikan film-film terbaik di zamannya, hingga larut dalam suka cita. Selepas melepas penat di pagi hingga sore hari, bekerja, berdagang, sekolah atau menganggur sekalipun, karena rata-rata penduduk desa tidak banyak yang mengecap bangku sekolah hingga tinggi. Mayoritas sampai sekolah dasar, karena  memilih melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya adalah melintasi jalan setapak dan mesti melewati tanah merah yang selalu mencair saat hujan datang dan menjadi bedak dikala musim kemarau tiba. Kebetulan, saat itu musim hujan mendominasi. Alhasil, perjuangan melawan jalan aspal yang mencair, akan lebih berat.

Lambat laun, seiring berkembangnya zaman. Kebersamaan itu hilang, karena warga lain bisa memiliki perangkat elektronik canggih itu satu persatu dengan harga yang lebih terjangkau pula oleh kantong. Tak mesti menukar sapi atau mengukur kebun sebidang untuk menbelinya, karena merek-merek Asia dan Eropa sudah banjir di pasaran, membuat harga semakin kompetitif. Bisa beli yang hitam putih atau berwarna sekalipun, adalah pilihan, dengan opportunity cost yang tak jauh beda. Perbedaan mencolok adalah semakin banyak pula stasiun TV muncul, hingga berjumlah belasan sampai sekarang.

Iklan-iklan dan industri kreatif pendukung lainnya mulai banyak tumbuh dan berkembang, karena permintaan dan penawaran sudah menemukan empu. Dimulai dari iklan sirup, iklan sarung dan iklan biskuit sebagai tanda bulan Ramadhan tiba hingga menjelang hari raya, iklan motor dan mobil, dengan bang Mandra sebagai ikonik trend pada masa itu, iklan minuman dan mie instan yang menggoda serta iklan rokok yang kadang masih menimbulkan tanda tanya besar hingga sekarang, karena selalu digambarkan dengan iklan-iklan petualangan hingga iklan yang menstimulus perokok aktif agar lebih bangga merokok, sehingga image yang ditampilkan pada layar kaca adalah kegagahan, kemapanan dan lain sebagainya, serta iklan sinetron berseries dan kartun, sebagai konsumsi dambaan ibu dan anak-anak kala itu.

Bagai sebuah pasar, ekuilibrium tercapai pada peak season atau primetime yang selalu diawali dengan dunia dalam berita. Keadaan waktu itu memang memaksa kita untuk tahu dan bisa mengerti tentang permasalahan dan kejadian terkini, agar cerdas dan update. Bukan seperti tayangan masa kini yang hanya sekedar mengejar rating belaka. Hingga kita tak bisa membedakan, mana binatang sungguhan atau manusia yang menjadi binatang. Sebuah kemunduran pastinya hehe, mengapa?

Di Hollywood saja binatang menjadi artis tanpa perlu menjadi manusia, sedangkan di Republik ini, manusia malah menjadi binatang dengan efek-efek bling-bling agar terkesan canggih, padahal malah norak sepertinya.
Di satu kesempatan, ada iklan yang tidak biasanya. Mempertontonkan kecanggihan sebuah perangkat yang tak biasa dilihat, bisa membuat tugas anak sekolah di Amerika sana bisa membuat decap kagum teman-teman sekelasnya. Di iklan tersebut diiringi lagu The Beatles yang melegenda, membuat pertanyaan besar timbul. Alat apalah gerangan yang dimaksud? Karena iklan hanya bilang Pentium Empat.  Bagi anak desa, yang kami tau adalah jenis-jenis ikan di sawah, bermain karet di hamparan luas kebun karet, menaiki kerbau hingga membajak di sawah serta bermain ketapel, menyasar burung-burung hingga sempoyongan, bukan Pentium empat ini.

Mbah Google pada zaman itu belum begitu trend, karena listrik saja masuk desa kami suka labil, sering mati dan gangguan. Setelah beberapa lama, ada berita di televisi tentang alat yang dimaksud. Ternyata alat canggih berikutnya setelah televisi itu, komputer namanya. Keren ya, alat ini bisa mengubah dunia sampai saat ini.

Pertama kali akrab dengan benda ini adalah saat semester dua di sekolah menengah pertama. Saat membaca list daftar pelajaran di ruang tata usaha, langsung membayangkan, apakah mirip seperti iklanlah benda ini? Seberapa canggihkah alat ini? Apakah iklan tentang anak kecil tadi bisa juga saya alami?

Teteret-teret, akhirnya berkenalan dengan benda ini menarik sekali. Bisa mengetik sesuatu Seperti mesin tik Brother di rumah, menonton film seperti fungsi VCD, main game seperti game watch, dan menghitung seperti kalkulator. Ah Tuhan, kok bisa ya alat ini terbentuk? Gumam dalam hati.

Kami dilatih mengetik sepuluh jari dengan mata tertutup, alhasil banyak kata yang tak sesuai, hanya menggambarkan alfabet dalam relung kemudian perlahan tapi pasti bisa terbiasa, bermain table dengan excel hingga memecah beberapa Formula. Ah, sungguh lengkap kebahagiaan pada waktu itu, ditambah lagi, kita dilengkapi oleh Disket, sebuah alat penyimpanan dengan memory 1,44 MB. Makin keren saja, karena tugas harian kami disimpan dengan rapi disana.

Setelah berkenalan lama, bisa disimpulkan dengan beberapa hal berikut:

  1. Komputer itu ternyata asyik ya, Alhamdulillah beberapa bulan setelahnya orang tua membelikan dan beberapa kali rusak hehe, karena kesalahan sendiri hingga motherboard sempat jebol. Usut punya usut, ternyata ditipu oleh rekan kerja ayah, sehingga memang komputer yang dibeli bukan barang baru, tapi second. Tak apalah, setidaknya belajar dan jadi tahu cara merawatnya dengan baik ;
  2. Mulai menggantikan fungsi mesin tik, namun perlu alat lain untuk mencetak yang dinamakan printer.  Harga Cartridge pada saat itu hampir jutaan, wow mahal sekali ya ;
  3. Saat menghidupkan timbul perasaan aneh, bagaimana cara mematikannya. Cara ekstim waktu itu langsung dicabut saja Seperti televisi. Salahkah? Mestinya dengan logika yang sama dan sama-sama alat elektronik, ya SOPnya begitu. Tapi fatal, sehingga mesti diservis lagi karena salah prosedur hehe. Mestinya memilih menu shut Down dan ada tulisan dalam bahasa Inggris lainnya, yang kalo sekarang bisa diartikan ” komputer Anda sudah aman untuk dimatikan “.

Tak sampai disitu, karena ternyata komputer bisa terhubung dengan dunia luar yang lebih luas, dengan internet. Indomie telur kornet, eh bukan. Namun butuh alat untuk menyambungkannya, dial connection dengan kabel telepon. Setelah diotak-Atik dengan beberapa petunjuk, providernya Telkomnet instan dengan iklan terkenalnya 0809 8 9999 dan di tempat teman SMA pula. Akhirnya sejarah berkata, itu adalah hari pertama mengenal internet dengan situs hantu yang menjadi situs pertama dikunjungi, sfogs.com, sebuah situs hantu tentang jenis-jenis hantu di Asia tenggara.

Seru sekali zaman itu, ketika Medsos tak sebanyak zaman ini, e-mail menjadi barang mewah, warnet menjadi tempat favorit, situs porno diblokir, tidak Seperti sekarang yang membahana dan menguasai konten internet. Revolusi benda canggih itu akan terus menerus timbul hingga semua yang kita anggap bias dan tak nyata bisa diwujudkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin dinamis. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju pula, proxy terampuh adalah agama dan moral, karena bisa mencegah negatif efek dari penggunaan  alat canggih lainnya dan keingintahuan yang tinggi untuk belajar adalah modal untuk menyesuaikan dengan percabangan yang ada. Karena yang bertahan itu bukan yang kuat, melainkan yang adaptif.

Perkembangan zaman akan terus menerus terjadi, sehingga kita dituntut untuk siap ikut serta dalam bagian perubahan-perubahan yang membawa kemaslahatan bersama. Seiring waktu, memang kadang kita merindukan suasana masa lalu. Terlepas dari Gadget yang membuat autis. Seperti hari ini, hari tanpa Gadget. Karena kita bisa lebih peduli dengan sekitar saat bepergian dengan interaksi, bukan hanya bermain virtual dengan gadget kita. Aslinya, kita Rindu masa-masa kecil kita.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s