14 purnama & Mas Pur : tentang seseorang 


Dan tentang seseorang,

Itu pula dirimu

Ku bersumpah akan mencinta

– Melly G

Hello, akhirnya setelah melewati 14 purnama, 1 kali gerhana matahari total dan beberapa bulan melewati pernikahan, kembali mengudara menyapa sahabat-sahabat semua.

Kali ini, tercium betul aroma sirup mar*an atau sirup alphabetic, sehingga bisa disimpulkan Ramadhan kali ini tidak dibangunkan oleh speaker masjid lagi, Alhamdulillah. No offense kepada siapapun yang belum, semoga yang belum menemukan penggenap, agar bisa genap. Sedih disebut bilangan ganjil, karena selalu ada dibayang-bayangi oleh kesendirian, apalagi saat sakit atau akhir bulan *curhat anak Kostan sekali.

Setelah 73.000 tahun yang lalu peristiwa meletusnya danau Toba telah menjadi catatan terbesar sejarah gempa dunia, akhir-akhir ini kita juga banyak digemparkan oleh berbagai isu lainnya, mulai ojek online, jodoh online, update aplikasi online hingga memunculkan start up, yang menuju digitalisasi transaksi serta mulai menumbuhkan reformasi yang struktural, sehingga keterbukaan informasi menjadi hal penting ditengah-tengah filtrasi akan sumber yang digemakan. Maklum, banyak isu positif dan negatif menyebar, seiring dengan haters, skuter hingga hidrometer, entahlah terlalu lama digoreng, media elektronik lambat laun menjadi memuakkan, karena hanya sekedar mengejar rating, bukan mengejar konten yang edukatif atau kalo bisa mengejar Mas-Mas dan Mba-Mba *lho hehe.

Kita berada di tahun 2042, Dimana penduduk bumi sudah berjumlah 10 Milyar jiwa. Kelahiran, kematian hingga perpindahan seakan menjadi pekerjaan rumah tiap negara, dalam kelangsungan ekonomi hingga kelangsungan hidup pemburu dapur hingga pemburu KRL hehe. Dimana sarana transportasi sudah menggunakan bullet train berbentuk kapsul, migrasi melalui perpindahan dimensi hingga teori akulturasi yang menyebabkan asal-usul suku sudah menjadi asimilasi yang simetris, menyebabkan tidak ada lagi perbedaan berupa SARA, hingga SARAS bahkan Isvana Saraswati *apalagi nih.

Satu purnama di Cileungsi mungkin bisa berbeda dengan purnama yang lain di tempat lain, apalagi purnamanya itu nama tukang bakso, martabak, cuanki hingga tukang pijat, karena bisa dihitung selama setahun berapa kali ada. Purnama oh purnama, bisa jadi dalam 14 tahun, jika seseorang bernama purnama akan bertemu 5.110 kali, wow keren hehe. Tidak seperti apa yang Rangga lakukan kepada cinta, Jahat cyin.

Terakhir bertemu di bandara, mungkin kalo sekarang tidak seromantis dulu karena bandara terlalu padat, apalagi dipenuhi anak alay dan anak gaoel, sehingga bisa jadi perpisahan itu tidak sedramatis film Korea atau film India versi anak gaoel dan anak alay tersebut. Hmmm, Mas Rangga juga tanpa perlu memeluk langsung karena si cinta adalah anak mentoring, sehingga bersentuhan tangan pun tidak diperkenankan hehe.

Rangga dan cinta, Ratna dan Galih, Rana dan Rani, Romi dan Juli, adalah karakter yang menggambarkan kontra LGBT, jika pro LGBT mungkin karakternya Rangga 1 dan Rangga 2, cinta satu dan cinta dua, bisa dibayangkan betapa garingnya kisah percintaan mereka yang tergerus oleh waktu, tertangkap trantib, hingga kamus besar bahasa Indonesia berubah drastis menjadi kamus besar bahasa Alay, paradigma yang menyesatkan, karena merubah fundamental yang ada.

Purnama, atau yang biasa dipanggil Mas Pur. Tinggal di sebuah pesisir kota, bercita-cita kuliah di Amerika, pemenang lomba puisi di SMA-nya, berteman “dekat” dengan cinta, dari cinta Penelope, cinta Laura, cinta fitri, cinta rupiah, cinta ibu, sekarang sedang merana, hingga gundah gulana, awas bahaya tak memakai celana, hingga angin membuat terlena, bahkan bisa gelap mata, karena fitrah bernama cinta.

Mas Pur, hanyalah seorang pemuda biasa, pendiam tanpa kata, sosok introvert terutama saat di toilet, bukan tipikal penyanyi kamar mandi, suka berolahraga terutama yoga, tidak suka susu tapi suka diperhatikan, tidak suka madu tapi hanya ingin dirindu, ah baper sekali Mas Pur ini.

Tatkala waktu menyibakkan misteri akan semua jawabannya, tetaplah bergerak hingga mencoba membuka hati dari semua keterpurukan yang ada. Asa, cinta, cita hingga cita-citata, selalu ada menemani setiap hari menuju waktu yang memang selalu menyeka dan berseri, menghilangkan intuisi dan merumuskan misteri.
Lambat laun, semuanya akan terjawab. Ku lari ke hutan kemudian teriak ku, tolong kesasar

Ku lari ke pantai, kemudian berenang ku, bang adek ndak bisa berenang, apalagi berlinang air mata karenamu

Pecahkan saja gelasnya, ups tapi tidak ada lagi gelas cadangan *anak kost banget kayakanya
Cinta,

Terima kasih menyatukan semuanya

Cinta,

Bukan kulit ari yang tipis, apalagi tulang pelipis

Cinta,

Dari tulang rusuk, hingga merasuk ke dalam lubuk

Cinta,

Menyatukan mimpi,

Hingga yang bersiaplah akan menepi

Cinta,

Bebaskan lah di angkasa

Hingga mendatangkan suka

Cinta,

Kadang membuat luka dan mabuk kepayang

Cinta,

Kepada hidup memberikan senyuman abadi

Cinta, lengkapi kita

Cinta,

C I N T A (gimik band metal)

Cinta,

Cara ingat semua n Takwa
Terus menarilah,

Terus bersyukurlah,

Tetap hiduplah,

Tetap memantaskan diri lah,

Tetap mengejar dan menjemput,

Tetap bertahanlah,

Tetap menepilah,

Tetap menggenggam harapan,

Tetap menggenggam tangan,

Tetap membawa bekal,

Tetap sarapan,

Karena cinta membutuhkan energi, cinta bisa diciptakan dan dimusnahkan (sementara dalam relung),

Cinta yang hakiki,

Cinta sejati,

Cinta Illahi.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s